DEBT AS A LIFE STYLE AND LIFE (HUTANG DAN GAYA HIDUP)

Standar

Bismillah. Mari kita mulai dengan berpikir dan berkomitmen menentang arus, dengan hidup tanpa hutang. Menjadi pribadi yang qona’ah berasaskan tauhid.

Berpikir untuk melakukan perubahan gaya hidup dan cara berpikir. Karena selama ini mindset kita selalu dicekokin dengan hutang yang terkontaminasi dengan riba. Bahwa bisnis tidak mungkin berkembang tanpa berhutang, bahwa kita tak akan mempunyai barang-barang berharga tanpa berhutang dan lain-lain.

Beranikah kita hidup tanpa hutang ribawi dengan mengubah paradigma berpikir kemudian menempuh jalan alternatif lain …?

—————
Di Barat sana tengah berkembang banyak cara berpikir dan gaya hidup alternatif. Ada gaya hidup minimalis yang menentang konsumerisme, ada gaya hidup vegetarian yang anti makan daging, ada gaya hidup slow yang mengoreksi gaya hidup serba cepat. Ada juga gaya hidup debt free yang menentang gaya hidup serba berhutang yang mengakibatkan ekonomi Amerika ambruk beberapa waktu lalu.

Indonesia yang sedang mengarah menuju negara maju seperti negara-negara barat sana. Masyarakatnya malah mulai bergaya hidup konsumerisme, gaya hidup “buy now, pay later”. Gesek sana, gesek sini. Hutang bank sana sini. Ini adalah tanda-tanda dari masyarakat yang sakit, bukan masyarakat yang sehat. Kita mesti harus memikirkan banyak hal dalam hidup dan kehidupan ini, bukan hanya sekedar menuruti nafsu serakah dan status-status sosial melalui hutangan bank ribawi yang mengarahkan kita ke laknat Allah dan Rasul-Nya.

Perhatikan hasil Riset Share of Wallet dibawah ini. Seperempat dari masyarakat Indonesia adalah orang-orang yang gemar berbelanja. Mereka bisa dibilang sebagai kelompok “besar pasak daripada tiang” atau lebih banyak pengeluaran ketimbang pendapatannya.

Berdasarkan hasil riset Share of Wallet, 28 persen masyarakat Indonesia berada dalam kategori “Broke”, atau kelompok yang
pengeluarannya lebih besar ketimbang pendapatannya, sehingga mengalami defisit sekitar 35 persen.

Deputy Managing Director Kadence International-Indonesia Rajiv Lamba, mengatakan “Tipe Broke memiliki kecenderungan ingin menaikkan status menjadi upper class. Ini membuat mereka meminjam uang dan utang agar bisa membeli barang yang dapat menaikkan status sosial mereka”.

Survei Share of Wallet ini dilakukan oleh perusahaan riset Kadence International. Survei dilaksanakan pada bulan Juli hingga Oktober
2013 dan dilakukan terhadap 3.000 responden. Adapun lokasi survei adalah di daerah urban, seperti Jabodetabek, Surabaya, Medan, Balikpapan, Makassar, serta daerah perdesaan di wilayah Sumatera Barat, Jawa Tengah, dan Kalimantan Barat.

Hasil survei oleh BI.
Direktur Pengembangan Akses dan UMKM Bank Indonesia Yunita Resmi Sari mengatakan, sejumlah 60% dari total jumlah penduduk di Indonesia memiliki hutang di lembaga keuangan baik formal maupun informal, dari angka tersebut sebanyak 36% dari peminjam mendapatkan akses pinjaman dari lembaga keuangan informal. Sementara itu, 17% dari peminjam mendapatkan pinjaman dari perbankan. “Sisanya mendapatkan pinjaman dari lembaga keuangan semi-formal yakni sebesar 7% dari total peminjam”.

Adapun sisanya, masih belum bisa mendapatkan akses pinjaman kepada perbankan baik yang benar-benar belum memiliki akses maupun yang dengan sukarela memutuskan untuk tidak meminjam kepada lembaga keuangan.
—————
Para ekonom bersilang pendapat tentang utang. Ada yang menyebutnya bermanfaat, tak sedikit pula yang menganggapnya menyengsarakan. Dalam salah satu tulisannya, ekonom Gregory Mankiw menyitir perkataan James Madison bahwa “utang adalah kutukan”. Demikian halnya kelompok ekonom Ricardian, sebagaimana teori Ricardian Equivalence mereka meyakini bahwa utang tak akan mendorong peningkatan perekonomian, dan hanya menjadi beban.

Adalah David Graeber salah seorang antropolog, aktivis politik, penganut anarkisme dan sejarawan. Banyak menulis tentang uang, hutang, kapitalisme dan peradaban. Bukunya; Debt: The First 5,000 Years, sebuah karya yang salah satunya mengidekan anti–industri keuangan pada abad ini, mengatakan bahwa, hubungan pertukaran manusia yang didasarkan hutang itu adalah hubungan moral yang dilihat bukan hanya sebagai hubungan ekonomis, tetapi awalnya lebih diutamakan sebagai hubungan agamis. 

