Ijarah Muntahia bit Tamlik

Standar

Fatwa tentang Sewa yang Diakhiri dengan Pemindahan Kepemilikan. [Selanjutnya apakah fatwa ini juga mencakup akad ijarah muntahia bit tamlik yang digunakan oleh bank syariah, allahu ‘alam]

Berikut fatwanya :

Penjelasan Komisi Tetap Urusan Penelitian Ilmiah dan Fatwa tentang
Sewa yang Diakhiri dengan Pemindahan Kepemilik
an

Segala puji untuk Allah semata, shalawat dan salam untuk Muhammad yang tiada nabi setelah beliau, keluarga dan para sahabatnya, wa ba’du:

Sesungguhnya, Majelis Ulama-Ulama Senior Kerajaan Saudi Arabia (Haiah Kibar Ulama),
Setelah,

1. Mempelajari topik Persewaan yang diakhiri dengan pemindahan kepemilikan dalam Konferensi ke 49, 50, dan 51.

2. Setelah menelaah berbagai pertanyaan yang ditujukan kepada Ketua Umum Komite Penelitian Ilmiah Islam dan Fatwa, menelaah berbagai penelitian yang sudah ada seputar topik tersebut dari sejumlah peneliti;

3. Dan pada Konferensi ke 52 yang diselenggarakan di kota Riyadh, sejak tanggal 29 Syawwal 1420H, yang diawali dengan pemaparan seputar topik tersebut, setelah diadakan pembahasan secara seksama dan diskusi serta pertukaran pandangan, maka Majelis secara mayoritas menyatakan bahwa :

Sistem aqad ini adalah tidak dibenarkan secara syariat.

Alasannya adalah sebagai berikut :

1. Aqad transaksi ini menggabungkan dua aqad terhadap barang yang satu (jual-beli dan sewa) dimana tidak ada ketetapan pada masing-masing aqad tersebut; kedua aqad tersebut adalah berbeda dan saling bertentangan. Sebab, Jual-beli mengharuskan adanya perpindahan barang beserta hak penggunanaannya kepada pembeli. Maka, pada keadaan tersebut, tidak sah melakukan aqad sewa terhadap barang yang sudah dijual tersebut, karena barang tersebut sudah dimiliki oleh sang pembeli. Sedangkan, sewa mengharuskan berpindahnya hak pemanfaatan saja kepada penyewa. Jadi, Jual-beli mengandung arti barang dan pemanfaatannya menjadi hak milik pembeli, dan hilanglah hak penjual atasnya. Sementara itu, barang sewaan adalah milik pemilik sewa lalu berpindah kepada penyewa, kecuali jika telah habis jatuh tempo sewanya atau ia tidak lagi bisa membayar sewanya.

2. Pembayaran, ditentukan pembayarannya per tahun atau per bulan berdasarkan harga atau nilai barang yang disepakati; oleh penjual dianggap harga sewa untuk menetapkan bahwa barang tersebut adalah miliknya sehingga sang pembeli tidak bisa menjualnya lagi.
Contoh: Jika suatu barang pada saat aqad dihargai 50.000 Riyal, dan pembayarannya setiap bulan 1000 Riyal sesuai kesepakatannya dan ditetapkanlah cicilannya 2000 Riyal dimana harga cicilan tersebut sesungguhnya sebagian dari nilai harga barang yang jumlahnya akan mencapai harga yang sudah disepakati. Jika, suatu saat pembeli tidak bisa membayar cicilannya, misalnya, maka diambil/ditariklah barang tersebut karena ia dianggap sebagai penyewa dan semua cicilannya tidak dikembalikan karena ia sudah mengambil manfaat/menggunakan atas barang tersebut. Tidak diragukan lagi bahwa dalam transaksi ini ada kedhaliman dan pemaksaan hingga lunasnya cicilan.

