RENTENIR DI HUJAT – BANKIR DI PUJA …?

Standar

Ada ungkapan : Jika anda ingin kaya raya dalam waktu singkat, jangan berusaha memelihara tuyul, tapi jadilah seorang rentenir. Kemudian timbul pertanyaan, apa beda bank dengan rentenir …? Jawaban terbaik adalah Bank hanyalah rentenir yang dilembagakan dan kemudian dilegalkan.

Riba atau rente, dilihat dari sistem ekonomi, adalah sistem yang dicela. Hal ini dilakukan pula oleh sebagian ahli-ahli ekonomi negara-negara Barat. Seorang ahli ekonomi Jerman bernama Dr. Sacht, bekas direktur Reich Bank telah memberikan penjelasannya ketika berkunjung ke Damaskus pada tahun 1953: “Dengan melalui perhitungan matematik yang mendetail, terbukti bahwa uang yang beredar di seluruh dunia, pada akhirnya akan menjadi milik segelintir para pemilik modal yang menjalankan sistem riba/rente. Sebabnya ialah karena pemilik modal selalu beruntung, sedangkan orang yang hutang terkadang mengalami laba atau terkadang rugi.

Oleh karena itu, berdasarkan perhitungan matematik, uang akan kumpul di pihak yang selamanya memperoleh keuntungan. Dan memang, pernyataan yang saya kemukakan ini benar-benar sedang berjalan menuju sasarannya. Terbukti sekarang, bahwa sebagian besar uang yang sekarang beredar di dunia adalah milik pihak-pihak yang melakukan sistem riba atau yang menguasai perbankan.


————————
Pemahaman yang salah, bila menganggap seorang rentenir di anggap pekerjaan kotor yang identik dengan istilah lintah darat, sering di hujat, jadi bahan olok-olokan, dan tentunya tak luput jadi gunjingan. Sedangkan pegawai di sebuah bank (bankir) dihormati, mendapat status sosial yang tinggi dan disegani. Malah banyak yang punya cita-cita sekaligus impian menjadi pegawai bank.

Pada dasarnya rentenir dan bank itu sama saja, mereka memiliki profesi untuk menjalankan proses utang piutang, dan mengambil selisih pembayaran dalam bentuk keuntungan. Mereka pedagang duit, tak ada duit tak bisa berdagang.

Ketahuilah, sebenarnya mereka adalah saudara kembar, cuma beda
penampilan. Jadi rasanya tak adil bila kita selalu menghujat rentenir, akan tetapi di lain pihak memuja para bankir.

Pada zaman dulu, modus rentenir dilakukan oleh perorangan, tanpa adanya kantor, pekerja (surveyor, kolektor bahkan “eksternal”) untuk mengurus tagihan hutangnya. Dan hanya mengandalkan asas percaya dan kenal saja.

Namun, rentenir gaya baru yang ada, mempunyai fasilitas yang tak terlihat bagai rentenir murahan, dengan mempunyai kantor yang mewah, perijinan sebagai lembaga keuangan, pekerja yang komplit (dari surveyor, kolecktor, eksternal). Bahkan mampu untuk “bermetamorfosa” dengan berbagai cara sehingga terkesan sangat bonafide sebagai lembaga pembiayaan yang menawarkan kemudahan, dan kecepatan dalam proses memperoleh pinjaman.

Rentenir lebih jahat dari lintah darat!
Rentenir juga bersifat predator, pemangsa manusia.
Kenapa rentenir lebih jahat dari lintah darat..? dan kenapa rentenir bersifat predator, pemangsa manusia..?

Ya, karena sifatnya yang tidak pernah puas itu, beda dengan lintah yang akan melepaskan diri dari mangsanya setelah kebutuhannya terpenuhi, sedang para rentenir tidak akan melepaskan begitu saja mangsanya, tidak ada sisi baiknya pula, hatinya mungkin dari batu sehingga sikapnya bukan dimaksudkan untuk membantu.

Padahal Allah menganjurkan agar para pemberi hutang mau memberi kelonggaran pada orang yang berhutang dan mengalami kesusahan dalam melakukan pembayaran sampai dia berkelapangan dan menganjurkan untuk melakukan penghapusan utang dengan cara menyedekahkan, karena itu lebih baik.
(Al-Baqarah [2]:280)

Lintah masih bisa digunakan untuk penyembuhan karena di dunia medis sekarang dikenal adanya pengobatan dengan lintah (Hirudo medicinalis) yang belakangan ini menjadi alternatif pilihan (Hirudoterapi), karena kandungan hirudin yang ada di liurnya mempunyai efek mengencerkan darah dan bahkan dikatakan juga bersifat antibakteri.

