“RIBA LOVERS” (Don’t Be A Greedy Person)

Standar

Sifat rakus manusia lebih bahaya daripada serigala lapar!!

Rasulullah shallallahu wa’alaihi wa sallam bersabda, “Tidaklah dua ekor serigalaِ kelaparan yang dilepaskan kepada kambing lebih besar kerusakan (bahaya)nya, dibandingkan dengan (sifat) rakus seorang manusia terhadap harta dan kedudukan (dalam merusak/membahayakan) agamanya. “HR. At-Tirmidzi, Ahmad, Ad-Darimi, Ibnu Hibban. Hadits shahih.

Menuruti hawa nafsu karena panjang angan-angan itu dapat melupakan akhirat dan menurutkan hawa nafsu itu menghalangi dari
kebenaran (hak).”

Nabi Muhammad shallallahu wa’alaihi wa sallam bersabda: “Saya memastikan adanya tiga bagi tiga yaitu: Bagi orang yang sibuk didunia dan rakus (tamak) kepada dunia dan bakhil terhadap dunia
pasti ia akan menderita kekurangan yang tidak ada cukupnya dan
sibuk yang tidak ada hiburnya dan risau yang tidak ada senangnya.

Qatadah dari Anas bin Malik r.a. berkata Nabi Muhammad shallallahu wa’alaihi wa sallam bersabda: “Semua yang ada pada anak Adam dapat berubah rusak atau tua kecuali dua macam yaitu: Rakus dan Angan-angan.

—————
Rakus (greedy) secara harfiah berarti “ingin memperoleh lebih banyak dari yang diperlukan”.

Tamak atau rakus dalam istilah psikologi bermakna keinginan eksesif (berlebihan) untuk memperoleh atau memiliki harta kekayaan yang bukan haknya atau melebihi yang dibutuhkan.

Sifat rakus menstimulus rangkaian sifat negatif lainnya. Yaitu, egois, superioritas, masa bodoh, tidak memperdulikan halal dan haram .

Keinginan menguasai dan mencintai harta benda yang berlebihan itu pada gilirannya akan membawa seseorang pada dua perilaku negatif yang sangat dilarang dalam Islam.

Pertama, Menghalalkan segala cara (the ends justify the means) dengan berbagai bentuk dan variannya sesuai peluang dan kesempatan yang ada di depannya.

Kedua, Pelit bin Bakhil. Ketamakan itu identik dengan pelit atau kikir. Tak perduli apakah tamak yang menyebabkan pelit atau pelit timbul dari sifat tamak. Satu hal yang pasti, kedua karakter ini hanya dimiliki orang yang mementingkan dirinya sendiri (selfish). Al Quran sendiri memakai kata syuhh, yang berarti pelit, untuk menggambarkan perilaku rakus atau tamak (QS Al Hasyr 59:9; At Taghabun 64:16)
—————
Kapitalisme Untuk Manusia yang Rakus

Ekonomi liberal-kapitalistik digerakkan oleh para homo-economicus, yaitu makhluk ekonomi rakus yang insting dan perilakunya mencari kepuasan dan keuntungan maksimal. Mereka menjadi ahli dalam hal meminimumkan biaya dan memaksimalkan perolehan.

Bapak ekonomi kapitalis Adam Smith membangun ajaran kapitalisme dengan paradigma Laissez Faire. Menurut Adam Smith, setiap orang harus diberikan kebebasan melakukan apa yang diinginkannya tanpa campur tangan siapapun. Prinsip ini mendorong mekanisme dan transaksi ekonomi, termasuk hukum dan perundang-undangan tunduk pada prinsip kebebasan kepemilikan dengan nilai-nilai materialistis yang ”hampa” agama (sekularisme).

Dengan ini, manusia terpancing meraup keuntungan sebesar-besarnya (profit oriented) tidak perduli bagaimana cara memperoleh dan apa dampaknya bagi orang lain dan lingkungan.

Kapitalisme sebagai ideologi kriminal yang rakus, menindas dan melakukan ketidakadilan sistematis.

Kapitalisme adalah sekularisme, yang menghalangi agama terlibat dalam ekonomi. Akibatnya, kebijakan ekonomi kapitalis lebih didasarkan pada hawa nafsu manusia yang rakus.