3. Aqad transaksi semacam ini dan yang semisalnya juga mengakibatkan para fakir-miskin menyepelekan hutang-hutang mereka bahkan terkadang menyebabkan kebangkrutan.

Oleh karena itu, Majelis Ulama-Ulama Senior berpandangan agar masyarakat menempuh dua cara aqad transaksi secara benar dan sah, yaitu menjual barang dan menjaminkannya sesuai nilai harganya, meneguhkan diri dengan komitmen terhadap aqad transaksi dan agunan surat-surat berharga, atau yang semisalnya.***

Washallallahu alaa nabiyyina Muhammad wa Alihi wa Shahbihi wa sallam

Haiah Kibar Ulama

Ketua: Abdul Aziz ibnAbdullah ibn Muhammad Al-Syaikh

Anggota:
Shalih ibn Muhammad Al-Luhai dan Rasyid ibn Shalih ibn Khunain

Muhammad ibn Ibrahim ibn Jabir (Beliau memiliki pandangan berbeda)

Abdullah ibn Sulaiman ibn Mani’ (Beliau memiliki pandangan berbeda)

Abdullah ibn Abadurrahman Al-Ghudayyan

Dr. Shalih ibn Fauzan Al-Fauzan

Muhammad ibn Shalih Al-Utsaimin

Abdullah ibn Abdurrahman Al-Bassam (Tidak sepakat dengan pengharaman aqad tersebut)

Nashir ibn Hamd Al-Rasyid

Muhammad ibn Abdullah Al-Syubail

Dr. Abdullah ibn Muhammad ibn Ibrahim Al-Syaikh

Muhammad ibn Sulaiman Al-Badr

Abdurrahman ibn Hamzah Al-Marzuqiy

Dr. Abdullah ibn Abdul Muhsin Al-Turkiy

Muhammad ibn Zaid Al-Sulaiman

Dr. Bakr ibn Abdullah Abu Zaid

Hasan ibn Ja’far Al-’Atmy

Dr. Abdul Wahhab ibnIbrahim Abu Sulaiman

Dr. Shalih ibn Abdurrahman Al-Athram (Tidak hadir karena sakit)

Sumber: http://saaid.net/fatwa/f29.htm

Penerjemah: Abu Muhammad ibn Shadiq

http://siwakz.net/mod.php?mod=publisher&op=viewarticle&cid=46&artid=140

Baiknya, para pakar keuangan ekonomi syariah berdiskusi dengan para ahli fikih dan ahli hadits untuk membicarakan skema2 kredit dan pembiayaan yang syar’i. Karena sejauh ini, cap syariah tidak bisa dikatakan murni 100% syariah dan juga tidak bisa dikatakan 100% haram.

Al-Ijar Al-Muntahi Bit Tamlik (Penyewaan Yang Berakhir Dengan Kepemilikan)
Transaksi ini untuk awal kalinya terjadi pada tahun 1847 di Ingris. Mula-mula hanya dilakukan perindividu kemudian menjadi transaksi yang dipakai oleh banyak perusahan sehingga mulailah transaksi ini tersebar ke negara-negara lain. Pada tahun 1953 M mulai masuk ke amerika serikat dan tahun 1962 M masuk ke Prancis dan pada tahun 1397 H mulai masuk ke negara-negara Islam.

Istilah Al-Ijar Al-Muntahi Bit Tamlik adalah istilah yang baru dan tidak dikenal dalam buku-buku fiqh sebelumnya. Namun penjelasan dan hukum untuk setiap masalah pasti ada tuntunannya dalam syari’at Islam.

Berhubung karena pembahasan masalah ini membutuhkan uraian yang panjang dan mendetail maka kami akan berusaha menyebutkan kesimpulan-kesimpulan hukum bagi setiap bentuk dari Al-Ijar Al-Muntahi Bit Tamlik (penyewaan yang berakhir dengan kepemilikan).