Debt is the essence of society, oleh karenanya hutang itu sendiri bukanlah hal yang pada intinya negatif, melainkan merupakan bentuk perekatan yang menciptakan perasaan bersosial. Manusia dan masyarakat membutuhkannya. Hutang adalah kewajiban moral si–pengutang dan ia harus membayarnya.
—————
Dalam Islam, ijma’ ulama menegaskan tentang bolehnya qardh (hutang piutang). Qardh hukumnya sunnah (dianjurkan) bagi orang yang meminjamkan dan mubah (boleh) bagi orang yang meminjam. Ulama Hanabilah mengatakan, tidak ada dosa bagi orang yang dimintai pinjaman kemudian tidak meminjamkannya.

Secara umum makna qardh mirip dengan jual beli (bay’) karena ia merupakan bentuk pengalihan hak milik harta dengan harta. Qardh juga termasuk akad salaf (tukar menukar uang). Qardh tidak sah dilakukan kecuali oleh orang yang mampu mengelola harta.

Syarat akad qardh diperbolehkan ada 2 :
1. Tidak mendatangkan keuntungan karena qardh adalah akad tabarru’ (tolong menolong) bukan akad tijarah (komersil).
2. Akad qardh ini tidak dibarengi dengan akad atau transaksi lain, seperti jual beli dan lainnya. Berdasakan hadits yang dikeluarkan oleh Abu Dawud, Nasa’i, Tirmidzi, Ibnu Majah dan Ahmad dari Abdullah bin Amr, “Tidak dibolehkan hutang bersama jual beli”.

Seperti yang telah dijelaskan diatas, Qardh (utang-piutang) masuk dalam bab at-ta’awun ‘alal birri wat taqwa ( ﺍﻟﺘﻌﺎﻭﻥ ﻋﻠﻰ ﺍﻟﺒﺮ ﻭﺍﻟﺘﻘﻮﻯ ), saling tolong-menolong dalam kebaikan dan ketaqwaan. Jadi, semboyan hutang-piutang itu harus ta’awun (saling tolong menolong), bukan membinasakan, mengeruk keuntungan sebanyak-banyaknya seperti praktek bank. (Q.S. Al-Ma’idah (5):2)

Para ulama mencela orang yang hidup mewah sementara ia
menanggung banyak utang. Akad hutang piutang merupakan tanggungan yang tidak bisa gugur karena kematian. Rasulullah bersabda: Jiwa seorang mukmin tergadai oleh utangnya hingga terbayar. Shahih, diriwayatkan Imam Ahmad dalam Musnadnya (2/ 440), Imam at-Tirmidzi dalam Sunannya (1078) dan Imam Ibnu Majah dalam Sunannya (2413).

Pastinya lebih terhormat orang miskin yang tak berutang daripada orang kaya yang bergelimang utang, walau opini umum berkebalikan dengan itu.
—————
Seseorang dikatakan memiliki kebiasan baik terhadap uang jika mampu mengalokasikan penghasilannya untuk kebutuhan primer,rencana masa depan, serta berderma sebagai salah satu bentuk ibadah berdasarkan ajaran agama. Berhemat tidak berarti pelit,tetapi efektif dan efisien dalam menggunakan sumber daya keuangan dan mampu membedakan antara kebutuhan dan keinginan.

Berhutang secara ribawi merupakan Energi Negatif yang mencengkram dewasa ini. Berhutang dengan rente adalah sebuah teori kegilaan massal, alias kebodohan besar.

Sisi-sisi dasar psikis manusia yang sering digunakan sebagai “tombol ajaib”, untuk membuat hutang piutang dengan rente dinamis adalah : rasa takut dan harapan masa depan lebih baik. Komodifikasi rasa takut (fear) dan harapan ( hope ) akan selalu dimainkan oleh segelintir kecil manusia, untuk mengendalikan sebagian besar manusia lain, dalam kasus ini adalah untuk mengendalikan kondisi psikologis komunal pelaku ribawi.

Hal ini disebabkan oleh liberalisme ekonomi kapitalis membuka auratnya terlalu lebar, sehingga menyeret hasrat manusia ke level yang sesungguhnya yang tak dicapai oleh kemampuan finansialnya. Pada saat yang sama jejaring riba pun gentayangan mencari mangsa untuk memperkaya diri. Maka tak perlu heran bila hari ini seorang gembala kambing pun bisa membangun rumah megah nan mewah dari berutang.

Betapa kapitalis/bank ribawi sangat mencintai nasabah yang berhutang, sementara masyarakat cinta konsumerisme. Itulah kejahilan yang paling jahil.