Sistem ekonomi kapitalisme seperti yang dikatakan pencetusnya didasarkan pada azas kebebasan. Kebebasan kepemilikan terhadap harta, kebebasan pengelolaan harta, dan kebebasan konsumsi. Maka lahirlah manusia-manusia rakus yang menjadikan materi sebagai standar nilai dalam kehidupan.

Mereka (makmum sistem kapitalisme) tanpa sadar meyakini bahwa rakus itu bagus. ”Rakus itu benar. Rakus itu membawa hasil. Rakus itu… menandai gerak maju manusia.”

Sistem ”bunga” atau ekonomi ribawi yang menjadi ”andalan” sistem ekonomi kapitalis membuat eksploitasi itu menjadikan bisnis tak sekedar ”permainan” tapi ”pembantaian”.

Tapi rakus adalah fiil pribadi-pribadi, sementara ”kapitalisme” tak cukup bisa dikoreksi dengan membuat orang insaf. Rakus juga bisa lahir di luar sistem, lembaga maupun produk kapitalisme. Ia tak hanya melahirkan ”kapitalisme”. Memang ada sesuatu yang amat sangat rumit dewasa ini. Pola hidup yang ingin serba instan sering memicu syahwat kerakusan, saling sikut sana sini tanpa memperdulikan aturan agama.
—————
RAKUSnya para KAPITAL BANK

Informasi berikut akan memberikan sebuah jawaban yang valid tentang mengapa bunga kredit diperbankan konvensional maupun syariah (suku bunga masih dijadikan acuan perbankan syariah dalam menentukan margin pada setiap aplikasi pembiayaan dan pendanaan) di Indonesia tinggi.

Penyebab tingginya suku bunga kredit perbankan. Seperti diberitakan oleh http://republika.co.id ialah karena “Perbankan takut, mereka (pemilik kapital besar) akan memindahkan uangnya ke luar negeri,” kata Darmin Nasution, Mantan Gubernur Bank Indonesia.

Selama ini, BI selalu mengatakan bahwa itu urusan perbankan mengapa suku bunga kredit tetap tinggi. Setiap kali pimpinan bank mengadakan pertemuan dengan para pemimpin redaksi media massa, jika ditanya soal ini, mereka menjawab bahwa tak segampang itu menurunkan suku bunga kredit. Alasannya selalu bermacam macam. Namun sekarang so clear.

Ternyata, pemilik uang di perbankan hanya dikuasai segelintir
orang saja. Bank Indonesia (BI) mencatat total seluruh aset perbankan di Indonesia mencapai Rp 4.211 triliun atau sekitar US$ 421 miliar permaret 2013. Namun hanya sekitar 2% nasabah menguasai 80% uang di bank. Artinya, pemilik uang di perbankan hanya dikuasai segelintir orang saja.

Akibat struktur kepemilikan yang timpang itu, walaupun BI sudah menurunkan suku bunga Bank Indonesia (BI Rate) ke level single digit, suku bunga kredit masih tinggi sekali. Ada selisih yang sangat jauh. Apa yang dilakukan BI tak menggeser pasar sama sekali.

Pertanyaannya, mengapa segelintir orang kaya itu berpikir jangka pendek sekali? Mengapa mereka ingin melarikan uangnya keluar negeri? Padahal, semakin makmur masyarakat maka para orang kaya itu justru makin besar bisnisnya karena daya beli masyarakat meningkat dan skala ekonomi nasional akan melejit. Mereka tak perlu melarikan uangnya ke luar negeri karena tak ada manfaat maksimal yang bisa di dapat. Bahkan yang paling mendasar, mengapa menggunakan sistem rente (bunga) untuk mengeruk keuntungan…?

Jawabannya cuma satu : RAKUS …!

Beberapa waktu lalu, Metro TV menayangkan biografi Vladimir Putin, presiden Rusia. Dalam waktu singkat, ia bisa membangkitkan Rusia yang tercabik dan terpuruk. Menurutnya, hanya dua musuh Rusia,
salah satunya adalah rakusnya orang-orang kaya.