Sedangkan rentenir? Alih-alih mengobati, dia malah menimbulkan berbagai macam komplikasi bahkan bisa sampai mati.
—————
Rentenir, sebuah istilah klasik berasal dari bahasa Belanda: rentenier. Menurut Kamus Internasional (Osman Raliby, Bulan Bintang, 1982) berarti “pemakan riba atau bunga uang.” Semua agama samawi, mengharamkan riba, mengecam serta mengancam pemakan riba yang merupakan bentuk kezaliman terhadap sesama manusia. Riba memusnahkan semangat tolong menolong di antara sesama manusia.

Wayne A. M Visser dan Alastair McIntosh (1998 : 175 – 189) dalam A Short Review of the Historical Critique of Usury menjelaskan bahwa praktek riba setidaknya sudah berjalan sejak empat ribu tahun yang lalu dan selama sejarah itu pula, praktek ini dikutuk, dilarang, dihina dan dihindari. Kita biasa mengenalnya dengan riba (rente) atau pelepasan uang. Sedangkan orang yang melepaskan uang disebut rentenir. Konsep riba (rente) merujuk pada praktek pengisian kepentingan finansial yang sangat tinggi melebihi nilai pokok pinjaman. Jangka waktu pengembalian pinjamannya pun relatif pendek. Hanya dalam hitungan beberapa minggu.

Sejak lima belas abad yang lampau Islam mengumumkan “perang” terhadap ekonomi dan transaksi keuangan yang mengandung unsur riba/rente. Dalam Islam terdapat larangan memeras sesama manusia, baik menggunakan uang maupun barang-barang atau jasa-jasa lainnya sebagai alat pemeras.

Firman Allah SWT dalam Al-Qur’an : “Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan tinggalkan sisa riba (yang belum dipungut) jika kamu benar-benar orang-orang yang beriman. Maka jika kamu mengerjakan (meninggalkan sisa riba) maka ketahuilah, bahwa Allah dan Rasul-Nya akan memerangimu. Dan jika kamu bertaubat (dari pengambilan riba), maka bagimu pokok hartamu: kamu tidak menganiaya dan tidak (pula) dianiaya”.
(QS. 2 : 278 – 279).

Ketika menafsirkan ayat ini Abdullah Yusuf Ali dalam tafsir The Holy Quran memberi komentar, “Ini bukan perang pendapat, melainkan suatu ultimatum perang demi membebaskan mereka yang berutang dari perlakuan tidak adil dan memeras.” Oleh karenanya, “Riba mesti dikikis habis, sebab itu terpangkal dari kejahatan musyrik, kejahatan
hidup dan bernafsi-nafsi, asal diri beruntung, biar orang lain melarat. Islam menanamkan kasih sayang di antara yang kaya dengan yang miskin, dengan menyuburkan rasa shadaqah dan pengurbanan, sedangkan jahiliyah memberi kesempatan bagi si kaya menghisap darah si melarat….” tulis Prof. Dr. Hamka dalam Tafsir Al-Azhar , juzu’ III.

Islam dengan tegas dan keras melarang perbuatan terkutuk ini, dan
mengecam para pelakunya akan dijadikan penghuni neraka
selama-lamanya. Allah telah berfirman : “Orang-orang yang makan
(mengambil) riba tidak dapat berdiri melainkan seperti berdirinya orang yang kemasukan syaitan lantaran (tekanan) penyakit gila. Keadaan mereka yang demikian itu, adalah disebabkan mereka berkata (berpendapat), sesungguhnya jual beli itu sama dengan riba, padahal Allah telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba. Orang-orang yang telah sampai kepadanya larangan Tuhannya, lalu terus berhenti (dari mengambil riba), maka baginya apa yang telah
diambilnya dahulu (sebelum datang larangan); dan urusannya (terserah) kepada Allah. Orang yang kembali (mengambil riba), maka orang itu adalah penghuni-penghuni neraka; mereka kekal di dalamnya. Allah memusnahkan riba dan menyuburkan sedekah. Dan Allah tidak menyukai setiap orang yang tetap dalam kekafiran, dan selalu berbuat dosa”.
(QS. 2 : 275 – 276).

Rasulullah menjadikan para pelaku riba dan saksi-saksinya, serta mereka yang mencatat perjanjian itu, semuanya terlibat dalam dosa. Dan laknat Allah mencakup mereka semua, sesuai dengan hadits yang diriwayatkan oleh Abdullah ibnu Mas’ud. “Rasulullah melaknati pemakan riba, wakilnya, kedua saksinya dan pencatatnya (Hadits riwayat Turmudzi dan Abu Dawud)”.

