Konsep Ijarah

Standar

Definisi Ijarah

Kata Al-ijarah sendiri berasal dari kata Al ajru yang diartikan sebagai Al ‘Iwadhu yang mempunyai arti ”ganti”, al-kira`, yang mempunyai arti ”bersamaan” dan  al-ujrah yang memiliki arti ”upah” atau al-itsabah (memberi upah). Misalnya aajartuhu, baik dibaca panjang atau pendek, yaitu memberi upah. Sedangkan menurut istilah fiqih ialah pemberian hak pemanfaatan dengan syarat ada imbalan. (Fathul Bari IV: 439).

Pengertian ijarah menurut pendapat Imam Mazhab Fiqh :

    1. Para ulama dari golongan Hanafiyah berpendapat, bahwa al-ijarah adalah suatu transaksi yang memberi faedah pemilikan suatu manfaat yang dapat diketahui kadarnya untuk suatu maksud tertentu dari barang yang disewakan dengan adanya imbalan.
    2. Ulama Mazhab Malikiyah mengatakan, selain al-ijarah dalam masalah ini ada yang diistilahkan dengan kata al-kira`, yang mempunyai arti bersamaan, akan tetapi untuk istilah al-ijarah mereka berpendapat adalah suatu `aqad atau perjanjian terhadap manfaat dari al-Adamy (manusia) dan benda-benda bergerak lainnya, selain kapal laut dan binatang, sedangkan untuk al-kira` menurut istilah mereka, digunakan untuk `aqad sewa-menyewa pada benda-benda tetap, namun demikian dalam hal tertentu, penggunaan istilah tersebut kadang-kadang juga digunakan.
    3. Ulama Syafi`iyah berpendapat, al-ijarah adalah suatu aqad atas suatu manfaat yang dibolehkan oleh Syara` dan merupakan tujuan dari transaksi tersebut, dapat diberikan dan dibolehkan menurut Syara` disertai sejumlah imbalan yang diketahui.
    4. Hanabilah berpendapat, al-ijarah adalah `aqad atas suatu manfaat yang dibolehkan menurut Syara` dan diketahui besarnya manfaat tersebut yang diambilkan sedikit demi sedikit dalam waktu tertentu dengan adanya `iwadah.

Dari definisi diatas dapat disimpulkan Ijarah atau jual beli jasa adalah suatu transaksi yang objeknya adalah manfaat atau jasa yang mubah dalam syariat dan manfaat tersebut jelas diketahui, dalam jangka waktu yang jelas serta dengan uang sewa yang jelas.

Ijarah adalah transaksi yang mengikat kedua belah pihak yang mengadakan transaksi yaitu pembeli dan penjual jasa. Artinya salah satu dari keduanya tidak boleh membatalkan transaksi tanpa persetujuan pihak pihak yang bersangkutan. Transaksi ini sah dengan semua kata-kata yang menunjukkan makna ijarah dalam tradisi masyarakat setempat.

Menurut Sayyid Sabiq,  Ijarah adalah suatu jenis akad yang mengambil manfaat dengan jalan penggantian

Landasan Hukum Ijarah

Al-Qur`an :

“Kemudian jika mereka menyusukan (anak-anak)mu untukmu, maka berikanlah kepada mereka upahnya.” (QS Ath-Thaalaq: 6).

“Salah seorang dari kedua wanita itu berkata, Ya Bapakku ambillah ia sebagai orang yang bekerja (pada kita), karena sesungguhnya orang yang peling baik yang kamu ambil untuk bekerja (pada kita) ialah orang yang kuat lagi dapat dipercaya.” (QS Al-Qashash: 26).

“Kemudian keduanya mendapatkan dalam negeri itu dinding rumah yang hampir roboh, maka Khidr menegakkan dinding itu, Musa berkata, Jikalau kamu mau, niscaya kamu mengambil upah untuk itu.”(QS Al-Kahfi: 77).

Hadits :                                     

Dari Aisyah ra, dia berkata “Rasulullah bersama Abu Bakar ra pernah mengupah seorang laki-laki dari Bani Dail sebagai penunjuk jalan yang mahir. Al-Khirrit ialah penunjuk jalan yang mahir.” (Shahih: Irwa-ul Ghalil no: 1409 dan Fathul Bari IV: 442 no: 2263).

Dari Ibnu Umar, bahwa Rasullah bersabda : “Berikanlah upah pekerja sebelum keringatnya kering” (HR. Ibnu Majah).

