“RIBA LOVERS” (Have Something Out Of Nothing)

Standar

Dalam setiap investasi atau bisnis, kita dihadapkan pada dua hasil, kalau tidak UNTUNG, berarti RUGI ..!

Bagi setiap individu yang waras, pastinya tidak akan menerima prilaku yang tidak berani ambil resiko, ingin cari aman saja, berani untung tak berani rugi”, yang ada pada prilaku rentenir dalam mu’malahnya.

A`isyah Radiallahu’anha meriwayatkan bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam telah bersabda : al-kharaj bi adh-dhomaan. “Hak memperoleh keuntungan (pendapatan/manfaat) adalah imbangan dari liabilitas [kesediaan menanggung kerugian].” (HR Abu Dawud no 3044, At-Tirmidy no 1206, An-Nasa`i no 4414, Ibnu Majah no 2234, Ahmad no 24806). Hadis sahih (Lihat Nashiruddin Al-Albani, Mukhtashar Irwa`ul Ghalil, hadis no 1446).

Dalam kaidah fiqh khusus di bidang mu’amalah atau transaksi (al-qawaid al fiqhiyyah, Islamic legal maxim) yang berbunyi : Al-Ghurmu bi al-ghunmi. “Kesediaan menanggung kerugian diimbangi dengan hak mendapatkan keuntungan.” (Lihat Taqiyuddin An-Nabhani, An-Nizham al-Iqtisahdi fi al-Islam, hal. 190; lihat juga kaidah ini dalam kitab-kitab ushul fiqih seperti : Kasyful Asrar, Juz III hal. 155, Syarah At-Talwih ‘Ala Al-Taudhih, Juz II hal. 391, Al-Mantsur fi Al-Qawaid, Juz II hal. 111, At-Taqrir wa At-Tahbir, Juz III hal. 497, Al-Asybah wa An-Nazha`ir, Juz I hal. 244).

Sikap seseorang yang hanya mau untung tapi tak mau menanggung kerugian atau melemparkan tanggung jawab kerugian kepada pihak lain—amat bertentangan dengan prinsip umum al-kharaj bi al-dhaman di atas. Sebab prinsip ini menegaskan bahwa pihak yang
berhak mendapatkan keuntungan hanyalah pihak yang siap menanggung kerugian. Inilah prinsip umum muamalah yang adil. Maka dari itu, transaksi yang memastikan keuntungan, diharamkan menurut ajaran Islam.

—————
Kenapa pada umumnya manusia tidak mau rugi ….?

Sejalan dengan kesenangan dan kecenderungan kita terhadap uang dan harta, faktor keuntungan dari usaha sering membuat lupa ada sunatullah bahwa tidak ada hasil tanpa usaha serta tanpa resiko rugi.

Kecenderungan umum yang melanda diri manusia tersebut, yaitu sikap Mau menang tak mau kalah, mau untung tak mau rugi, mau enak tak mau menderita, mau senang tak mau susah. Tipe manusia seperti ini, cenderung memiliki sifat yg Malas. Manusia model ini juga cenderung Egois, cenderung memiliki sifat-sifat tercela lainnya, seperti Perhitungan, Pelit, Culas alias Licik. Tak bertindak lengkap dengan kalkulasi untung rugi, dengan hukum alam yang telah disunnahkan Allah.

Jeremy Bentham (salah satu tokoh paham kapitalis) merumuskan kecenderungan tersebut, dengan mengatakan “bahwa orang digerakkan oleh dua kekuatan: kenikmatan dan kesakitan. Yang pertama menarik orang mendekat, yang kedua mendorong orang menjauh. Keuntungan pribadi menimbulkan kenikmatan, sementara kerugian biasanya menghasilkan kesakitan. Jadi secara natural orang akan terdorong untuk melakukan transaksi yang menguntungkan dirinya.
—————
Masa depan merupakan sesuatu yang sangat sulit diprediksi.
Tidak ada seorang pun didunia ini yang tahu dengan pasti apa yang akan terjadi dimasa depan, bahkan mungkin satu detik kedepan.
Selalu ada elemen ketidak pastian yang menimbulkan resiko. Menurut kamus ekonomi, resiko adalah kemungkinan mengalami kerugian atau kegagalan karena tindakan atau peristiwa tertentu. 

Sunnatullah menetapkan bahwa perjalanan hidup manusia selalu berkaitan dengan angka-angka, perhitungan, dan untung rugi. Dalam usaha mencari nafkah, seorang muslim dihadapkan pada kondisi ketidakpastian terhadap apa yang terjadi. Kita boleh saja merencanakan suatu kegiatan usaha atau investasi, namun kita
tidak bisa memastikan apa yang akan kita dapatkan dari hasil investasi tersebut, apakah untung atau rugi. Hal ini merupakan sunnatullah atau ketentuan Allah seperti yang disampaikan kepada Rasulullah dalam Surat Luqman ayat 34 : ”…dan tidak seorangpun yang dapat mengetahui dengan pasti apa-apa yang diusahakannya esok..” [QS. Luqman: 34]

Namun dalam transaksi keuangan modern, fenomena pemastian (Untung) direpresentasikan dalam bentuk maraknya industri utang piutang dan penggunaan instrumen bunga (interest). Praktik pemastian ini sudah barang tentu merupakan praktek yang bertentangan dengan sunnatullah pergiliran untung rugi, sehingga hanya memberikan manfaat sepihak yaitu bagi segelintir pemilik modal.

