Tamaknya Deposan Kakap

Standar

WAJAH Darmin Nasution terlihat kesal. Ia seperti marah. “BUMN itu apa sih kalau kerjanya terlalu banyak menyimpan deposito. Investasi dong,” ujar Gubernur Bank Indonesia ini.

Darmin pantas kesal. Bukan apa-apa, ada ratusan triliunan rupiah dana BUMN yang nongkrong di perbankan dalam bentuk deposito. “Banyak uang di BUMN, ratusan triliunan ditaruh dalam deposito. Itu kan pendek,” tambah Menteri Negara BUMN, Dahlan Iskan.

Banyak BUMN memang lebih tertarik menaruhnya uangnya di keranjang deposito. Selain berjangka pendek, bunganya juga tinggi. Selama ini disinyalir BUMN kerap meminta bunga deposito tinggi. Bank tidak ada pilihan selain menuruti. Maka itu, biaya dana menjadi mahal dan penurunan bunga kredit berjalan sangat lambat.

Lantaran dianggap sebagai penghambat penurunan bunga pinjaman, Menteri Negara BUMN Dahlan Iskan, Menteri Keuangan Agus D.W. Martowardojo, dan Gubernur Bank Indonesia (BI),bersepakatmendorongBUMN-BUMN mengalihkan sebagian penempatan dana mereka ke instrumen investasi jangka panjang. Jadi tidak melulu bergantung pada deposito.

Kebijakan ini memang berpotensi mengurangi jumlah dana pihak ketiga (DPK) bank dalam bentuk deposito. Tapi bank tidak perlu khawatir, sebab duit yang keluar itu akan masuk lagi ke sistem perbankan dalam bentuk giro, yang biayanya lebih murah. Maklum, setiap pembelian produk investasi, uang mereka akan tetap tersimpan di bank. Nah, agar BUMN pemilik dana besar ini tidak bermain mata dengan bank lain yang siap menawarkan bunga tinggi, pemerintah bisa meminta komitmen ke pengelola BUMN.

Selama ini sudah banyak yang tahu banyak deposan kakap menekan bank untuk mendapatkan bunga ekstra. Misalnya, suku bunga deposito yang dipublikasikan 7%, tapi setelah transaksi di bawah meja bisa melonjak menjadi 8%-9%.

Praktik-praktik semacam ini memang rawan penyelewengan. “Dulu ada beberapa penempatan dana jangka pendek yang fiktif. Misalnya, dana deposito, tapi nilainya fiktif, dana deposito yang diinvestasikan pada sekuritas tanpa sepengetahuan pemilik, atau dimasukkan ke instrumen reksadana yang tidak dijamin. Pola ini yang kerap dimainkan,” ungkap Wakil Ketua Komisi Keuangan DPR Achsanul Qosasi.

Dana Jamsostek

Dari riset yang dilakukan InilahREVIEW ditemukan, pada 2010 lalu ada lima BUMN yang menempatkan dananya dalam bentuk deposito di beberapa bank pemerintah. Jumlahnya Rp 76 triliun lebih. Dari jumlah itu, PT Jamsostek yang paling besar, yakni lebih Rp 31 triliun. Disusul kemudian PT Taspen sebesar Rp 20,5 triliun.

Hingga 2011 lalu, Jamsostek mencatat total dana investasi sebesar Rp 115 triliun. Untuk tahun ini, total dana kelolaan diperkirakan bisa mencapai Rp 125 triliun.Jamsostek menaruh 42% dana investasi di surat utang negara dan obligasi korporasi, 28,9% di deposito, 21% di instrumen saham, 7,5% di reksadana, dan sisanya di properti dan penyertaan langsung.

Menurut Direktur Kepesertaan Jamsostek, Ahmad Ansyori, pada 2011 lalu, obligasi Jamsostek membukukan hasil investasi Rp 4,7 triliun, saham Rp 3,5 triliun, deposito Rp 2,7 triliun, dan sisanya berasal dari reksa dana, properti dan penyertaan langsung.

Bakal Terus Bertambah

Itu baru Jamsostek, belum lagi BUMN-BUMN yang lain. Tahun lalu saja ada 17 BUMN yang sudah go public memperoleh untung bersih Rp 60,78 triliun. Ini artinya ada kenaikan 20% dibanding laba bersih tahun 2010 sebesar Rp 50,65 triliun.

Ke-17 BUMN itu adalah PT Adhi Karya, PT Aneka Tambang, PT Bank BNI, PT Bank BTN, PT Bank Mandiri, PT Bank Rakyat Indonesia, PT Bukit Asam, PT Indo Farma, PT Jasa Marga, PT Kimia Farma, PT Krakatau Steel. Kemudian PT Perusahaan Gas Negara (PGN), PT Pembangunan Perumahan (PP), PT Semen Gresik, PT Telekomunikasi Indonesia, PT Timah, PT Wijaya Karya.

Ke-17 BUMN itu menguasai 26% kapitalisasi pasar atau mencapai sekitar Rp 749 triliun dari total kapitalisasi 421 emiten yang mencapai Rp 3.100 triliun. Dalam 12 bulan ke depan, kapitalisasi pasar 17 BUMN tersebut diperkirakan akan mencapai Rp 960 triliun.

Maka tak salah kalau Menteri Negara BUMN, Dahlan Iskan bilang, ada ratusan triliunan rupiah dana BUMN yang ditempatkan di deposito. Menurut catatan Lembaga Penjamin Simpanan (LPS), total dana mahal alias deposito perbankan mencapai Rp 1.258,12 triliun. Jumlah itu berasal dari 2,95 juta rekening atau hanya 1,41% dari total rekening per Desember 2011. Total simpanan dana mahal ini naik 15% dibandingkan Desember 2010.

Firdaus Djaelani, Kepala Eksekutif LPS menduga, simpanan deposan kakap akan terus bertambah. Data LPS menyebutkan, besarnya porsi simpanan deposito tersebut berasal dari pertumbuhan simpanan pada segmen nominal di atas Rp 5 miliar yang mencapai 4,65% dari bulan sebelumnya. Total simpanan pada segmen tersebut mencapai Rp 1.159,39 triliun.

Simpanan dengan segmen nominal di atas Rp 5 miliar tersebut menyumbang 40,96% total simpanan. Padahal, itu hanya 49.482 rekening atau 0,05% dari jumlah rekening secara keseluruhan.

Berapa besar dana BUMN yang ada di situ? Belum jelas. Hanya saja Kepala Biro Pengaturan Bank BI, Irwan Lubis memperkirakan, potensi dana deposan kakap tahun ini bisa mencapai Rp 2.700 triliun.

Irwan benar. Apalagi aturan untuk menggeser dana jangka pendek milik BUMN ke dana jangka panjang belum juga keluar. Rentang waktu itu tentu saja terus dimanfaatkan para deposan kakap. Mereka akan terus menekan perbankan agar memberikan bunga deposito tinggi. Dan, itu keuntungan berlimpah buat si tamak.

Sumber. http://ekonomi.inilah.com

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s