“RIBA LOVERS” (Don’t Be Stupid Be A Smart Person)

Standar

‘Alawy Bin Ahmad Assaqqof berkata : Paling wajib dari semua perkara wajib adalah ilmu, dan paling besar-besarnya dosa besar adalah bodoh, karena taqwa yg menjadi sebab keselamatan dan kemulian tidak bisa diraih kecuali dengan ilmu.

Ibn Taimiyah, mengatakan bahwa orang yang mencari ilmu tanpa niat baik atau berniat baik tanpa ilmu atau melakukan keduanya tanpa mengikuti ajaran Islam adalah orang yang tersesat.

Ibn Khaldun menegaskan bahwa konsep pendidikan yang terpenting adalah pemahaman fakta, intepretasi keilmuan di segala bidang ilmu tidak boleh terlepas dari ajaran agama.

—————
Mengingat kebodohan adalah petaka, sepantasnya seseorang yang mengaku sebagai umat Islam yang baik juga adalah seorang ideologis dan berilmu karena Islam tidak bisa diterapkan tanpa ilmu. Baik dalam aspek ibadah maupun muamalah, sama-sama tidak bisa diterapkan tanpa ilmu pengetahuan.

Seseorang jika tidak mau belajar (hukum-hukum muamalat pen.), kadang-kadang jatuh ke dalam riba tanpa sengaja melakukannya, bahkan kadang-kadang masuk ke dalam riba yang tanpa diketahuinya berakibat terperosok di dalam keharaman.

Kebodohan seseorang tidak mengetahui hukum riba, tidak bisa memaafkan dia dari berbuat dosa dan tidak bisa menyelamatkan dia dari neraka, karena kebodohan dan kesengajaan itu tidak menjadi syarat timbulnya balasan atas dosa riba. Riba dengan semata-mata dilakukan oleh seorang mukallaf telah mewajibkan kepada adanya siksaan yang besar yang telah diancamkan oleh Allah jalla jalaluhu kepada para pelaku riba.

Khalifah ‘Umar bin Khaththâb Radhiyallahu ‘anhu pernah memperingatkan, “Orang yang belum belajar agama, sekali-
kali jangan berdagang di pasar-pasar kami”.

Sahabat ‘Ali bin Abi Thâlib Radhiyallahu ‘anhu pernah berkata, “Pedagang bila (pelaku bisnis) tidak faqih (paham agama) maka akan terjerumus dalam riba, kemudian terjerumus dan terjerumus (terus)”.

Ulama Abdul Sattar mengatakan, mengetahui hukum ekonomi Islam adalah dharuriyah (kemestian primer/utama) yang tak bisa ditawar. Jika tidak diketahui, maka dikhawatirkan sekali umat Islam akan terperosok kepada praktek  kebatilan.

Para ulama Islam sepanjang sejarah, khususnya sampai abad 10 H senantiasa melakukan kajian ekonomi Islam. Karena itu kitab-kitab Islam tentang muamalah (ekonomi Islam) sangat banyak dan berlimpah. Para ulama tidak pernah mengabaikan kajian muamalah dalam kitab-kitab fikih mereka dan dalam halaqah (pengajian-pengajian) keislaman mereka.

Menurut Husein Shahhatah, dalam bidang muamalah maliyah ini, seorang muslim berkewajiban memahami bagaimana ia bermuamalah sebagai kepatuhan kepada syari’ah Allah. Jika ia tidak memahami muamalah maliyah ini, maka ia akan terperosok kepada sesuatu yang diharamkan atau syubhat, tanpa ia sadari. (Buku Al-Iltizam bith-Thawabith asy- Syar’iyah fil Muamalat al-Maliyah,Mesir, 2002).

Dengan kalimat yang mudah, anda … :
Tidak boleh beraktifitas perbankan, kecuali faham fiqh muamalah.
Tidak boleh beraktifitas asuransi, kecuali faham fiqh muamalah.
Tidak boleh beraktifitas pasar modal, kecuali faham fiqh muamalah.
Tidak boleh beraktifitas koperasi, kecuali faham fiqh muamalah.
Tidak boleh beraktifitas MLM, kecuali faham fiqh muamalah.
Dan seterusnya.
—————
Kita pantas untuk prihatin, dimana kini, banyak umat Islam yang telah terperosok ke dalam praktek ribawi, yang anehnya mereka tak menyadari bahwa praktek itu paling terkutuk. Bahkan dengan tanpa dasar, perkara yang telah menjadi ijma’ dikatakan khilafiyah (Riba : Bunga Bank, Asuransi, Leasing, Pegadaian, MLM, dan lembaga-lembaga finance lainnya).

Menjadi pemburu dunia yang tamak, dengan menempuh jalan menyimpang dalam mencari harta. Mereka lakukan dengan cara batil, melakukan tipu daya, memanipulasi, mengeksploitasi dan mengelabuhi orang-orang yang lemah. Bahkan ada yang berkedok sebagai penolong kaum miskin, tetapi ternyata melakukan pemerasan, memakan harta orang-orang yang terhimpit kesusahan, seolah tak memiliki rasa iba dan belas kasih.

