MASYARAKAT KONSUMTIF, PENGHUTANG, DAN SPEKULATIF

Standar

TOPIK yang diajarkan dalam mata kuliah ekonomi makro salah satunya adalah perbedaan antara kepentingan mikro dan makro. Apa yang baik untuk seorang individu belum tentu baik untuk perekonomian.

Dari sisi individu, menabung dan berhemat adalah kegiatan sehat. Seorang individu memang sebaiknya membeli barang hanya bila punya uang, bukan berutang. Seorang individu sebaiknya juga tidak melakukan kegiatan spekulasi. Sebab, jika salah berhitung, kondisi keuangannya dapat menjadi berantakan. Namun, dalam pelajaran ekonomi makro disebutkan bahwa masyarakat yang hidup hemat,tidak suka berutang dan tidak mau berspekulasi justru merugikan
perekonomian.

Semakin besar keinginan untuk mengonsumsi, semakin baiklah perekonomian. Jika masyarakat suka berhemat, bisnis akan lesu. Sebab, tidak banyak pembeli. Jika bisnis lesu, ekonomi tidak akan tumbuh. Artinya, kita memang diajari hidup boros. Lihatlah betapa berbagai reklame terus memupuk hasrat konsumsi kita. Lebih lanjut,dalam pelajaran teori ekonomi makro kita juga belajar betapa perluasan kredit baik untuk pertumbuhan ekonomi.

Semakin banyak orang mau berutang, semakin besar tingkat konsumsi mereka dan semakin bergairahlah perekonomian. Selain itu,semakin banyak orang mau berutang, semakin maju sektor keuangan. Kemajuan sektor keuangan ini biasanya juga membantu pertumbuhan ekonomi yang cepat. Artinya, kita memang diajari untuk hidup dengan pola berutang.Lihatlah betapa agresifnya bank mengajak kita untuk berutang. Lebih parah lagi, kegiatan spekulasi juga mendorong pertumbuhan ekonomi.

Kalau orang berani berspekulasi, masyarakat tidak perlu meningkatkan produksi. Barang yang sama dapat diperjualbelikan dengan harga yang makin tinggi. Masyarakat secara umum memang tidak memperoleh keuntungan dari spekulasi ini karena barang yang diproduksi tidak bertambah.

Namun, secara individu para pelaku spekulasi mendapatkan keuntungan banyak sekali.Keuntungan para spekulan ini dihitung dalam pertumbuhan ekonomi.Dengan demikian, kegiatan spekulasi (yang sesungguhnya tidak ada gunanya untuk masyarakat) dapat tercatat sebagai penyumbang penting dalam pertumbuhan ekonomi. Artinya, kita memang diajari hidup dengan melakukan tindakan spekulasi.

Peningkatan Inflasi

Harga yang terus naik (inflasi) juga baik untuk bisnis. Harga yang turun (deflasi) pertanda bisnis suram.Pertumbuhan ekonomi pun akan melambat, bahkan dapat negatif. Jadi, dari yang dibahas di teori ekonomi makro, konsumen memang tidak boleh berharap menikmati harga yang menurun. Sebab, harga yang lebih murah berarti bisnis yang lesu dan pertumbuhan ekonomi yang menurun.
Celakanya, untuk individu, harga yang naik dengan makin cepat (inflasi yang meningkat) menyebabkan individu malas menabung. Uang yang ditabung akan berkurang nilainya.

Kalau pun mendapat bunga, suku bunga sangat kecil, lebih rendah dari inflasi.Akibatnya, secara netto nilai tabungan justru menurun. Lebih parah, jika terkena biaya administrasi dan pajak, nilai tabungan akan makin kecil.

