KONSUMSI : KEBUTUHAN DAN KEINGINAN BUKAN AKTIVITAS TANPA BATAS

Standar

Ekonomi adalah perbuatan manusia dalam memenuhi kebutuhan dan Keinginan hidupnya. Kebutuhan (needs) adalah segala keperluan dasar manusia untuk kehidupannya yang harus dipenuhi dan bila tidak terpenuhi maka menggangu fisik dan psikis manusia. Secara umum pemenuhan kebutuhan akan menghasilkan manfaat fisik, spiritual, intelektual ataupun material. Sedangkan keinginan (wants) didefinisikan sebagai desire (kemauan) manusia atas segala hal dan bila tidak terpenuhi maka hanya terjadi gangguan psikis saja, keinginan berasal dari hasrat (nafsu) atau harapan manusia dan pemenuhan keinginan akan menghasilkan kepuasan. Ruang lingkup keinginan lebih luas dari kebutuhan.

Islam membedakan antara kebutuhan dan keinginan. Pembedaan ini agar manusia tidak terjebak mengumpulkan dan bergelimangan harta secara berlebihan. Dengan motivasi ekonomi agar mempermudah manusia beribadah kepada Allah SWT. Kebutuhan mesti dipenuhi. Jika kebutuhan tidak terpenuhi maka akan mengganggu proses beribadah kepada Allah SWT.

Islam memiliki nilai moral yang ketat dalam memasukkan “keinginan” (wants) dalam motif aktifitas ekonomi. Dalam banyak ketentuan perilaku ekonomi Islam, motif “kebutuhan” (needs) lebih mendominasi dan menjadi nafas dalam roda perekonomian dan bukan keinginan.

Contoh sederhana menggambarkan perbedaan kedua kata ini dapat dilihat dalam perilaku konsumsi pada air untuk menghilangkan dahaga. Kebutuhan seseorang untuk menghilangkan dahaga adalah cukup dengan segelas air putih, tapi seseorang dengan kemampuan dan keinginannya dapat saja memenuhi kebutuhan itu dengan segelas susu, yang tentu lebih mahal dan lebih memuaskan keinginan.

Namun perlu diingat bahwa konsep keperluan dasar dalam Islam sifatnya tidak statis, artinya keperluan dasar pelaku ekonomi bersifat dinamis merujuk pada tingkat ekonomi yang ada pada masyarakat. Pada tingkat ekonomi tertentu sebuah barang yang dulu dikonsumsi akibat motifasi keinginan, pada tingkat ekonomi yang lebih baik barang tersebut telah menjadi kebutuhan. Dengan demikian parameter yang membedakan definisi kebutuhan dan keinginan tidak bersifat statis, ia bergantung pada kondisi perekonomian serta ukuran kemashlahatan.

Dengan standar kamashlahatan, konsumsi barang tertentu dapat saja dinilai kurang berkenan ketika sebagian besar ummat atau masyarakat dalam keadaan susah. Dengan demikian sangat jelas terlihat bahwa perilaku ekonomi Islam tidak didominasi oleh nilai alamiah yang dimiliki oleh setiap individu. Terdapat nilai diluar diri manusia yang kemudian membentuk perilaku ekonomi. Nilai ini diyakini sebagai tuntunan utama dalam hidup dan kehidupan manusia.

Dalam prinsip konsumsi islam, mashlahah dan kepuasan akan diperoleh apabila pemenuhan keinginan dilakukan berdasarkan kebutuhan (secara simultan), apabila konsumsi hanya berdasarkan keinginan maka hanya akan memberikan kepuasan saja dan sebaliknya bila hanya karena kebutuhan saja maka hanya akan mendapatkan manfaat. Dapat dipahami bahwa Keinginan adalah tambahan dari fungsi utamanya.
—————
NEEDS DAN WANTS KONTEKS EKONOMI KAPITALIS

Ilmu ekonomi kapitalis (konvensional) tampaknya tidak membedakan antara keinginan (wants) dan kebutuhan (needs). Mereka menyamakan keduanya dengan alasan jika tidak terpenuhi akan mengakibatkan kelangkaan (scarcity). Ideologi kapitalis beranggapan Kebutuhan dan Keinginan merupakan satu kesatuan dan tidak dipisahkan. Kebutuhan adalah keinginan, dan keinginan adalah kebutuhan. Hal ini sangat jelas dari teori ekonomi konvensional yang mengatakan bahwa ekonomi adalah perilaku manusia untuk memenuhi kebutuhan yang tidak terbatas dengan faktor produksi (sumber daya) yang terbatas.

