INI BANTAHAN BUAT ANDA YANG MASIH MENGHALALKAN RIBA BUNGA BANK

Standar

Ada yang aneh setelah fatwa MUI tentang riba diluncurkan pada 16 Desember 2003, mengapa…? Karena sebagian besar masyarakat muslim menyambutnya dengan kepala dingin akibatnya Bank Konvensionak tetap jaya dan Bank Syari’ah pun tak kecipratan dana besar akibat rush (penarikan dana besar‑besaran) dari bank konvensional. Ada apa sebenarnya sehingga terjadi sikap dingin masyarakat terhadap fatwa MUI tersebut. Apakah memang masyarakat masih belum memahami agamanya secara mendalam sehingga betul‑betul belum faham bahwa bunga bank itu haram atau cuek alias masa bodoh mengenai fatwa tersebut atau masyarakat muslim lebih dominan memilih pendapat ulama minoritas mengenai hukum bunga bank.

Di tulisan kali ini, penulis tidak akan membahas masalah kepahaman ummat mengenai agamanya atau masa’ bodohnya mereka terhadap syari’ah mu’amalah, akan tetapi pembahasan kali ini akan memfokuskan pada sanggahan terhadap pendapat ulama minoritas atau ahli ilmu atau ekonom muslim tersebut terhadap penghukuman halal mereka mengenai bunga bank.

Ada beberapa alasan yang ditegakkan para ulama minoritas tentang bolehnya menikmati atau membayar bunga bank. Berikut alasan-alasan tersebut dan analisis hukum dan sanggahannya :

1. Bunga Bank Boleh Karena Darurat.

Bantahan Terhadap Argumen diatas.
Untuk lebih memahami pengertian darurat, kita seharusnya melakukan pembahasan yang komprehensif tentang pengertian darurat ini seperti yang dinyatakan oleh syara’ (Allah dan rasul-Nya) bukan pengertian sehari-hari terhadap istilah ini.

Imam Suyuthi dalam bukunya Al Asybah wan Nadhair ( الاشباه والنظائر ) menegaskan bahwa “darurat adalah suatu keadaan emergency di mana jika seseorang tidak segera melakukan sesuatu tindakan dengan cepat, maka akan membawanya ke jurang kehancuran atau kematian.”

Dalam literatur klasik keadaan emergency ini sering dicontohkan dengan seorang yang tersesat di hutan dan tidak ada makanan lain kecuali daging babi yang diharamkan, maka dalam keadaan darurat demikian Allah menghalalkan daging babi dengan 2 batasan ;ٌ

“Barangsiapa dalam keadaan terpaksa, seraya dia (1) tidak menginginkan dan (2) tidak pula melampaui batas, maka sesungguhnya Allah itu Maha Pengampun Maha Penyayang.” (Al Baqarah: 173)

Pembatasan yang pasti terhadap pengambilan dispensasi darurat ini harus sesuai dengan metodologi ushul fiqh, terutama penerapan al qawaid al fiqhiyah seputar kadar darurat.

Sesuai dengan ayat di atas para ulama merumuskan kaidah.
الضرورات تقدر بقدرها

“Darurat itu harus dibatasi sesuai kadarnya.”

Artinya darurat itu ada masa berlakunya serta ada batasan ukuran dan kadarnya. Contohnya, seandainya di hutan ada sapi atau ayam maka dispensasi untuk memakan daging babi menjadi hilang. Demikian juga seandainya untuk mempertahankan hidup cukup dengan tiga suap maka tidak boleh melampaui batas hingga tujuh atau sepuluh suap. Apalagi jika dibawa pulang dan dibagi-bagikan kepada tetangga.

Jadi untuk kasus sekarang tak ada alasan darurat, karena dalam kondisi darurat, kaum muslimin bisa terbantukan dengan adanya zakat dan sedekah dan untuk urusan bisnis, masih ada seribu alternatif yg halal.