Akibatnya, dengan inflasi yang makin tinggi,orang makin malas menabung. Kalau orang menduga harga barang akan terus menaik, mereka akan terdorong untuk meningkatkan konsumsi. Sebab, menunda konsumsi berarti mereka akan harus membayar konsumsi dengan harga yang lebih mahal. Saat inflasi meningkat, berutang menjadi pilihan yang makin menarik,walau pengutang harus membayar bunga. Karena itu, orang terpicu untuk berutang, ketika harga belum naik lebih lanjut.

Utang biasanya diberikan lembaga keuangan, baik bank maupun bukan bank. Namun, akhir-akhir ini kita juga makin melihat adanya lembaga perdagangan eceran yang menjual barang secara kredit, bahkan tidak melayani penjualan tunai. Lembaga eceran ini sesungguhnya telah mendorong orang untuk berutang. Mereka juga telah berfungsi sebagai lembaga keuangan dan bukan lembaga perdagangan.

Lebih serius lagi,ketika orang kemudian juga terpacu untuk berspekulasi. Mereka membeli barang dengan harapan harga barang akan meningkat. Mereka kemudian akan mendapatkan keuntungan dari peningkatan harga itu.Dalam keadaan demikian, harga yang makin mahal bukan menurunkan permintaan, melainkan justru meningkatkan permintaan. Harga yang naik memberi tanda bahwa harga akan terus naik. Dengan demikian, orang akan berlomba membeli sebelum harga naik lebih lanjut.

Tingkah laku ini kemudian benar-benar memacu harga untuk naik lagi.Kenaikan harga ini kembali memicu orang untuk membeli lebih banyak lagi. Harga makin naik. Para spekulator makin diuntungkan, sedangkan masyarakat secara makro tidak mendapatkan keuntungan apa-apa. Tingkah laku spekulasi ini dapat dilakukan untuk barang yang “nyata” seperti tanah dan rumah.Namun, ini juga dapat terhadap barang yang “tidak nyata” seperti surat utang, saham, dan berbagai turunan (derivatif) dalam pasar keuangan.

Selanjutnya, lihatlah betapa bisnis terus menerus mendorong orang untuk konsumsi, konsumsi, dan konsumsi. Bersamaan dengan itu,lembaga keuangan terus mendorong orang untuk pinjam, pinjam, dan pinjam. Perhatikanlah pula cara para investor mengajari masyarakat melakukan tindakan spekulasi ,misalnya, dengan membeli rumah karena harga rumah diharapkan akan meningkat dengan pesat.

Semua kegiatan yang mendorong masyarakat untuk makin boros, berani berutang, dan bertingkah laku spekulatif ini telah dilakukan dengan semakin agresif, yang semuanya diharapkan dapat memicu pertumbuhan ekonomi. Namun sampai kapan? Pernah melihat orang yang mampu bekerja keras, tidak mengenal lelah, dengan bantuan kopi? Sampai kapan orang dapat bekerja keras dengan bantuan kopi?

Tubuh sebenarnya telah lelah,sudah harus beristirahat. Namun, pemilik tubuh tidak merasa lelah,berkat kafein dalam kopi. Namun,suatu ketika, orang ini akan ambruk. Demikian juga dengan perekonomian. Gaya hidup boros, suka berutang,dan spekulatif memang dapat meningkatkan gairah bisnis, tetapi sampai kapan? Di negara yang tidak ada jaminan sosial bagi seluruh masyarakat, termasuk bagi para lansia, gaya hidup semacam ini sangat penuh risiko.

Kalau terjadi sesuatu pada mereka (tiba-tiba sakit, menjadi cacat, kehilangan pekerjaan, atau pun menjadi lansia), dari mana mereka akan dapat hidup jika mereka tidak mempunyai tabungan dan justru punya utang? Sudah saatnya kita mengkaji ulang yang diajarkan di teori ekonomi makro. Betulkah para konsumen harus selalu menjadi
pahlawan ekonomi melalui pola hidup boros, suka berutang,dan berspekulasi?

ARIS ANANTA
Ekonom

Sumber. http://m.okezone.com/read/2011/03/16/279/435325/large