Inilah yang menjadi biang keladi berbagai kerusakan dan eksploitasi sumber daya alam dan sumber daya manusia. Dengan prinsip ini pula dalam kasus ekonomi konvensional (kapitalisme) tidak ada distribusi kekayaan yang bersifat sosial, yang mendominasi adalah hak milik pribadi/individual, yang pada akhirnya menimbulkan sifat individualis, egois dan rakus (homoeconomicos). Karena keinginan seseorang tidak akan pernah terbatas. Jelas ini ada kelemahan, bagaimana mungkin kebutuhan tidak terbatas.
—————
Menurut Islam, pandangan sistem ekonomi kapitalis yang menyamakan pengertian kebutuhan (need) dengan keinginan (want) adalah tidak tepat dan tidak sesuai dengan fakta. Keinginan (want) manusia memang tidak terbatas dan cenderung untuk terus bertambah dari waktu ke waktu. Sementara itu, kebutuhan manusia ada yang sifatnya pokok (al-hâjât al-asasiyah) dan ada yang sifatnya pelengkap (al-hâjât al-kamaliyah) yakni berupa kebutuhan sekunder dan tersier.

Kebutuhan pokok manusia berupa pangan, sandang, dan papan dalam kenyataannya adalah terbatas. Setiap orang yang telah kenyang memakan makanan tertentu, pada saat itu sebenarnya, kebutuhannya telah terpenuhi dan dia tidak menuntut untuk memakan makanan lainnya. Setiap orang yang sudah memiliki pakaian tertentu, meskipun hanya beberapa potong saja, sebenarnya kebutuhan akan pakaian sudah terpenuhi. Demikian pula jika orang telah menempati rumah tertentu untuk tempat tinggal, meskipun hanya dengan jalan menyewa, sebenarnya kebutuhannya akan rumah tinggal sudah terpenuhi. Jika manusia sudah mampu memenuhi kebutuhan pokoknya maka sebenarnya dia
sudah dapat menjalani kehidupan ini tanpa mengalami kesulitan yang berarti.

Sementara itu, kebutuhan manusia yang sifatnya pelengkap (sekunder dan tersier) memang pada kenyataannya selalu berkembang terus seiring dengan tingkat kesejahteraan individu dan peradaban masyarakatnya. Oleh karena itu, anggapan orang kapitalis bahwa kebutuhan manusia sifatnya tidak terbatas adalah tidak tepat, karena ada kebutuhan pokok yang sifatnya terbatas selain memang ada kebutuhan pelengkap yang selalu berkembang dan terus bertambah.

Berbeda halnya dengan kebutuhan manusia. Keinginan manusia memang tidak terbatas. Oleh karena itu, kebutuhan pokok manusia sifatnya terbatas, sementara keinginan manusia memang tidak pernah akan habis selama ia masih hidup. Oleh karena itulah, permasalahan ekonomi yang sebenarnya adalah jika kebutuhan pokok setiap individu masyarakat tidak terpenuhi.
—————
KONSEP MASLAHAH DALAM PRILAKU KONSUMSI ISLAMI

Konsumsi berasal dari bahasa Inggris, yaitu to consume yang berarti memakai atau menghabiskan. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, kata konsumsi itu diartikan dengan pemakaian barang hasil produksi. Secara luas konsumsi adalah kegiatan untuk mengurangi atau menghabiskan nilai guna suatu barang atau jasa, baik secara sekaligus maupun berangsur-angsur untuk memenuhi kebutuhan. Orang yang memakai, menghabiskan atau mengurangi kegunaan barang atau jasa disebut konsumen. Dengan kata lain, konsumen adalah orang yang melakukan kegiatan konsumsi.

