Wajib Mempelajari Ekonomi Syariah

Standar

‘Alawy Bin Ahmad Assaqqof berkata : Paling wajib dari semua perkara wajib adalah ilmu, dan paling besar-besarnya dosa besar adalah bodoh, karena taqwa yg menjadi sebab keselamatan dan kemulian tidak bisa diraih kecuali dengan ilmu.

Ibn Khaldun menegaskan bahwa konsep pendidikan yang terpenting adalah pemahaman fakta, intepretasi keilmuan di segala bidang ilmu tidak boleh terlepas dari ajaran agama.
—————
Mengingat kebodohan adalah petaka, sepantasnya seseorang yang mengaku sebagai muslim yang baik juga adalah seorang ideologis dan berilmu. Karena Islam tidak bisa diterapkan tanpa ilmu. Baik dalam aspek ibadah maupun muamalah, sama-sama tidak bisa diterapkan tanpa ilmu pengetahuan.

Seseorang jika tidak mau belajar (hukum-hukum muamalat pen.), akan berakibat terperosok di dalam keharaman. Dan kebodohan dan kesengajaan itu tidak menjadi syarat timbulnya balasan atas dosanya dan memaafkan ia dari berbuat dosa.
—————
Ekonomi Syariah, menduduki posisi yang penting dalam Islam. Hampir tidak ada manusia yang tidak terlibat dalam aktivitas muamalah, karena itu hukum mempelajarinya wajib ‘ain (fardhu) bagi setiap muslim.

Kewajiban itu disebabkan setiap muslim tidak terlepas dari aktivitas ekonomi. Bahkan sebagian besar waktu yang dihabiskan seorang manusia adalah untuk kegiatan muamalah. Mencari nafkah untuk memenuhi kebutuhan diri, keluarga, bahkan negara.
ثم  جعلناك على شريعة من الأمر  فاتبعها  ولآ تتبع أهواء  الذين  لا يعلمون

Kemudian kami menjadikan bagi kamu suatu syari’ah. Maka ikutilah syari’ah itu, Jangan ikuti hawa nafsu orang-orang  yang tidak memahami syari’ah (Al-Jatsiyah : 18)

Bahkan para ulama Islam sepanjang sejarah, khususnya sampai abad 10 H senantiasa melakukan kajian ekonomi Islam. Karena itu kitab-kitab Islam tentang muamalah (ekonomi Islam) sangat banyak dan berlimpah. Para ulama tidak pernah mengabaikan kajian muamalah dalam kitab-kitab fikih mereka dan dalam halaqah (pengajian-pengajian) keislaman mereka.
—————
Muamalat dengan pegertian pergaulan hidup tempat setiap orang melakukan perbuatan dalam hubungan dengan orang lain yang menimbulkan hubungan hak dan kewajiban merupakan bagian terbesar dalam aspek kehidupan manusia.

Oleh karenanya Islam menempatkan bidang muamalat sedemikian penting, hingga Rasulullah SAW mengatakan, ‘Agama adalah muamalah’.

Berangkat dari hal itu semua, Islam bersikap lebih longgar dalam masalah hukum pada muamalah. Hukum Islam memberikan ketentuan bahwa pada dasarnya hukum dalam muamalah adalah mubah, hingga ada dalil atau nash yang mengharamkannya. Berbeda dengan ibadah yang hukum asalnya adalah haram, kecuali ada perintah atau tuntunan yang menganjurkan perbuatan ibadah tersebut.

Ulama sepakat bahwa muamalat itu sendiri adalah masalah kemanusiaan yang maha penting (dharuriyah basyariyah).

Berikut penjelasan Ulama tentang Muamalah atau Ekonomi Syariah :

Sesungguhnya dua sisi syariah Islam ialah ibadah dan muamalah. Keduanya terkait laksana satu tubuh dan keduanya satu tujuan, (yaitu dalam rangka ibadah dan ketaatan kepada Sang Khalik Allah Swt) dan Sesungguhnya tujuan hadirnya manusia di muka bumi adalah untuk memakmurkan (membangun) bumi. Hal ini berkaitan dengan investasi dan pengembangan harta (ekonomi dan finansial). (Samir Abdul Hamid Ridwan, Aswaq al-Awraq al-Maliyah, IIIT, Cairo, 1996, hlm. 166)

Sesungguhnya ekonomi Islam adalah aturan Tuhan. Setiap ketaatan terhadap aturan ini merupakan ketaatan kepada Allah SWT. Setiap ketaatan kepada Allah adalah ibadah. Jadi menerapkan sistem ekonomi Islam adalah ibadah (Muhammad Rawwas Qal’ah, Mabahits fil Iqtishad al-Islamiy, Kuwait Darun Nafas, 2000, hlm.55)

Mengetahui hukum ekonomi Islam adalah dharuriyah (kemestian primer/utama) yang tak bisa ditawar. Jika tidak diketahui, maka dikhawatirkan sekali umat Islam akan terperosok kepada praktek kebatilan. Dr. Abdul Sattar Fathullah Sa’id dalam kitab Al-Muamalah fil Islam (1406 hlm.16).

