SUPPLY DAN DEMAND ALA KAPITALIS RIBAWI

Standar

Ada cerita menarik dari Danah Zohar dalam bukunya yang best seller di seluruh dunia Spiritual Capital, yang sangat relevan dengan krisis financial yang melanda dunia saat ini. Cerita ini sendiri berasal dari Mythology Yunani kuno tentang seorang tukang kayu yang kaya namun sangat serakah bernama Erisychthon. Saking serakahnya, si tukang kayu bahkan berani menebang pohon kesayangan dewa mereka – dimana rakyat Yunani biasa ‘beribadah’ di sekitar pohon tersebut.

Konon sang ‘dewa’ sangat marah atas ditebangnya pohon tersebut, dan dikutuklah Erisychthon untuk tidak pernah kenyang walau apapun telah dimakannya. Maka mulailah Erisychthon memakan apapun yang dijumpainya, toko dan isinya dimakan sampai habis, setelah itu keluarganya juga dimakan sampai habis – sampai tinggal satu-satunya yang ada di sekitar dia, yaitu dirinya sendiri. Karena rasa lapar yang tidak pernah bisa terkenyangkan – maka akhirnya Erisychthon-pun memakan dirinya sendiri.

Betapapun tidak masuk akalnya cerita tersebut, tetapi nampaknya realita yang tidak jauh berbeda sesungguhnya terjadi di dunia financial ribawi jaman modern, sehingga menimbulkan krisis di seluruh dunia sampai saat ini. Dalam pasar yang normal, semestinya keseimbangan antara supply and demand terjadi dengan sendirinya. Produsen akan memproduksi sejumlah barang yang dibutuhkan konsumen, dan konsumen membeli kebutuhannya pada tingkat harga yang wajar sesuai kemampuan dirinya untuk membeli kebutuhan tersebut.

Apa yang dilakukan oleh lembaga-lembaga ribawi terhadap keseimbangan supply and demand tersebut ? Awalnya dia datang ke produsen mobil dan bilang sama si produsen untuk memproduksi mobil lebih banyak. Nggak punya modal ? Gampang tinggal dipinjami (tentu dengan bunga –karena bunga inilah daya tarik mereka). Nggak ada yang beli ?, gampang, nanti lembaga ribawi tersebut juga yang akan menggarap pembelinya.

Maka kemudian si lembaga ribawi datang ke konsumen (dengan berbagai iklannya), untuk mendorong konsumen membeli mobil yang sudah diproduksi produsen tersebut diatas. Konsumen nggak punya duit ?; gampang pula solusinya – tinggal dipinjami lagi oleh mereka – tentu lagi- lagi dengan bunga karena memang bunga inilah inti bisnisnya.

Keenakan mendapatkan bunga dari produsen dan juga konsumen, membuat lembaga ribawi semakin keranjingan ‘menciptakan’ keseimbangan baru pada supply and demand. Kalau awal-awalnya yang digarap adalah produsen & konsumen yang credible yang memang mampu memproduksi/ membeli barang dan mampu pula mengembalikan hutangnya; maka lama- kelamaan ‘pasar’ yang credible tersebut habis – tinggallah produsen abal-abal dan konsumen yang sebenarnya tidak mampu untuk meminjam dan mengembalikan hutangnya.

Apa yang terjadi kemudian ? Lembaga-lembaga ribawi tersebut mulai kesulitan menagih piutangnya ke para nasabahnya; bukan sepenuhnya salah nasabah sebenarnya – tetapi sebagian besar karena ulah lembaga-lembaga ribawi tersebut sendiri.

Setelah diambang kesulitan financial global yang begitu banyak korbannya, apakah attitude lembaga ribawi ini berubah ? ternyata tidak. Sejauh pendapatan utama mereka dari bunga – maka mereka akan tetap memburu mangsanya untuk ‘dipinjami’ agar mereka tetap mendapatkan sumber bunga-nya.
—————
Hari gini ? ada kemudahan dana tunai ? Apa lagi kalau bukan mereka sedang mengincar kita-kita untuk menjadi sumber pendapatan bunga berikutnya. Kalau orang seperti kitapun sudah habis digarapnya, siapa lagi yang digarap ? Mungkin mereka akan mulai memakan dirinya sendiri seperti cerita Erisychthon tersebut diatas….

Wallahu A’lam.

sumber : http://www.geraidinar.com