Maka, langkah pertama yang dilakukan Putin setelah menjadi presiden adalah mengumpulkan orang-orang kaya Rusia. Ia hanya meminta satu hal: BERHENTI RAKUS. Dari situlah ia menata Rusia. Ketika ada satu pengusaha yang melawan, Putin langsung menjebloskannya ke penjara karena persoalan pajak.
—————
Rakusnya Perbankan Nasional

Bank hidup dari uang rakyat. Dana masyarakat yang dianggap sumber dana bank, diputar kembali oleh bank ke berbagai produk rente bank. Para bankir menyebutnya: use of fund. Selisih antara
keuntungan rente bank dengan biaya (rente) bunga yang harus dibayar bank kepada masyarakat yang memasok dana, disebut margin bunga. Makin besar selisihnya, bank makin untung. Potensi keuntungan makin menggiurkan jika simpanan masyarakat makin deras masuk ke bank. Pakar ekonomi menyebutnya dengan economic of scale.

Perbankan nasional memang lagi kuat-kuatnya mencengkeram sebagai lembaga penyimpan. Harus diakui, tidak ada lembaga alternatif yang sekuat bank yang berhasil menyedot uang masyarakat atau Dana Pihak ketiga (DPK) sebesar Rp 4.211 triliun atau sekitar US$ 421 miliar permaret 2013. Total aset perbankan lebih dari Rp 3.745.07 Triliun.

Perbankan Indonesia sangat mengandalkan bunga kredit (riba)  dalam mengeruk keuntungan, apalagi kredit tersebut dibiayai dari pasokan simpanan masyarakat yang relatif dibayar murah.

Walaupun di tengah perlambatan pertumbuhan ekonomi nasional tahun ini, kinerja sejumlah bank besar hingga semester I-2013 cukup kinclong rata-rata meningkat 30% dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Namun perolehan laba seperti diraih BCA, Bank Mandiri, BNI dan BRI, itu masih mencerminkan strategi suku bunga tinggi, yang diindikasikan dengan angka penghasilan bunga bersih (net interest margin/NIM) cukup tebal di kisaran 6%-7%. Bahkan di beberapa bank, rasio tersebut bisa mencapai kisaran 8%-9% per tahun.

Tingkat rata-rata NIM perbankan di negara ASEAN lainnya saat ini sekitar 2%-3% dan rata-rata BOPO sekitar 40%-50%. Adalah kebiasaan perbankan, bank meraih NIM yang tinggi ini disebabkan oleh konsentrasi banyak bank yang sekarang masuk segmen konsumsi dan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) yang terkenal tebal memberikan rasio laba.

Menurut pengamat ekonomi FEUI Eugenia Mardanugraha, perbankan di Indonesia cenderung ingin mengambil keuntungan yang besar dengan menaikkan suku bunga kredit kepada nasabah, bukan akibat kesulitan menekan beban biaya operasional terhadap pendapatan operasional (BOPO). “Suku bunga kredit bank yang tinggi bukan karena bank tidak efisien, tetapi memang perbankan ingin mengambil keuntungan setinggi-tingginya, (rakus)”.

Lebih lanjut Menurut pengamat perbankan Lana Soelistianingsih menjelaskan, yang terjadi saat ini merupakan konsekuensi yang harus ditanggung oleh perbankan di Indonesia. “Ini akibat banyak bank yang mempertahankan NIM, dan mereka tidak mau mengurangi labanya”.

Menurut Ketua Lembaga Pengkajian, Penelitian dan Pengembangan Ekonomi (LP3E) Kadin Indonesia Prof Dr Didiek J Rachbini, perbankan sudah keterlaluan dengan tingginya suku bunga pada kredit dan simpanan. Karena BI sendiri telah menaikan suku bunga acuannya dengan persentasenya (7,5%) tertinggi di dunia. “Tingginya sudah tidak benar, karena bank tidak melakukan efisiensi dan kemungkinan diantara bank tersebut ada yang melakukan kartel, yaitu kesepakatan tertutup untuk melawan undang-undang agar nilai bunganya menjadi naik”.

Sebagai informasi, hingga Agustus 2013, pendapatan bunga bank nasional tercatat Rp.289,07 triliun, naik 13,43% dari periode yang
sama 2012 sebesar Rp.254,85 triliun. Bahkan pertumbuhan itu melampaui pencapaian pada periode yang sama 2011-2012 yang hanya 8,51%.