Di antara unsur dharurat (masalah paling penting) dalam masyarakat manusia adalah “Muamalah”, yang mengatur hukum antara individu dan masyarakat. Karena itu syariah ilahiyah datang untuk mengatur muamalah di antara manusia dalam rangka mewujudkan tujuan syariah dan menjelaskan hukumnya kepada mereka.

Menurut Dr. Husein Syahhatah (Guru Besar Univ.Al-azhar Cairo) : “Seorang Muslim yang bertaqwa dan takut kepada Allah swt, Harus berupaya keras menjadikan muamalahnya sebagai amal shaleh dan ikhlas untuk Allah semata”. Dan dalam bidang muamalah maliyah ini, seorang muslim berkewajiban memahami bagaimana ia bermuamalah sebagai kepatuhan kepada syari’ah Allah.

Jika ia tidak memahami muamalah maliyah ini, maka ia akan terperosok kepada sesuatu yang diharamkan atau syubhat, tanpa ia sadari. (Buku Al-Iltizam bith-Thawabith asy-Syar’iyah fil Muamalat al-Maliyah,Mesir, 2002).

“Jika jauh jarak perbedaan (kajian) syariah dengan kajian non syariah dalam bidang ekonomi ini, maka akan jauhlah kebenaran dan kebatilan, antara hidayah dan kesesatan”.

Karena umat Islam jauh dari kajian muamalah, maka dalam mencari uang, banyak umat Islam tersesat ke jalan batil, seperti bunga bank, bunga asuransi, bunga koperasi, bunga obligasi, permainan spekulasi di pasar uang dan pasar modal, arisan berantai, money game berkedok MLM, praktek gharar dan maysir dalam margin trading, dsb.

Jelaslah bahwa “Muamalat” adalah inti terdalam dari tujuan agama Islam untuk mewujudkan kemaslahatan kehidupan manusia. Karena itu para Rasul terdahulu mengajak umat (berdakwah) untuk mengamalkan muamalah, karena memandangnya sebagai ajaran agama yang mesti dilaksanakan, Tidak ada pilihan bagi seseorang untuk tidak mengamalkannya.
—————
Khalifah Umar bin Khattab berkeliling pasar dan berkata :
لا يبع في سوقنا  الا من قد تفقه في الدين
“Tidak boleh berjual-beli di pasar kita, kecuali orang yang telah mengerti fiqh (muamalah) dalam agama Islam” (H.R.Tarmizi) .

‘Ali bin Abi Tholib mengatakan.
مَنْ اتَّجَرَ قَبْلَ أَنْ يَتَفَقَّهَ ارْتَطَمَ فِي الرِّبَا ثُمَّ ارْتَطَمَ ثُمَّ ارْتَطَم
َ Barangsiapa yang berdagang namun belum memahami ilmu agama, maka dia pasti akan terjerumus dalam riba, kemudian dia akan terjerumus ke dalamnya dan terus menerus terjerumus”
—————
Kita pantas untuk prihatin, dimana kini, banyak umat Islam yang telah terperosok ke dalam praktek ribawi, yang anehnya mereka tak menyadari bahwa praktek itu paling terkutuk. Bahkan dengan tanpa dasar, perkara yang telah menjadi ijma’ dikatakan khilafiyah (Riba : Bunga Bank, Asuransi, Leasing, Pegadaian, MLM, dan lembaga-lembaga finance konvensional lainnya).

Menempatkan muslim tersebut menjadi pemburu dunia yang tamak, dengan menempuh jalan menyimpang dalam mencari harta. Mereka lakukan dengan cara batil, melakukan tipu daya, memanipulasi, mengeksploitasi dan mengelabui orang-orang yang lemah. Bahkan ada yang berkedok sebagai penolong kaum miskin, tetapi ternyata melakukan pemerasan, memakan harta orang-orang yang terhimpit kesusahan, seolah tak memiliki rasa iba dan belas kasih.
—————
Tegasnya. Mempelajari dan Memahami hukum muamalah maliyah wajib bagi setiap muslim, namun untuk menjadi expert (ahli) dalam bidang ini hukumnya fardhu kifayah…!

Dunia kerja, usaha atau bisnis adalah tempat kita memperoleh sekaligus mengembangkan harta kita, bukan tempat kita menipu dan ditipu, bukan tempat memuaskan nafsu rakus dan perjudian, juga bukan bagi orang yang tidak punya ilmu tentangnya.

By. Arie Syantoso
Wallahu’alam