Firman Allah “Maka jika kamu tidak meninggalkan riba maka ketahuilah bahwa Allah dan rasulNya menyatakan perang terhadap kalian. (QS. al-Baqarah: Ayat 279).

Siapapun yang masih mencintai transaksi riba gharar dan maisir harus memahami perkataan Allah diatas. Hutang dan berhutang lewat system rente itu adalah Riba, bertransaksi dilembaga-lembaga tersebut diatas adalah Haram (banyak fatwa serta kajian tentangnya) dan Allah menyatakan perang terhadap para pelakunya. Apakah kita sanggup berperang dengan Allah, sang Maha Pencipta, Berkuasa diatas Segala galanya?
—————
Islam mengajarkan umatnya agar tidak menjadi bodoh dan tidak menjadi umat yang mudah dibodohi.

Dunia kerja, usaha atau mu’amalah secara umum adalah tempat kita memperoleh sekaligus mengembangkan harta kita, bukan tempat kita menipu dan ditipu, bukan tempat memuaskan nafsu rakus dan perjudian, juga bukan bagi orang yang tidak punya ilmu tentangnya.

Buang kalimat, ”Nyari yang haram saja susah, apalagi yang halal!”.

Shaykh Abdalqadir menyampaikan dari Rumi: ‘ketahuilah jika sesorang mengatakan kepadamu bahwa yang halal itu lebih sulit dari pada yang haram maka itu salah satu tanda nifaq (kemunafikan)’. Kemunafikan yang diteruskan akan menuju kepada ke fasik-kan. http://dinargold.wordpress.com

Orang yang tidak peduli dengan sumber penghasilannya ini bisa jadi karena memang dia tidak tahu atau mungkin juga dia sudah tahu tetapi tetap dilanggar dengan berbagai macam alasan, bahkan kemudian membuat rekayasa. Orang pertama lebih ringan dibandingkan dengan orang kedua, karena bisa jadi dia akan meninggalkan yang haram itu dan bertaubat jika dia mengetahuinya. Sedangkan orang kedua, gemerlapnya dunia telah memperdayainya hingga tidak bisa mengendalikan dan menundukkan kerakusan nafsunya. Padahal Rasûlullâh sudah mengingatkan: “Celakalah hamba dinar, hamba dirham dan celakalah hamba pakaian. “(HR. al-Bukhâri)

Pelaku Ribawi adalah orang yang  di musuhi Allah…!!!
Meskipun…. Ia adalah seorang yang hafal Qur’an..
Meskipun ia seorang berilmu agama…., bahkan…
Meskipun ia adalah seorang ustadz panutan masyarakat..!!!
Meskipun ia merasa dirinya pintar…!!!
—————
Kesimpulan

Mu’adz bin Jabal radhiyallaahu ‘anhu berkata:
ﺍﻟْﻌِﻠْﻢُ ﺇﻣَﺎﻡُ ﺍﻟْﻌَﻤَﻞِ ﻭَﺍﻟْﻌَﻤَﻞُ ﺗَﺎﺑِﻌُﻪُ
“Ilmu adalah pemimpin amal, dan amal adalah pengikut ilmu” ( al-Amru bil Ma’ruf wan nahyu ‘anil munkar karya Ibnu Taimiyyah halaman 15).

Ulama hadits terkemuka, yakni Al Bukhari berkata, ” Al ‘Ilmu Qoblal Qouli Wal ‘Amali (Ilmu Sebelum Berkata dan Berbuat) “.

Tak ada kebebasan memilih antara yang halal dan haram. Buktinya ketika Allah melihat kita memilih yang halal, maka Allah akan memuliakan dan ketika kita memilih yang haram, maka Allah akan merendahkan…supaya apa? supaya kita memilih yang halal. Maka tak ada pilihan lain bagi kita kecuali hanya memilih yang halal. Karena Allah selalu menginginkan kita untuk menjadi hambanya yang baik dan selalu dalam kebaikan.

Memahami atau mengetahui hukum muamalah maliyah wajib bagi setiap muslim, namun untuk menjadi expert (ahli) dalam bidang ini hukumnya fardhu kifayah…!

ﺍﻟﻠَّﻬُﻢَّ ﺍﻛْﻔِﻨِﻰ ﺑِﺤَﻼَﻟِﻚَ ﻋَﻦْ ﺣَﺮَﺍﻣِﻚَ ﻭَﺃَﻏْﻨِﻨِﻰ ﺑِﻔَﻀْﻠِﻚَ ﻋَﻤَّﻦْ ﺳِﻮَﺍﻙَ

Allahummak-finii bi halaalika ‘an haroomik, wa aghniniy bi fadhlika ‘amman siwaak. [ Ya Allah, cukupkanlah aku dengan yang halal dari-Mu dan jauhkanlah aku dari yang Engkau haramkan. Cukupkanlah aku dengan karunia-Mu dan jauhkan dari bergantung pada selain-Mu ] . (HR. Tirmidzi no. 3563 dan Ahmad 1:153)