ETIKA, AKAL, EKONOMI DAN POLIGAMI

Standar

Ilmu praksis dalam Islam meliputi tiga bidang utama: etika, ekonomi, dan politik. Etika adalah ilmu (seni) yang menunjukkan bagaimana seharusnya hidup.

Bahkan bukan sekadar hidup, melainkan hidup bahagia, ekonomi adalah manajemen rumah tangga, dan politik adalah pengaturan kemasyarakatan agar mencapai kehidupan bersama yang penuh kebahagiaan.

Semua ilmu praksis ini, oleh para filsuf muslim, dibicarakan dengan selalu merujuk pada basis teoritiknya (rasio teoritisnya) dan rujukan agama. Karena bagi para filsuf ini, ilmu praktis tidak bisa lain merupakan aplikasi dari ilmu-ilmu teoritik, termasuk ilmu metafisik.

Lanjutkan membaca

BERDAGANG

Standar

Berdagang adalah Usaha manusia untuk memperoleh dan meningkatkan pendapatannya dengan mengembangkan properti yang dimilikinya, dengan cara membeli komoditi dengan harga murah dan menjualnya dengan harga mahal.

Karena itu salah seorang pedagang kawakan melontarkan pernyataan yang populer untuk pengertian perniagaan dengan mengatakan “Aku ajarkan kepadamu tentang perniagaan dalam dua kalimat yang singkat : Membeli dengan harga murah dan menjual dengan harga mahal”. Dengan kalimat ini, maka terjadilah Perniagaan.

Lanjutkan membaca

PANTUN EKONOMI DAN BISNIS SYARIAH

Standar

Ekonomi nya Ekonomi Syariah
Bank nya ya Bank Syariah
Assalamu’alaikum warahmatullah
Wahai shalihin dan shalihah

Bersama kita berAmar Ma’ruf
Tidak lupa berNahi Mungkar
Ekonom Robbani mari ta’aruf
Semoga silaturahmi kuat mengakar

Ekonomi Syariah sangat fenomenal
Mengamalkannya bernilai Ibadah
Pertanda Islam tak lagi Parsial
Menggiring shaleh mencapai Falah

Lanjutkan membaca

KEKAYAAN ADALAH KUALITAS KEDUA

Standar

Ya. Kekayaan adalah kualitas kedua setelah Agama. Kekayaan tidak dijauhi melainkan diikat dengan nilai agama.

Imam al-Ghazali mengatakan Manusia harus berusaha, karena memiliki pendapatan dan kekayaan adalah hak asali manusia.

Doktrin ini mendorong umat Islam menciptakan pekerjaan untuk kebahagiaan dunia dan akhirat, yang menghasilkan wacana pengelolaan ekonomi yang lebih kaya.

Lanjutkan membaca

FENOMENA TUKAR MENUKAR UANG RECEH PLUS KEUNTUNGAN

Standar

Hidup manusia selalu terjebak kebiasaan, tanpa lebih dan kurang. Semua kebiasaan ini dianggap kebiasaan, dalam kerangka kebiasaan itu kita biasa menyebutnya sebagai benar.

Alfred Schulzt (filsuf fenomenologo sosial) menyebutnya sebagai We Wier Character (karakter kekitaan). Dalam karakter kekitaan ini, kita menyebut sesuatu sebagai benar bukan karena ia benar melainkan karena terlampau banyak orang yang melakukannya (di sini muncul asumsi: tak mungkin semua orang salah), dalam waktu yang lama (ada asumsi: kalau salah, pasti sudah lama diganti), dan dilakukan secara berulang-ulang (asumisnya: kalau tindakan ini salah, tidak mungkin diulang-ulang).

Lanjutkan membaca