Masyarakat acapkali berusaha keras untuk mengejar pemenuhan keinginannya tanpa melihat efek-efek negative yang timbul dari proses tersebut. Perubahan mode ekonomi masyarakat tak lepas dari mode of production ke mode of comsumtion yang menggejala
hampir di semua warga negara dunia. Proses-proses produksi yang didominasi oleh kaum pemilik modal atau kapitalis akhir-akhir ini berusaha untuk mengubah mode ekonomi masyarakat dari produktif ke budaya komsumtif. Penjajahan abad modern mereka lakukan guna mendapatkan pasar yang potensial yakni masyarakat umum.

Masyarakat didorong untuk lebih tertarik pada pola hidup mode of
consumption yang cenderung memanjakan mereka daripada pola hidup mode of production yang mengharuskan mereka bekerja keras secara fisik, mental dan pemikiran.

Satu yang pasti dalam Ideologi kapitalisme: “Anda berharga dari apa yang anda miliki, dan Bukan pada apa yang anda lakukan”. Jadi, “perbuatan baik” tidak lagi membuat Anda berharga, tetapi Harta/Materi yg mewah lah yang membuat Anda begitu berharga. Mencengangkan. Tapi itulah yg memang terjadi.
—————
Untuk mulai bebas dari hutang haruslah dimulai dengan aqidah yang yang lurus serta qona’ah/gaya hidup yang sederhana, tak berlebih-lebihan. Hidup sederhana membuat segalanya jadi lebih ringan.

Butuh komitmen tinggi menahan untuk tidak berhutang. Perlu suatu terobosan yang sangat kreatif untuk membawa kita lebih meyakini bahwa kita harus selalu berusaha, berdoa & berikhtiar agar Allah swt selalu dan pasti memberikan jalan pada hambanya yang senang akan kegigihan, sabar hadapi hidup, tidak ada yang tidak mungkin. Karena, sebenarnya uang itu bukan masalah, tapi kitalah yang bermasalah dengan uang.

Mari bersama tinggalkan hutang (hutang piutang berbunga) sekuat kita, sadari bahwa kita (artinya termasuk saya) hidup dalam sistem dan lumpur riba. Berhutang dengan rente adalah mendurhakai perintah Allah dan  Rasulullah yang mendorong setiap pribadi masuk lebih jauh ke dalam lumpur riba.
—————
Jadi. Kini saatnya mengubah mental kita. Mari hadapi hidup dengan tawakkal dan optimis bahwa Allah menggaransi untuk mencukupkan rezeki kita semua. Tak perlu grogi untuk hidup ala kadarnya, karena lebih utama jiwa kita terbebas dari utang. Ada sebuah masyarakat yang hidup sejahtera. Mereka bukanlah masyarakat yang gemerlap
dalam kemewahan, mereka bahagia dalam hidup bersahaja. Mereka hanyalah masyarakat yang menjaga martabat dengan tidak berhutang, mereka adalah masyarakat yang mau dan mampu menunaikan zakat. Maka Allah memberkahi mereka dan pemimpin mereka.

Pada akhirnya kembali ke diri sendiri. Miliki pengetahuan dan keahlian sebanyak yang kita bisa serta perlukan dan membaca perilaku sosial masyarakat tempat kita hidup sehingga mampu menentukan posisi, apakah akan mengikuti arus kebodohan massal, memperingatkan mereka, atau tidak ikut sama sekali dan tidak terlibat.
—————
Sumber :

1. Prof. Dr. Wahbah Az-Zuhaili, Fiqh Islam wa Adillatuhu, Jakarta : Darul Fikir dan Gema Insani, 2007. Jilid 5, 6, dan 7.
2. http://roniyuzirman.wordpress.com/2011/01/26/debt-free-living-hidup-tanpa-berhutang/
3. http://daulahislam.com/posters/atas-nama-gengsi-seperempat-orang-indonesia-berutang.html
4. http://infoapajah.blogspot.com/2013/06/waspada-economic-bubble-indonesia_18.html?m=1
5. http://sedjatee.wordpress.com/2011/02/07/katakan-tidak-pada-utang/
6. http://salafiyunpad.wordpress.com/2010/03/22/bencana-hutang-merusak-citra-pengusaha-muslim/
7. http://www.citraislam.com/adab-dalam-berhutang-2/
8. http://m.bisnis.com/finansial/read/20140222/9/205268/60-penduduk-indonesia-dijerat-hutang
9. http://m.beritasatu.com/ekonomi/167346-sampai-desember-2013-hutang-luar-negeri-indonesia-us-264-miliar.html
10. http://m.rimanews.com/read/20131008/120768/hancur-bubar-akibat-kapitalisme-utang-seperti-komunisme-kapitalisme-itu-dungu
11. http://m.rimanews.com/read/20131008/120768/hancur-bubar-akibat-kapitalisme-utang-seperti-komunisme-kapitalisme-itu-dungu
12. http://etnohistori.org/edisi-seri-pemikiran-ilmu-sosial-indonesia-uang-dan-hutang-dalam-pembentukan-peradaban-manusia-oleh-farabi-fakih.html
13. http://wanitakaya.wordpress.com/2012/04/02/inilah-hidup-yang-diketahui-sejak-lahir-kapitalisme/