Cara riba (membungakan uang) merupakan jalan usaha yang tidak sehat, karena keuntungan yang diperoleh si pemilik modal bukan merupakan hasil pekerjaan atau jerih payahnya. Adalah tidak
adil, bila seorang kapitalis (pemilik modal), meraup bunga dari modal-nya, tanpa menanggung resiko sedikitpun dalam sebuah usaha.

Kerangka pemikiran tersebut sejalan dengan pandangan para filosuf yang menyatakan bahwa harta tidak melahirkan harta, uang tidak menelorkan uang. Harta baru dapat berkembang dengan cara bekerja dan usaha jerih payah untuk kedua belah pihak dan kemaslahatan masyarakat, sehingga terealisir kehidupan bersama yang adil antara harta dan kerja. 
—————
Perlu untuk dipahami bahwa, lembaga keuangan yang menggunakan system Islampun sangat mungkin mengalami kerugian bahkan keruntuhan alias pailit. Untuk itu perlu kejernihan pola pikir untuk memahami bahwa perdagangan, usaha, dan investasi manapun dengan dasar apapun, tidak terkecuali, akan mengikuti sunnatullah yang telah digariskan yaitu mengalami pasang surut keuntungan dan kerugian. Tidak peduli ia dimiliki oleh kafir ataupun ulama, maka ia sudah pasti akan terikat dengan sunnatullah yang merupakan ketetapan Tuhan pemilik alam raya semesta.

Kalaupun ada perbedaan, maka itu akan terlihat dari “gaya” jatuhnya atau “style” kematiannya. Apakah itu, dengan khusnul khotimah atau su’ul khotimah.

Karena setiap usaha atau investasi selalu menyangkut ketidakpastian tentang risk-and-return, Memperkirakan semuanya berjalan lancar dan pasti tentu melawan sunnatullah. Dengan kata lain, jatuh-bangun, untung-rugi, baik di masa damai maupun di masa krisis, adalah wajar adanya.
—————
Kesimpulan

Dalam Islam, setiap transaksi khususnya berinvestasi, paling tidak harus memastikan terhindar atau bebas dari dua hal: (1) haram secara dzat, dan (2) haram secara proses (lighoiri dzatihi).

Penerapan bunga dalam bentuk apa saja pada pinjaman dan investasi, adalah suatu pengingkaran pada prinsip keadilan dan tidak rasional serta haram secara proses.

Segala bentuk tawaran investasi yang mengaku menggunakan sistem bagi hasil, namun tidak mengikuti kaidah-kaidah seperti di atas, yakinlah bahwa tawaran itu menyesatkan dan sebaiknya dijauhi karenanya hasil tersebut haram untuk dinikmati, ciri-ciri investasi tersebut diantaranya :

1. Menjanjikan tingkat return yang pasti dan menggiurkan
(ighra’) atas nilai investasi.
2. Tetap menjanjikan keuntungan walau usahanya merugi.
3. Jaminan modal kembali, tanpa memperhitungkan hasil
investasi. Dll

Investasi dengan ciri-ciri tersebut diatas, wajib ditolak. Meskipun pakai nama syariah, bismillah, rekomendasi Ustadz, Al-Fatihah tujuh kali, pajang foto tokoh, masa bodoh. Tolak! Walaupun dikatakan halal, tidak usah didengar. Karena sesungguhnya tawaran tersebut dari mereka riba lovers, para pecundang.

So, mulailah untuk memastikan dengan bijaksana agar keputusan investasi yang kita lakukan tidak hanya didorong oleh pertimbangan materi, karena tujuan yang baik, tidak kemudian menghalalkan segala cara dalam rangka mencapainya (al ghoyatu la tubarriru al washilah), tapi juga memastikan aman secara syariah (halalan thayiban).

Wallahu A’lam

Sumber.
Abdul Mudjib, Kaidah-Kaidah Ilmu Fiqh (al-Qowa’idul Fiqhiyyah), (Jakarta: Kalam Mulia, 2001).
A. Djazuli, Kaidah-Kaidah Fikih: Kaidah-Kaidah Hukum Islam dalam Masalah-Masalah yang Praktis, (Jakarta : Kencana, 2006).
http://www.fiqhislam.com/index.php?option=com_content&view=article&id=25020:mau-untung-tapi-tidak-mau-menanggung-resiko-rugi&catid=159:ekonomi-bisnis-dan-keuangan-syariah&Itemid=197
http://www.kilasinfo.com/2013/09/pertimbangan-di-balik-mau-untung-tidak.html?m=1