Definisi
Al-Ijar Al-Muntahi Bit Tamlik (penyewaan yang berakhir dengan kepemilikan) adalah pemilikan manfaat dari suatu barang tertentu dalam jangka waktu tertentu yang berakhir dengan kepemilikan barang tersebut dengan sifat khusus dengan harga tertentu.
Contoh : Seseorang datang kepada seorang pedagang dan berkata : “Saya akan membeli darimu mobil dengan harga 100.000.000,- ini secara angsuran bulanan”. Maka si pedagang berkata : “Tidak apa-apa, tapi untuk menjaga hakku maka akad antara kita berdua adalah dengan bentuk penyewaan sebanyak 2.500.000,- perbulan selama 40 bulan, bila engkau telah menyerahkan sewaan terakhir maka mobil akan menjadi milikmu dan bila engkau berhenti maka mobil akan kembali kepada kami dan apa yang engkau bayar sebelumnya adalah terhitung upah sewaan”.

Hukumnya
Berikut ini, kami sarikan tentang hukum Al-Ijar Al-Muntahi Bit Tamlik (penyewaan yang berakhir dengan kepemilikan) dari keputusan Majlis Majma’ Al-Fiqh Al-Islamy dalam point-point berikut ini :

Satu : Al-Ijar Al-Muntahi Bit Tamlik (penyewaan yang berakhir dengan kepemilikan) mempunyai beberapa bentuk ; ada yang diperbolehkan dan ada yang tidak diperbolehkan dalam syari’at Islam.

Dua : Ketentuan Al-Ijar Al-Muntahi Bit Tamlik (penyewaan yang berakhir dengan kepemilikan) yang tidak diperbolehkan adalah bila terjadi dua akad sekaligus dalam satu waktu terhadap suatu barang[10]. Dan bentuk-bentuk yang tidak diperbolehkan adalah sebagai berikut :

1. Akad penyewaan berakhir dengan pemilikan barang yang disewa-sebagai ganti dari apa yang dibayar oleh penyewa selama selang waktu penyewaan-tanpa ada pembaharuan pegesahan akad, yaitu setelah berakhirnya waktu pembayaran secara otomatis penyewaan berubah menjadi pembelian/pemilikan. Contoh : seperti contoh diatas, bila penyerahan sewaan pada bulan yang terakhir yaitu bulan ke 40, mobil langsung berubah menjadi milik penyewa tanpa pembaharuan akad menjadi akad jual beli maka ini adalah bentuk yang terlarang.

2. Penyewaan barang kepada seseorang dengan upah sewa tertentu selama waktu tertentu disertai dengan akad penjualan kepadanya bila telah melunasi seluruh upah sewaan yang telah disepakati diselang waktu yang telah ditentukan atau disandarkan pada waktu yang akan datang. Contoh : Penjual berkata kepada pembeli : “Mobil ini saya sewakan dengan harga 2.500.000,- perbulan, bila engkau telah menyewa selama 40 bulan maka mobil ini telah engkau beli”.

3. Akad penyewaan sebenarnya dan digandengkan dengannya penjualan dengan pemilihan syarat yang sesuai dengan maslahat si pemberi sewaan dan dikreditkan sampai waktu tertentu yang panjang dan itulah akhir waktu penyewaan.

Tiga : Ketentuan Al-Ijar Al-Muntahi Bit Tamlik (penyewaan yang berakhir dengan kepemilikan) yang diperbolehkan adalah dengan dua perkara

1. Adanya dua akad yang saling berpisah satu sama lain pada suatu waktu yaitu adanya pembaharuan pengesahan akad menjadi akad jual beli setelah akad penyewaan atau ada janji pemilikan pada akhir waktu penyewaan dengan adanya kesempatan memilih yang sebanding dengan janji dalam hukum-hukum syari’at.