Diriwayatkan dari Ibnu Abbas, bahwa Rasulullah bersabda : “Berbekamlah kamu, kemudian berikanlah olehmu upahnya kepada tukang bekam itu”. (HR. Bukhari dan Muslim)

Dari Saad bin Abi Waqqash, bahwa Rasulullah Bersabada : “Kami pernah menyewakan tanah dengan (bayaran) hasil pertaniannya, maka Rasulullah melarang kami melakukan hal tersebut dan memerintahkan agar kami menyewakannya dengan emas atau perak”. (HR. Abu Dawud)

Dari Abu Hurairah, bahwa Rasulullah. Bersabada : “Barangsiapa yang mempekerjakan pekerja, beritahukanlah upahnya”. (HR. Abd. Razaq)

Ijma` Ulama :

Ulama telah sepakat atas kebolehan akad ijarah ini, dengan Kaidah : “Pada dasarnya semua bentuk muamalah boleh dilakukan kecuali ada dalilyang mengharamkannya dan Menghindarkan mafsadat (kerusakan/bahaya) harusdidahulukan atas mendatangkan kemaslahatan.

Ijarah itu ada dua macam:

Pertama, ijarah dengan objek transaksi benda tertentu semisal menyewakan rumah, kamar kost, menyewakan mobil (rental mobil, taksi, bis kota dll).

Kedua, ijarah dengan objek transaksi pekerjaan tertentu semisal mempekerjakan orang untuk membangun rumah, mencangkul kebun dll.

Syarat Sah Transaksi Ijarah

Pertama, pelaku transaksi adalah orang yang boleh mengadakan transaksi (baligh dan berakal).
Kedua, adanya kejelasan jasa atau manfaat yang dibeli semisal menempati suatu rumah atau pelayanan yang diberikan oleh pembantu rumah tangga.

Ketiga, adanya kejelasan nominal uang sewa atau gaji pekerja.

Keempat, jasa atau manfaat yang dijual adalah manfaat yang dinilai mubah oleh syariat. Ijarah tidak sah manakala jasa atau manfaat yang dijual adalah manfaat yang haram.

Kelima, jika objek transaksi ijarah adalah barang maka disyaratkan ada kejelasan barang yang disewakan dengan cara melihat secara langsung atau deskripsi yang jelas dan yang menjadi objek transaksi adalah manfaat barang bukan barangnya, barang tersebut bisa diserahkan kepada pihak penyewa, mengandung manfaat yang mubah serta yang menyewakan adalah pemilik barang atau wakil dari pemilik barang.

Beberapa Ketentuan Seputar Ijarah

Penyewa barang diperbolehkan memanfaatkan sendiri barang yang dia sewa dan boleh menyewakan barang sewaan tersebut kepada orang lain.

Jika seorang itu langsung naik bis kota atau taksi atau menyerahkan kain kepada penjahit atau menyewa kuli pengangkut barang tanpa ada transaksi dan kejelasan nominal uang sewa maka transaksi tersebut sah dengan besaran upah atau uang sewa sebagaimana umumnya uang sewa atau upah.

Semua yang haram diperjualbelikan itu haram disewakan kecuali benda wakaf, orang merdeka dan ummu walad (budak perempuan yang disetubuhi oleh laki-laki yang memilikinya dan melahirkan anak dari hasil persetubuhan tersebut).

Upah atau uang sewa wajib dibayarkan dengan adanya transaksi dan wajib diserahkan setelah masa sewa berakhir. Kedua belah pihak yang mengadakan transaksi ijarah boleh mengadakan kesepakatan bahwa uang sewa dibayarkan di muka atau di akhir masa sewa atau dengan cara cicilan.

Dalam ijarah seorang pekerja berhak atas upah atau gaji jika dia telah menyelesaikan pekerjaan yang menjadi kewajibannya secara sempurna dan professional. Pekerja semacam ini harus segera diberi upah begitu pekerjaannya selesai sampai-sampai nabi katakan sebelum keringatnya kering.

Barang yang disewakan semisal rumah kontrakan atau mobil yang disewakan itu boleh dijual oleh pemilik barang namun pemilik baru hanya berhak melakukan eksekusi fisik terhadap barang yang dia beli setelah masa sewa berakhir dan penyewa telah memanfaatkan barang yang telah dia sewa.

Pada dasarnya penyewa atau pekerja tidaklah memiliki kewajiban mengganti barang yang rusak yang diamanahkan oleh pihak yang mempekerjakan atau barang yang disewakan asalkan kerusakan barang tersebut bukan karena kecerobohan penyewa atau pekerja.

Segala sesuatu yang dapat diambil manfaatnya dan sesuatu itu yang tetap utuh, maka boleh disewakan untuk mendapatkan upahnya, selama tidak didapati larangan dari syari’at.