2. Bunga Bank Boleh Kalau Tidak Berlipat Ganda

Bantahan Pertama.
Pendapat bahwa bunga hanya dikategorikan riba bila sudah berlipat-ganda dan memberatkan. Sementara bila kecil dan wajar-wajar saja dibenarkan. Pendapat ini berasal dari pemahaman yang keliru atas surat Ali Imran ayat 130.َ “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kalian memakan riba dengan berlipat-ganda dan bertaqwalah kalian kepada Allah supaya kalian mendapat keberuntungan.”

Sepintas, surat Ali Imran 130 ini memang hanya melarang riba yang berlipat-ganda. Namun pemahaman kembali ayat tersebut secara cermat, termasuk mengaitkannya dengan ayat-ayat riba lainnya. Secara komprehensif, serta pemahaman terhadap fase-fase pelarangan riba secara menyeluruh, akan sampai pada kesimpulan bahwa riba dalam segala bentuk dan jenisnya mutlak diharamkan.

Kriteria berlipat-ganda dalam ayat ini harus dipahami sebagai hal (حال) atau sifat dari riba, dan sama sekali bukan merupakan syarat.

Syarat artinya kalau terjadi pelipat-gandaan, maka riba, jikalau kecil tidak riba.

Menanggapi hal ini, Dr. Abdullah Draz, dalam salah satu konfrensi fiqh Islami di Paris, tahun 1978, menegaskan kerapuhan asumsi syarat tersebut. Beliau menjelaskan secara linguistik (ضعف) arti “kelipatan”. Sesuatu berlipat minimal 2 kali lebih besar dari semula. Sementara (اضعاف) adalah bentuk jamak dari kelipatan tadi. Minimal jamak adalah 3. Dengan demikian (اضعافا) bararti 3×2=6 kali. Sementara (مضاعفا) dalam ayat adalah ta’kid (للتأكيد) untuk penguatan. Dengan demikian menurut beliau, kalau berlipat-ganda itu dijadikan syarat, maka sesuai dengan konsekuensi bahasa, minimum harus 6 kali atau bunga 600 %. Secara operasional dan nalar sehat angka itu mustahil terjadi dalam proses perbankan maupun simpan-pinjam.

Menanggapi pembahasan Q.S. Ali Imran ayat 130 ini, Syaikh Umar bin Abdul Aziz Al Matruk, menegaskan ;

“Adapun yang dimaksud dengan ayat 130 Surat Ali Imran, termasuk redaksi berlipat-ganda dan pengguna-annya sebagai dalil, sama sekali tidak bermakna bahwa riba harus sedemikian banyak. Ayat ini menegaskan tentang karakteristik riba secara umum bahwa ia mempunyai kecenderungan untuk berkembang dan berlipat sesuai dengan berjalannya waktu. Dengan demikian redaksi ini (berlipat-ganda) menjadi sifat umum dari riba dalam terminologi syara (Allah dan rasul-Nya).”

DR. Sami Hasan Hamoud menjelaskan bahwa, bangsa Arab di samping melakukan pinjam-meminjam dalam bentuk uang dan barang bergerak juga melakukannya dalam ternak. Mereka biasa meminjamkan ternak berumur 2 tahun (bint makhad) dan meminta kembalian berumur 3 tahun (bint labun). Kalau meminjamkan bint labun meminta kembalian haqqah (berumur 4 tahun). Kalau meminjamkan haqqah meminta kembalian jadzaah (berumur 5 tahun).

Kriteria tahun dan umur ternak terkadang loncat dan tidak harus berurutan tergantung kekuatan supply and demand (permintaan dan penawaran) di pasar. Dengan demikian, kriteria tahun bisa berlipat dari ternak berumur 1 ke 2, bahkan ke 3 tahun. .