2. Hendaknya penyewaan betul-betul terjadi bukan hanya sekedar tirai penjual saja.

Dan bentuk-bentuk yang diperbolehkan itu adalah sebagai berikut :

1. Penyewaan yang memungkinkan bagi penyewa untuk mengambil manfaat dari barang sewaan tersebut sebagai balasan dari upah sewaan yang ia serahkan pada waktu yang telah tertentu dan setelah itu pemilik sewaan memberikan akad hibah terhadap barang tersebut. Contoh : Perusahaan alat tenaga listrik yang menyewakan alatnya selama 10 tahun dengan harga sewa yang telah disepakati, dan pemilik alat menjanjikan bila sewaan selesai maka alat tersebut diberikan kepada penyewa.

2. Akad penyewaan, namun pemilik barang setelah selesainya seluruh angsuran sewaan dalam selang waktu tertentu memberikan pilihan kepada penyewa dengan beberapa pilihan : Memperpanjang masa sewaan, memutuskan akad sewa dan mengembalikan barang sewaan kepada pemiliknya, Membeli barang sewaan tersebut dengan harga pasaran.

3. Akad penyewaan yang memungkinkan bagi penyewa untuk mengambil manfaat dari barang sewaan tersebut sebagai balasan dari upah sewaan yang ia serahkan pada waktu yang telah tertentu dan pemilik sewaan memberikan janji akan menjual barang sewaan tersebut kepada penyewa setelah menyelesaikan seluruh angsuran sewaan dengan harga yang disepakati oleh kedua belah pihak.

4. Akad penyewaan yang memungkinkan bagi penyewa untuk mengambil manfaat dari barang sewaan tersebut sebagai balasan dari upah sewaan yang ia serahkan pada waktu yang telah tertentu dan pemilik sewaan memberikan hak pilih bagi penyewa untuk memiliki barang sewaan pada waktu kapan saja yang ia ingin dengan akad baru antara kedua belah pihak sesuai dengan harga di pasaran.

Empat : Dhoman (Tanggung jawab, jaminan) barang sewaan bila terjadi kerusakan adalah atas pemiliknya bukan atas penyewa kecuali kalau berasal dari ketelodoran dan pelampauan batas dari pihak penyewa.

Lima : Kalau memang ada asuransi pada barang sewaan maka hendaknya dalam bentuk asuransi tolong menolong bukan asuransi perdagangan dan yang menanggungnya adalah pemilik sewaan bukan penyewa.

Enam : Hendaknya pada Al-Ijar Al-Muntahi Bit Tamlik (sewaan yang berakhir dengan kepemilikan) diberlakukan hukum-hukum sewa sepanjang masa sewaan dan diberlakukan hukum-hukum jual beli ketika barang sewaan telah menjadi miliknya.

Tujuh : Biaya perawatan selain dari biaya pengaktifan (seperti solar, bensin, oli dan lain-lain) selama dalam sewaan adalah ditanggung oleh pemilik sewaan bukan oleh penyewa.

Baca : Taudhihul Ahkam 5/64-67 (cet. Kelima), Qararat Wa Taushiyat Majma’ Al-Fiqh Al-Islamy dan Al-Mu’amalat Al-Maliyah Al-Mu’ashiroh oleh Khalid bin ‘Ali Al-Musyaiqih

Footnote :
[1] Dan demikiaan pula alasan yang ditetapkan dalam keputusan Hai`ah Kibarul ‘Ulama Saudi Arabia pada Daurah Ke 52 di kota Riyadh yang bermula tanggal 29/10/1423 H dan ditanda tangani oleh hampir seluruh anggota termasuk Mufti umum Suadi Arabia Syaikh ‘Abdul ‘Aziz Alu Asy-Syaikh, Syaikh Ibnu ‘Utsaimin, Syaikh Sholih Al-Fauzan, Syaikh Sholih Al-Luhaidan dan lain-lainnya

Sumber. http://an-nashihah.com/

One thought on “Ijarah Muntahia bit Tamlik

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s