Tujuan konsumsi dalam Islam adalah untuk mewujudkan maslahah duniawi dan ukhrawi. Maslahah duniawi ialah terpenuhinya kebutuhan dasar manusia, seperti makanan, minuman, pakaian, perumahan, kesehatan, pendidikan (akal). Kemaslahatan akhirat ialah terlaksanaya kewajiban agama seperti shalat dan haji. Artinya, manusia makan dan minum agar bisa beribadah kepada Allah. Manusia berpakaian untuk menutup aurat agar bisa shalat, haji, bergaul sosial dan terhindar dari perbuatan mesum (nasab).

Konsumsi dalam Islam mempunyai ciri-ciri :
1. Tidak ada perbedaan antara pengeluaran belanja yang bersifat spiritual maupun duniawi. tidak adanya sekularisasi di dalam kehidupan. Segala yang kita lakukan di dunia ini merupakan bekal kita di akhirat dan kita akan diminta pertanggung jawabannya di akhirat.
2. Konsumsi tidak dibatasi hanya pada kebutuhan efisiensi akan tetapi mencakup kesenangan–kesenangan dan bahkan barang-barang mewah yang dihalalkan. Islam membolehkan kita untuk menikmati konsumsi barang dan jasa yang dihalalkan yang diluar kebutuhan primer. Islam membolehkan seorang muslim untuk menikmati berbagai karunia kehidupan dunia, tidak seperti kerahiban yang ada dalam ajaran kristiani, sistem pertapaan Persia, ajaran samsara hindu dan lainnya.

Konsumsi untuk memenuhi kebutuhan dan keinginan bukanlah aktifitas tanpa batas, melainkan juga terbatasi oleh sifat kehalalan dan keharaman yang telah digariskan oleh syara’. Yusuf Qardhawi menyebutkan beberapa variabel moral dalam berkonsumsi, di antaranya; konsumsi atas alasan dan pada barang-barang yang baik (halal), berhemat, tidak bermewah-mewah, menjauhi hutang, menjauhi kebakhilan dan kekikiran.

Imam Shatibi (Khan dan Ghifari, 1992), tujuan konsumsi ialah ‘maslahah’, yang maknanya lebih luas dari sekadar utility atau kepuasan dalam terminologi ekonomi konvensional. Maslahah merupakan tujuan hukum syara’ yang paling utama. Menurut Imam Shatibi, maslahah adalah sifat atau kemampuan barang dan jasa yang mendukung elemen-elemen dan tujuan dasar dari kehidupan manusia di muka bumi ini.

Menurut al-Syathibi, rumusan konsumsi manusia dalam Islam terdiri dari tiga jenjang, dharuriyat, hajiyat dan tahsiniyat :
1) Dharuriyat (Primer). Kebutuhan dharuriyat ialah tingkat kebutuhan primer. Bila tingkat kebutuhan ini tidak terpenuhi, akan terancam keselamatan umat manusia baik di dunia maupun di akhirat kelak. Kebutuhan dharuriyat mencakup:
a. Agama ( din )
b. Kehidupan ( nafs )
c. Pendidikan ( ‘aql )
d. Keturunan ( nasl), dan
e. Harta ( mal)

2) Hajiyat (Sekunder)
Kebutuhan hajiyat ialah kebutuhan sekunder. Apabila kebutuhan tersebut tidak terwujudkan, tidak akan mengancam keselamatannya, namun akan mengalami kesulitan.

3) Tahsiniyat. Kebutuhan tahsiniyat ialah tingkat kebutuhan yang apabila tidak terpenuhi tidak mengancam eksistensi salah satu dari lima pokok di atas dan tidak pula menimbulkan kesulitan.

Menurut beliau, semua barang dan jasa yang mendukung tercapainya dan terpeliharanya kelima elemen tersebut di atas pada setiap individu, itulah yang disebut maslahah.