Bantahan Kedua.
Karena pendapat membolehkan riba/bunga kalo tidak berlipat ganda ini dibangun dari mafhum mukhalafah ayat 130 Ali ‘Imran. Maka argumen ini juga dapat dimentahkan dengan pandangan ushuluyyin yang telah sepakat bahwa qaid (keterangan) yang sudah ada faedahnya tidak ada mafhum mukhalafah-nya. Juga, mafhum mukhalafah dari ad’afan mudha’afatan bertentangan dengan mantuq ayat 278 Al-Baqarah. Dalam kaidah ushul fiqh dinyatakan bahwa apabila mafhum berlawanan dengan mantuq, maka yang dimenangkan adalah mantuq.

Perlu direnungi pula bahwa penggunaan kaidah mafhum mukhalafah dalam konteks Ali Imran 130 sangatlah menyimpang baik dari siyaqul kalam, konteks antar-ayat, kronologis penurunan wahyu, dan sabda-sabda Rasulullah seputar pembungaan uang serta praktek riba pada masa itu.

Di atas itu semua harus pula dipahami sekali lagi bahwa ayat 130 Surat Ali Imran diturunkan pada tahun ke 3 H. Ayat ini harus dipahami bersama ayat 278-279 dari surat Al Baqarah yang turun pada tahun ke 9 H. Para ulama menegaskan bahwa pada ayat terakhir tersebut merupakan “ayat sapu jagat” untuk segala bentuk, ukuran, kadar, dan jenis riba.

3. Bunga Bank Boleh, karena sifatnya produktif, bukan konsumtif.

Bantahan.
Argumen yang aneh, sebab kata riba dalam Alquran memakai al (al-riba). Fungsi al di sini adalah li al-jinsi atau li al-istighraq yang berarti umum. Jadi, mencakup yang produktif ataupun yang konsumtif. Menurut kaidah hukum Islam, mengeluarkan/mengecualikan sesuatu diperlukan dalil yang mentakhsis/mengecualikan, baik aqli maupun naqli. Adakah dalil yang mengecualikan dalam masalah riba? Membuat pentakhsisan tanpa dalil berarti membuat hukum sendiri (tahakkum).

4. Bunga Bank Boleh, karena pelarangan itu tidak ditujukan pada badan hukum namun individu dan hukum taklif.

Bantahan.
Ada sebagian ulama yang berpendapat bahwa ketika ayat riba turun dan disampaikan di Jazirah Arabia, belum ada bank atau lembaga keuangan, yang ada hanyalah individu-individu. Dengan demikian BCA, Bank Danamon, atau Bank Lippo, tidak terkena hukum taklif karena pada saat Nabi hidup belum ada.

Pendapat ini jelas memiliki banyak kelemahan, baik dari sisi historis maupun teknis ;

a) Adalah tidak benar pada zaman pra-Rasulullah tidak ada “badan hukum” sama sekali. Sejarah Romawi, Persia dan Yunani menunjukkan ribuan lembaga keuangan yang mendapat pengesahan dari pihak penguasa. Atau dengan kata lain, perseroan mereka telah masuk ke lembaran negara.

b) Dalam tradisi hukum, perseroan atau badan hukum sering disebut sebagai juridical personality atau syakhsiyah hukmiyah (شخصية حكمية). Juridical personality ini secara hukum adalah sah dan dapat mewakili individu-individu secara keseluruhan.

Dilihat dari sisi mudharat dan manfaat, perusahaan dapat melakukan mudharat jauh lebih besar dari perseorangan. Kemampuan seorang pengedar narkotika dibandingkan dengan sebuah lembaga mafia dalam memproduksi, mengekspor, dan mendistribusikan obat-obat terlarang tidaklah sama, lembaga mafia jauh lebih besar dan berbahaya. Alangkah naifnya bila kita menyatakan apa pun yang dilakukan lembaga mafia tidak dapat terkena hukum taklif karena bukan insan mukallaf. Memang ia bukan insan mukallaf tetapi melakukan fi’il mukallaf yang jauh lebih besar dan berbahaya. Demikian juga dengan lembaga keuangan, apa bedanya antara seorang rentenir dengan lembaga rente. Kedua-duanya lintah darat yang mencekik rakyat kecil. Bedanya, rentenir dalam skala kecamatan atau kabupaten sementara lembaga rente meliputi propinsi, negara, bahkan global.