“Jauhilah olehmu tujuh perkara yang merusak”. Para sahabat bertanya : “Wahai Rasulullah, apa saja tujuh perkara itu?” Rasulullah SAW, menjawab : “Menyekutukan Allah, sihir, membunuh jiwa dengan tidak ada alasan yang hak, memakan hasil riba, memakan harta anak yatim, lari dari ajang pertempuran melawan musuh agama dan menuduh berbuat zina wanita-wanita mukmin yang terpelihara kehormatannya”( Hadits riwayat Bukhari dan Muslim).
—————
Praktek riba (rente) dalam agama Hindu dan Budha dapat kita temukan dalam naskah kuno India. Teks – teks Veda India kuno (2.000-1.400 SM) mengkisahkan “lintah darat” (kusidin) disebutkan sebagai pemberi pinjaman dengan bunga. Atau dalam dalam teks Sutra (700-100 SM) dan Jataka Buddha (600-400 SM) menggambarkan situasi sentimen yang menghina riba. Sebagai contoh, Vasishtha, seorang Hindu terkenal pembuat hukum waktu itu, membuat undang-undang khusus yang melarang kasta yang lebih tinggi dari Brahmana (pendeta) dan Ksatria (pejuang) menjadi rentenir atau pemberi pinjaman dengan bunga tinggi. Juga, dalam Jataka, riba disebut sebagai hypocritical ascetics are accused of practising itâ. Pada abad kedua, riba telah menjadi istilah yang lebih relatif, seperti yang tersirat dalam hukum Manu, ditetapkan bunga melampaui tingkat hukum yang berlaku.
—————
Riba (rente) dalam Yudaisme sangat dicerca dan dicemooh. Kata Ibrani untuk bunga neshekh’, secara harfiah berarti “menggigit”. Pengertian ini merujuk pada bunga tinggi yang menyengsarakan. Dalam Keluaran dan Imamat, kata riba selalu berkaitan dengan pelarangan pinjaman kepada orang miskin dan melarat. Sementara dalam Ulangan, larangan ini diperluas untuk mencakup semua peminjaman uang. Selain itu, dalam kitab Talmud, dilarang mengambil bunga dalam beberapa jenis kontrak penjualan, sewa dan kerja. Larangan mendapatkan bunga tinggi tersebut tidak dianggap sebagai kejahatan dengan sanksi pidana mati melainkan hanya sebagai pelanggaran moral.
—————
Gereja Katolik Roma sejak abad ke-4 melarang pengambilan bunga oleh para kleru. Larangan ini diperluas bagi kaum awam pada abad ke-5. Pada abad ke-8, Gereja Katolik menyatakan riba menjadi tindak pidana umum. Gerakan anti-riba terus mendapatkan tempat selama awal Abad Pertengahan. Puncaknya, pada tahun 1311, Paus Clement V membuat larangan riba dan menyatakan bahwa semua undang-undang yang mendukung, batal demi hukum. Pada tahun 1891, Paus Leo XIII dalam Rerum Novarum”, riba dikatakan sebagai kerakusan. Walau sering dikutuk Gereja, praktek ini masih sering terjadi. Bahkan pada tahun 1989, Paus Yohanes Paulus II dalam Sollicitude Rei Socialis secara eksplisit menuduh praktek riba sebagai penyebab krisis dunia ketiga.
—————
Praktek yang sedang terjadi ini mengarah ke homo homini lupus, manusia yang kuat memangsa manusia yang lemah, manusia sebagai pemangsa manusia yang lain. Dan juga free fight liberalism, praktek liberalisme tarung bebas Orang yang sedang dalam kesulitan dieksploitasi oleh orang kaya.

Aristoteles pernah berkata pecunia pecuniam non paritâ, (uang tidak bisa melahirkan uang), karena uang sepatutnya dapat dihasilkan dari kerja dan usaha.

Tidak setiap orang memiliki kemampuan yang cukup untuk memenuhi kebutuhan dasarnya sehari-hari. Namun, bergaya hidup realistis sesuai dengan kemampuan finansial kita adalah cara terbaik untuk tidak terjebak ke dalam hutang, baik rentenir, kartu kredit, KTA dan sebagainya. Ubah mentalitas ke arah yang lebih baik dengan menekan gaya hidup konsumtif.

Wallahu’alam