Maslahah bersifat subyektif dalam arti bahwa setiap individu menjadi hakim bagi masing masing dalam menentukan apakah suatu perbuatan merupakan suatu maslahah atau bukan bagi dirinya. Namun, berbeda dengan konsep utility, kriteria maslahah telah ditetapkan oleh syariah dan sifatnya mengikat bagi semua individu. Misalnya, bila seseorang mempertimbangkan bunga bank memberi maslahah bagi diri dan usahanya, namun syariah telah menetapkan keharaman bunga bank, maka penilaian individu tersebut menjadi gugur.
—————
PROPORSIONAL DALAM KONSUMSI NEEDS DAN WANTS

Diakui bahwa aktifitas ekonomi berawal dari kebutuhan manusia untuk terus hidup (survive) di dunia. Segala keperluan untuk bertahan untuk hidup akan sekuat tenaga diusahakan sendiri, namun ketika keperluan hidup tidak dapat dipenuhi sendiri menyebabkan adanya berbagai interaksi untuk proses pemenuhan keperluan hidup manusia. Interaksi inilah yang sebenarnya merepresentasikan interaksi permintaan dan penawaran, interaksi konsumsi dan produksi, sehingga memunculkan pasar sebagai wadah interaksi ekonomi.

Pemenuhan keperluan hidup manusia secara kualitas memiliki tahapan-tahapan pemenuhan. Berdasarkan teori Maslow, keperluan hidup berawal dari pemenuhan keperluan yang bersifat dasar (basic needs), kemudian pemenuhan keperluan hidup yang lebih tinggi kualitasnya seperti keamanan, kenyamanan dan aktualisasi. Sayang teori Maslow ini merujuk pada pola pikir individualistic-materialistik.

Dalam Islam tahapan pemenuhan keperluan hidup boleh jadi seperti yang Maslow gambarkan, namun pemuasan keperluan hidup setelah tahapan pertama (kebutuhan dasar) akan dilakukan ketika secara kolektif yaitu kebutuhan dasar masyarkat sudah pada posisi yang aman. Ketika, masyarakat sudah terpenuhi kebutuhan dasarnya, maka tidak akan ada implikasi negatif yang muncul.

Parameter kepuasan dalam ekonomi Islam bukan hanya terbatas pada benda-benda konkrit (materi), tapi juga tergantung pada sesuatu yang bersifat abstrak, seperti amal shaleh yang manusia perbuat. Kepuasan dapat timbul dan dirasakan oleh seorang manusia muslim ketika harapan mendapat kredit poin dari Allah SWT melalui amal shalehnya semakin besar.
—————
BERHUTANG UNTUK MEMENUHI KEINGINAN

Masalah hutang memang harus diperhatikan dan dicermati dengan sangat hati-hati, banyak orang terjerumus kepada perbuatan dosa besar karena hutang. Terutama yang berhutang kepada Bank rentenir atau lintah darat. Hutang bisa diawali karena kurangnya perhitungan dan tidak bisa membedakan antara kebutuhan dengan keinginan. Hutang memang tidak diharamkan untuk dilakukan tapi harus hati-hati dan bijak dalam berhutang, perhatikan benar-benar syarat dan ketentuan yang berlaku.

Berhutang bisa dikatakan maslahat jika untuk memenuhi kebutuhan. Tapi menjadi masalah jika hanya sekedar mengikuti gaya hidup dan keinginan.

1. Kendalikan Keinginan
Ketahui dan pahami perbedaan antara keinginan dan kebutuhan. Kebutuhan adalah hal pokok atau hal yang lebih penting daripada keinginan. Hal itu bukan berarti tidak boleh memenuhi keinginan, melainkan harus memprioritaskan kebutuhan setiap saat. Jika memberikan prioritas utama pada keinginan dalam konsumsi, berhutang tentu tak terhindarkan.