Dipersyaratkan sesuatu yang disewakan itu harus jelas dan upahnya pun jelas, demikian pula jangka waktunya dan jenis pekerjaannya.

Allah swt berfirman ketika menceritakan perihal rekan Nabi Musa as:

“Berkatalah dia (Syu’aib), Sesungguhnya aku bermaksud menikahkan kamu dengan salah seorang dari kedua anakku ini, atas dasar bahwa kamu bekerja denganku delapan tahun dan jika kamu cukupkan sepuluh tahun maka itu adalah suatu kebaikan) darimu.” (QS al-Qashash: 27).

Dari Hanzhalah bin Qais, ia bertutur: “Saya pernah bertanya kepada Rafi’ bin Khadij tentang menyewakan tanah dengan emas dan perak. Maka jawabnya, “Tidak mengapa, sesungguhnya pada masa Nabi saw orang-orang hanya menyewakan tanah dengan (sewa) hasil yang tumbuh di pematang-pematang (galengan), tepi-tepi parit, dan beberapa tanaman lain. Lalu yang itu musnah dan yang ini selamat, dan yang itu selamat sedang yang ini musnah. Dan tidak ada bagi orang-orang (ketika itu) sewaan melainkan ini, lalu yang demikian itu dilarang. Adapun (sewa) dengan sesuatu yang pasti dan dapat dijami, maka tidak dilarang.” (Shahih: Irwa-ul Ghalil no: 1498).

Segeralah dalam membayar upah para pekerja, Dari Ibnu Umair ra bahwa Rasulullah saw bersabda, “Berikanlah upah kepada pekerja sebelum kering keringatnya!” (Shahih: Shahih Ibnu Majah no: 1980 dan Ibnu Majah II: 817 no: 2443).

Dosa orang yang tidak membayar upah pekerja, Dari Abu Hurairah ra dari Rasulullah Beliau bersabda, “Allah Ta’ala berfirman: Ada tiga golongan yang pada hari kiamat (kelak) Aku akan menjadi musuh mereka: (pertama) seorang laki-laki yang mengucapkan sumpah karena Aku, kemudian ia curang, (kedua) seorang laki-laki yang menjual seorang merdeka lalu dimakan harganya, dan (ketiga) seorang laki-laki yang mempekerjakan seorang buruh lalu sang buruh mengerjakan tugas dengan sempurna, namun ia tidak memberinya upahnya.” (Hasan: Irwa-ul Ghalil no: 1489 dan Fathul Bari IV: 417 no: 2227).

Perbuatan yang tidak boleh diambil upahnya sebagai mata pencaharian.

Allah swt menegaskan :

“Dan janganlah kamu paksa budak-budak wanitamu untuk melakukan pelacuran, sedang mereka sendiri menginginkan kesucian karena kamu hendak mencari keuntungan duniawi. Dan barangsiapa yang memaksa mereka, maka sesungguhnya Allah adalah Mulia Pengampun Lagi Maha Penyayang (kepada mereka) sesudah mereka dipaksa (itu).” (QS an-Nuur: 33).

Dari Jabir Abdullah bin Ubai bin Salul mempunyai dua budak perempuan, yang satu bernama Musaikah dan satunya lagi bernama Umaimah. Kemudian dia memaksa mereka agar melacur, lalu mereka mengadukan kasus itu kepada Nabi saw. Kemudian Allah menurunkan firman-Nya: “Dan janganlah kamu memaksa budak-budak wanitamu untuk melacur maka adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (Shahih: Mukhtashar Muslim no: 2155 dan Muslim2 IV: 3320 no: 27 dan 3029).

Dari Abu Mas’ud al-Anshari ra “Bahwa Rasulullah melarang harga anjing, hasil melacur, dan upah tukang tenung”. (Muttafaqun ‘alaih: Fathul Bari IV: 426 no: 237, Muslim III: 1198 no: 1567, ‘Aunul Ma’bud IX: 374 no: 3464, Tirmidzi II: 372 no: 1293, Ibnu Majah II: 730 no: 2159 dan Nasa’i VII: 309).

Dari Ibnu Umar ra ia berkata, “Rasulullah melarang upah persetubuhan pejantan”. (Shahih: Mukhtashar Muslim no: 939, Fathul Bari IV: 461 no: 2284, ‘Aunul Ma’bud IX: 296 no: 3412, Tirmidzi II: 372 no: 1291 dan Nasa’i VII: 289).

Demikian tulisan singkat tentang Ijarah. Tulisan ini ditulis dari berbagai sumber. Tambah informasi anda melalui link yang penulis tampilkan di link referensi … wallahu`alam bishawab

One thought on “Konsep Ijarah

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s