BUNGA BANK DAN ARGUMENTASI ENTROPI

Apa itu Entropi ?

Secara teoritis konsep entropi diturunkan dari hukum termodinamika I dan II, yang bekaitan dengan transformasi dan konservasi panas. Entropi adalah besaran yang mengukur derajat ketidakaturan suatu sistem. Prinsip ini menyatakan bahwa sistem tertutup, termasuk alam akan menuju pada kondisi ketidakteraturan atau menjadi semakin tidak teratur. Semakin tidak teratur berarti semakin tinggi nilai entropinya, demikian juga sebaliknya.

Dengan kata lain, setiap benda karena entropinya meningkat dengan cepat secara alamiah akan menuju pada pembusukan. Untuk mencegah agar entropi suatu sistem tidak meningkat dengan cepat, maka diperlukan ikhtiar manusia melalui aplikasi iptek. Sebagai contoh cepat atau lambat hutan-hutan kita akan mengalami deforestasi secara alamiah sekalipun melalui proses pembakaran hutan, dll. Belum lagi deforestasi akbit tangan-tangan jahil manusia. Untuk mengurangi deforastasi, maka diperlukan perangkat pemantauan, evaluasi, pencegahan, pemadaman serta komunikasi, termasuk juga perangkat hukum dan penegakannya.

Ketika fisikawan mengatakan bahwa entropi bertambah, mereka menggambarkan kecenderungan dari semua sistem fisik menuju ketidakteraturan yang lebih besar. Prinsip fisika yang menjadi dasar hukum termodinamika ini telah diterapkan pada dimensi fisik dari kemakmuran pada tahun 1926 oleh Federick Soddy dalam Wealth, Virtual Wealth and Debt dan dikembangkan lebih detil oleh yang lain, terutama Niclas Goergecu-Roegen dalam The Entropy Law the Economic Processs (1971). Analisis-analisis ini mempunyai banyak implikasi dalam ilmu ekonomi. Hutang, Bunga Dan Deforestasi

Sistem ekonomi berbasis bunga bertentangan dengan hukum alam ini. Uang yang disimpan di bank dapat meningkat jumlahnya menuju tak berhingga. Sementara aset fisik akan meluruh menuju nol sesuai dengan hukum entropi. Federick Soddy dan kemudian dikembangkan oleh Nicolas GR dalam Entropy Law and The Economic Process (1971) mengambil contoh peminjaman roti. Kalau seseorang meminjam 100 iris roti pada tahun 20 M dan sepakat dengan bunga 5%, maka dalam sistem bunga-berbunga, setelah 2 tahun dia harus membayar sejumlah 110,25 iris roti. Bisa anda bayangkan, berapa iris roti yang harus dibayar pada tahun 1995. Jangan terkejut kalau jumlahnya adalah F=100 (1+0,05)1975 = 7,06 x 1043. Jumlah yang sangat fantastis. Tidak akan ada yang mampu membayarnya, bahkan jika setiap orang yang hidup di bumi berhasil menyimpan roti sebanyak 10 juta iris setiap hari selama hidupnya. Padahal realitasnya, roti pasti membusuk setelah beberapa hari. Fenomena yang ganjil, karena matematika yang digunakan bertentangan dengan realitas fisik kehidupan. Roti membusuk, sementara uang tidak. Roti bekerja mengikuti hukum alamiah-entropi, sementara uang tidak.

Sekarang, untuk membuat roti seseorang harus meramu sumberdaya alam dan energi pada tingkat keteraturan tertentu, artinya ia telah meningkatkan ketidakteraturan sumberdaya alam (SDA) dan lingkungan yang ada sebagai ongkos yang harus dibayar untuk membuat roti itu. Karenanya dapat dipahami jika semakin tinggi nilai suku bunga, maka dalam kasus peminjaman roti akan semakin besar jumlah roti yang harus dikembalikan, artinya semakin besar tingkat SDA dan lingkungan yang akan terjadi.