2. Hiduplah dalam Kesederhanaan
Berbelanjalah jangan sampai boros, berhemat jangan sampai menjadi kikir. Jangan menjadi hamba hutang, jangan menjadi hamba belanja. Jangan gila belanja. Selalu utamakan kebutuhan daripada keinginan.
—————
KESIMPULAN

Satu hal yang sangat ironis, bahwa banyak di antara manusia yang tidak memahami makna kebutuhan, bahkan lebih dari itu juga tidak bisa membedakan makna kebutuhan dan makna keinginan. Sehingga mereka lebih sering mengedepankan hawa nafsu. Bahkan di dalam doa sekalipun, sering kali terbawa hawa nafsu. Mengapa demikian? Karena lebih sering mendahulukan meminta keinginan daripada kebutuhan.

Standar kebutuhan dan keinginan masing-masing manusia pasti berbeda-beda. Hal tersebut sangat tergantung dari tingkat sosial ekonomi, lingkungan, aktivitas hariannya, tuntutan pekerjaan atau karir dan sebagainya. kebutuhan yang sebenarnya untuk dapat memperoleh keinginan. Kebutuhan harus menjadi prioritas diatas keinginan, karena kebutuhan itu cenderung lebih memiliki manfaat yg lebih jika dibandingkan hanya keinginan belaka. Satu hal yang harus diingat adalah jangan sampai memenuhi keinginan dengan mengabaikan kebutuhan.

Kita harus dapat membedakan antara kebutuhan dan keinginan. Bila kita tidak bisa membedakan kebutuhan dan keinginan, maka akan mengakibatkan kita tidak bisa membuat skala prioritas di dalam pengeluaran. Bisa jadi kita akan mengorbankan

“Dari Ibn Abbasra. Berkata: “Saya mendengar Rasulullah saw bersabda: “Andai kata anak Adam itu memiliki satu lembah emas, niscaya ia ingin memiliki satu lembah lagi. Tidak ada yang dapat mengisi mulutnya melainkan tanah (maut), dan Allah menerima taubat siapa saja yang bertaubat kepada-Nya.” (HR. Muslim, no: 1738)

Hadits ini menerangkan sifat dan tabiat manusia, selalu memiliki keinginan yang tidak terbatas, terlepas apakah berupa keinginan positif atau negatif. Dengan dibekali keinginan inilah manusia memiliki potensi untuk memakmurkan bumi, di samping juga memiliki potensi untuk merusaknya.

“Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, yaitu: wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia, dan di sisi Allahlah tempat kembali yang baik (surga) .” (QS. Ali Imran: 14)

Lebih tegas lagi bahwasanya Rasulullah shallallahu ’alaihi wasallam menyebutkan tiga hal yang menjadi sumber kehancuran yaitu kikir yang diperturutkan, hawa nafsu yang diikuti dan membanggakan diri (ujub).

Penuhi keinginan semampunya. Dengan demikian kita akan merasa terus menerus bersyukur karena merasa kebutuhan kita terpenuhi. Sering sekali tak bersyukur karena tertipu dengan keinginan yang semestinya tak harus alias wajib.

Jika manusia selalu memperturutkan keinginannya, maka sama halnya memperturutkan hawa nafsunya. Padahal siapa saja yang memperturutkan hawa nafsunya, niscaya hal itu akan mendorong pada kejahatan.

Mudah-mudahan Alah menjadikan kita semua hamba-hamba yang banyak bersyukur, hamba-hamba yang selalu qana’ah atas apa-apa yang telah Allah berikan. Karena Allah memberikan apa yang kita butuhkan, bukan memberikan apa yang kita inginkan.

—————

Sumber.
http://akarmimpi.com/2013/04/03/inspirasi-keinginan-vs-kebutuhan/
http://iqtishadi.wordpress.com/2008/02/18/kebutuhan-dan-keinginan/
http://ayenoer.blogspot.com/2011/10/kebutuhan-dan-keinginan-dalam-islam.html?m=1
http://buletin-aliman.blogspot.com/2013/05/hakikat-sebuah-kebutuhan.html?m=1
http://eki-blogger.blogspot.com/2012/09/konsep-konsumsi-dan-perilaku-konsumen.html?m=1
http://fatkhurrochman.blogspot.com/2011/11/tips-hidup-tanpa-hutang.html?m=1

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s