Sepertinya pasar perbankan akan selalu menuntut lebih dan lebih. Mengapa? Karena pasar perbankan selalu rakus (greedy) ingin memperoleh margin riba setinggi-tingginya. Untuk itu, anda nasabah bank nasional perlu mewaspadai, sebagai target anda akan menjadi korban kredit berikutnya baik itu dikredit modal kerja (KMK), kredit investasi (KI) dan kredit konsumsi (KK) dengan angsuran kredit yang melejit.
—————
Transaksi Ribawi Pintu Kerakusan

Hal yang bisa kita pelajari dari adanya kekurangan mekanisme kapitalis adalah kurangnya aspek moral dalam berekonomi serta tanpa memperhatikan kaidah-kaidah agama, sehingga sumber daya yang ada menjadi perlombaan keserakahan manusia tanpa ada sekalipun niat untuk berbagi, sosial dan lingkungan juga kurang diperhatikan. Hingga melahirkan manusia-manusia rakus yang menjadikan materi sebagai standar nilai dalam kehidupan.

Bangkitnya kapitalis memang merupakan ekses utama sistem bunga, maka masyarakat biasa dan terlebih yang miskin, harus tergantung hidupnya dibawah belas kasihan kaum kapitalis.

Karena bunga inilah, ungkap Syaid Quthb, bisnis dan industri terpaksa melakukan proyek yang harus menguntungkan, yakni proyek yang melampaui batas bunga dari modal yang mereka pinjam, tanpa melihat lagi apakah utang itu dipergunakan untuk sesuatu yang jahat atau untuk kepentingan masyarakat.

Riba tulisnya, meliputi makna keuntungan atau manfaat yang diperoleh dalam masalah moneter atau hanya sekedar manfaat saja. Dengan demikian, modal mengalir pada investasi yang dianggap mampu memberikan garansi realisasi maksimal untuk tujuan ini, tanpa memperhatikan lagi pada kesejahteraan masyarakat secara keseluruhan.

Kapitalisme dengan sistem rentenya menjadi salah satu penyebab yang kaya semakin kaya dan yang miskin semakin papa. Jika menganut standar kemiskinan versi Bank Dunia, maka jumlah penduduk miskin di Indonesia pada 2013 mencapai 97,9 juta jiwa atau setara dengan 40 persen. (Republika, 23/6/2013). Jumlah yang sangat besar dan lebih dari cukup sebagai bukti terjadinya kesenjangan dan kegagalan ekonomi.

Bahkan Krisis finansial global yang terjadi bermula dari penerapan sistem riba ekonomi kapitalisme. Secara umum, sistem ekonomi ini berfokus pada akumulasi kapital sehinga menciptakan lembaga-lembaga keuangan seperti perbankan, pasar modal, dan pasar derivatif. Lembaga-lembaga inilah yang memungkinkan perilaku mencari keuntungan secara rakus dan berlebihan, sehingga berujung pada krisis.

W.S Mitchel dengan tepat menuturkan bahwa bunga memainkan peranan penting dalam mengakibatkan timbulnya krisis. Pendapat senada diungkapkan oleh Nurcholish Madjid, yang menyatakan bahwa sistem ekonomi ribawi dapat menghancurkan ekonomi dunia.
Islam mengharamkan riba adalah karena memotivasi setiap individu untuk membuat kerusakan terutama moral dalam lingkungan masyarakat. Riba menyuburkan sifat rakus dan kesemena-menaan. Juga memudahkan berkembangnya sifat materialisme manusia yang tidak memikirkan hal lain kecuali memperbanyak dan menimbun harta tanpa memperdulikan kebutuhan masyarakat dan lingkungannya.

Pemakan riba mencerminkan bahwa ia tidak rela dengan pembagian Allah. Allah telah mengizinkannya untuk menempuh jalan-jalan halal dalam mencari rezeki, namun ia merasa tidak puas dengan syariat Allah sehingga ia berusaha mengeruk harta orang lain dengan cara-cara yang batil lagi buruk. Ini semua wujud nyata dari sikap ingkar terhadap berbagai nikmat, keji, dan rakus merampas harta orang lain.

Riba hanyalah membuat pelakunya semakin rakus, hidup tidak tentram dan damai, selalu merasa kurang puas terhadap apa yang dimilikinya lantaran hatinya terkotori oleh hitamnya riba. Para pelaku riba (rentenir) pasti tidak disukai orang dan dijauhi masyarakat. Mereka terlihat kikir, rakus, gila harta dan enggan berderma.

