SEKILAS PERJALANAN PERBANKAN SYARIAH DI 2012 DAN 2013

Standar

Informasinya laju pertumbuhan dan kinerja perbankan syariah tahun 2012 kemarin terhadang berbagai kendala. Pertumbuhan ekonomi nasional yang diperkirakan tidak sesuai target awal sebesar 6,5 persen, diyakini berdampak pada kinerja perbankan syariah.
Kali ini penulis akan meriview sekilas perjalanan bank syariah di tahun 2012 kemarin, dengan harapan ditahun 2013 ini akan lebih baik.
Pertama, Penarikan dana haji oleh kementerian agama, ini menyebabkan melemahkan kinerja perbankan syariah. Utamanya dari sisi dana pihak ketiga (DPK) atau dana nasabah. Untuk tahun 2013 ini, seiring dengan kebijakan Kementerian Agama yang kembali menempatkan dana haji di perbankan syariah sebesar 30 persen, berpotensi memperbesar aset dan penghimpunan dana perbankan syariah sekaligus memperbesar porsi pendanaan dan pembiayaan.

Kedua, Dana talangan haji (DTH), dimana banyak ulama diluar DSN dan MUI yang mempermasalahkan kehalalannya. Masalah sharia compliance ini, harusnya menjadi perhatian khusus banyak pihak baik praktisi dan akademisi agar perbankan syariah bisa terjaga eksistensinya.

Ketiga, Persoalan rahn (gadai) beragunan emas, yang sempat booming disebabkan oleh gugatan beberapa nasabahnya juga tak ketinggalan, dimana dalam prakteknya banyak pihak mengklaim bahwa akad rahn (gadai) atau qard (hutang) beragunan emas itu lebih condong pada pembiayaan spekulasi bukan pada pembiayaan jangka pendek yang mendesak. Ini dibuktikan dengan dikeluarkannya ketentuan dalam bentuk Surat Edaran (SE) Bank Indonesia No.14/7/DPbS perihal Produk Qardh Beragun Emas bagi Bank Syariah dan Unit Usaha Syariah pada 29 februari 2012 oleh bank indonesia. Banyaknya pembiayaan produk gadai yang spekulatif ini sangat mempengaruhi kinerja perbankan syariah dimana porsi dana ke pembiayaan rahn ini jauh lebih besar dibanding pembiayaan kesektor riil yang lebih mendorong maju dan lajunya perekonomian umat.

Keempat, Pada tahun 2012 diinformasikan oleh BI bahwa persentase pembiayaan perumahan dan kendaraan bermotor melebihi 3% di atas batas yang ditetapkan. Melonjaknya pembiayaan kesektor properti dan otomotif diperbankan syariah ini akibat dari Keputusan BI dan Menteri Keuangan yang mengharuskan masyarakat yang akan memanfaatkan kredit bank untuk membeli rumah atau kendaraan bermotor harus memiliki uang muka sebesar 30 persen dari total pembiayaan kepada bank konvensional, sementara untuk perbankan syariah tidak terkena, sehingga memiliki celah untuk menggunakan regulasi lama yang memperbolehkan uang muka sebesar 10 persen dari total pembiayaan. Namun bulan april tahun ini perlakuan sama akan DP juga akan berlaku untuk bank syariah. Pada kasus ini, bank syariah lebih banyak menggelontorkan DPKnya ke pendanaan bukan ke pembiayaan yang menjadi ruh perekonomian Islam.

Diawal tahun ini penulis memperhatikan berita-berita dimedia, dimana BI selaku regulator sangat antusias untuk memperhatikan sektor riil melalui pembiayaan UKM dan UMKM. Pelaku usaha juga bisa memperhatikan suku bunga atau nisbah bagi hasil yang ditetapkan oleh setiap bank untuk memilih bank yang diinginkan melalui informasi yang diberikan oleh bank terkait,  dimedia-media sesuai dengan himbauan BI bahwa setiap bank harus transaparan dalam informasi suku bunga dan nisbah (bagi hasil). Dengan harapan pertumbuhan sektor riil bisa lebih meningkat dari tahun kemarin.

Kendati demikian, aset perbankan syariah masih bisa bertumbuh sebesar 37 persen per Oktober 2012, dengan total aset mencapai Rp 179 triliun. Pembiayaan telah mencapai Rp 135,58 triliun atau sekitar 40,06 persen dan penghimpunan dana mencapai Rp 134,45 triliun atau 32,06 persen. Dengan proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia yang masih akan berada di kisaran 6,3 persen hingga 6,7 persen, Bank Indonesia optimis perbankan syariah masih bisa tumbuh di kisaran 36 persen hingga 58 persen.

Selain itu, penerapan ketentuan multiple license industri perbankan nasional akan berdampak pada kewajiban peningkatan permodalan bagi bank-bank nasional termasuk bank syariah untuk ekspansi bisnis ke depan. Dengan berbagai prediksi tersebut, total aset perbankan syariah tahun depan diperkirakan berada di kisaran Rp 255 triliun hingga Rp 296 triliun. Sedangkan penghimpunan dana pihak ketiga diproyeksi bisa mencapai Rp 168 triliun hingga Rp 186 triliun, dan pembiayaan bisa mencapai kisaran Rp 200 triliun hingga Rp 222 triliun.

Ditahun 2013 ini Gubernur Bank Indonesia Darmin Nasution mengatakan, arah kebijakan perbankan syariah akan mengacu pada tiga koridor yang saling terkait.
“Pemeliharaan stabilitas sistem keuangan, penguatan ketahanan dan daya saing perbankan, dan penguatan fungsi intermediasi,”.

Penulis berharap dari ketiga target yang hendak dicapai oleh BI dan perbankan syariah tersebut, adalah tidak kalah penting mengikis habis sharia compliance yang masih menjadi trending topik diskusi kampus sampai warung kopi …

SAY NO TO RIBA

Dari beberapa sumber.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s