Miller, dalam Debt and the Environment : Coverging Crisis (1991) memprediksi bahwa penipisan jumlah SDA berkaitan secara eksplisit dengan pembayaran bunga atas hutang internasional. Brazil, Mexico dan Indonesia adalah negara-negara penghutang terbesar di dunia. Nilai hutang ini berhubungan dengan tingkat deforestasi Indonesia yang 1,6 juta ha/ tahun selama 10 tahun terakhir (Renstra Dephutbun, 2000). Karenanya menurut F. Soddy, dengan prinsip ribawi ini, yang kemudian akan merebak adalah semangat menggebu untuk mengubah kekayaan menjadi hutang agar dapat mengambil keuntungan masa depan darinya. Sebab kekayaan meluruh bersama waktu. Sementara hutang tetap, tidak berkurang, tidak perlu biaya untuk memeliharanya, bahkan memberi bunga terus-menerus. Berdasarkan prinsip finansial modern ribawi ini, negara maju akan terus maju melalui pemberian hutang. Mereka berkepentingan agar negara berkembang terus berhutang Fakta lain yang cukup ironi mencengangkan sebagaimana dipaparkan Hadi S. Alikodra (Republika 28/8/01) adalah kenyataan bahwa IMF (International Monetary Fund) yang secara ekspllisit mencanangkan perang terhadap penebangan hutan secara liar (deforestasi), ternayat dalam LoI (Letter of Intent) 1998 justru mendesak Indonesia untuk membuka ekspor kayu log (utuh). IMF telah berjanji untuk menghambat deforestasi di Indonesia dengan menetapkan 12 komitmen, yang sekaligus berlaku sebagai syarat bagi kucuran dana mereka ke Indonesia. Komitmen itu secara umum merupakan tuntutan agar terjadi proses pencegahan terhadap laju deforestasi.

Nyatanya, komitmen seperti ini sepertinya tidak pernah ada alias kontadiktif. Dengan desakan agar Indonesia mengekspor kayu dalam bentuk utuh, artinya sama dengan desakan agar Indonesia membuang uang sebesar 4 miliar dolar AS per tahun. Karena desakan tersebut akan menggenjot para penebang liar melakukan deforestasi senilai 4 milliar dolar AS per tahun. Logikanya menjadi aneh. Sementara kita mengemis pada IMF untuk hutang yang hanya 400 juta dolar AS, pada saat yangsama kita manut saja menghapuskan uang negara sebesar 4 miliar dolar AS per tahun dari deforestasi yang dipicu oleh ekspor log itu. Belum lagi kerugian lain dan dampak negatifnya berupa kerugian akibat kerusakan ekosistem hutan yang nilainya jauh lebih besar. Sungguh sangat tidak sebanding.

Ketahuilah kawan, bahwa riba atau bunga bank sangat bertolak belakang dengan tujuan syari’ah, yaitu kemaslahatan dalam segala aspeknya, duniawi dan ukhrawi. Bunga pinjaman bank konvensional adalah riba “nasi’ah” yang dipraktekkan di zaman modern. Indikatornya jelas, yaitu ketidakadilan, bertolak belakang dengan prinsip ta’awun, menciptakan kesenjangan sosiol-ekonomi antara pemilik dan peminjam modal serta merupakan salah satu sumber dari sekian banyak sumber keburukan ekonomi. Keburukan yang menyebabkan seringnya terjadi krisis ekonomi karena depresi, inflasi, monopoli, dan lain sebagainya.

Wallahu a’lam bish showab

Sumber.

1. Muh. Ihsan Hadi, ANTARA BUNGA DAN RIBA, Al Mukminun-Majalah, Rabu, 02 November 2011 http://www.almukmin-ngruki.com
2. Dr. Mulyanto, Argumentasi Sains atas Bahaya Riba.
3. Hilal Malarangan, SISTEM BUNGA DALAM BISNIS MODEREN (Suatu Analisis Berdasarkan Hukum Islam), Jurnal Hunafa Vol.4, No.4, Desember 2007.