Adapun solusi terhadap perilaku rakus sistem ekonomi kapitalis tersebut yaitu Mengganti bunga sebagai faktor produksi dengan bagi hasil. Cara ini akan efektif dengan mengubah sistem perekonomian menjadi berdasarkan Islam secara menyeluruh atau kita kembalikan kepada komitmen umat Islam, yang notabene merupakan penduduk mayoritas di Indonesia bahkan dunia, untuk kembali pada nilai-nilai yang telah digariskan agamanya.
—————
Kesimpulan.

Sifat tamak dan rakus harus diakhiri. Dunia akan menjadi lebih hancur tanpa etika bisnis dan moral ekonomi. Tidak terbayangkan akan terjadi berapa kali resesi global. Ketidakadilan distribusi pendapatan. Hal ini tidaklah bersifat khayal, jika memang sifat tamak dan rakus terus dipelihara dalam dunia yang minim dengan aturan main.

Bukankah Mahatma Gandhi sudah pernah mengingatkan. Bumi dan seluruh isinya memang cukup untuk memenuhi kebutuhan semua orang tapi tak cukup memenuhi keserakahan satu orang.

Abul Laits Assamarqandi meriwayatkan dengan sanadnya dari Abud Dardaa’ r.a. berkata: “Mengapa aku melihat ulama-ulama banyak meninggal, sedang orang yang bodoh tidak suka belajar..? Belajarlah sebelum terangkatnya ilmu. (Dengan matinya ulama-ulama). Mengapa kamu lebih rakus dan rajin mencari apa yang telah dijamin (rezeki) oleh Allah  dan mengabaikan apa yang ditugaskan kepada kamu?

Sudah banyak manusia menjadi calon penghuni neraka karena kerakusan mereka akan harta. Belumkah tiba waktunya bagi kita semua untuk mengecilkan harta dunia dan membesarkan akherat? Dalam pandangan Allah harta dunia tidak lebih berharga dari pada sehelai sayap nyamuk. Lalu mengapa kita memperebutkannya dengan mengorbankan akherat? (Dan kehidupan dunia ini tidak
lain hanyalah kesenangan yang menipu. [QS Al-Hadiid : 20]).

Wallahu’alam

Sumber.

1. http://m.liputan6.com/bisnis/read/534427/total-aset-seluruh-bank-di-indonesia-capai-rp-4211-triliun.
2. http://tanbihul_ghafilin.tripod.com/panjanganganangan.htm
3. http://m.republika.co.id/berita/kolom/resonansi/12/06/22/m60t2s-melawan-rakus.
4. http://caping.wordpress.com/2008/09/22/rakus/
5. http://klik2eku.blogspot.com/2008/10/akar-krisis-finansial-global-ketamakan.html?m=1
6. http://m.rimanews.com/read/20110924/41887/korupsi-di-indonesia-didominasi-oleh-kalangan-ekonomi-mapan-yang-rakus
7. http://m.tribunnews.com/nasional/2013/12/21/sistem-kapitalisme-rampas-kaum-ibu-peroleh-kesejahteraan
8. http://keuanganlsm.com/koperasi-dan-ekonomi-humanistik/
9. https://www.ipotnews.com/m/article.php?jdl=Perbankan_Rakus_Laba__Rasio_NIM_Sulit_Diturunkan&level2=newsandopinion&level3=&level4=politics&news_id=48682&group_news=RESEARCHNEWS&taging_subtype=BANKING&popular=&search=y&q=
10. http://m.koran-sindo.com/node/335338
11. http://www.infobanknews.com/2013/11/perebutan-dana-murah-kian-terang-benderang/
12. http://bisniskeuangan.kompas.com/read/2013/11/28/1338216/LPS.Naikkan.Bunga.Penjaminan.Simpanan.
13. http://pena.gunadarma.ac.id/keuangan-inklusif-raburakus-bunga/
14. http://mulyalubis.weebly.com/riba.html
15. http://mm.feb.ugm.ac.id/index.php/news-index/2199-
16. http://indonesian.irib.ir/headline/-/asset_publisher/eKa6/content/sistem-produksi-ekonomi-global-dampak-perkembangan-kritik-dan-solusi/pop_up
17. http://www.bisnis-jabar.com/index.php/berita/data-bisnis-bunga-dasar-kredit-bank-naik