ULAMA, FILSUF DAN PAKAR EKONOMI BERBICARA TENTANG BUNGA UANG

Standar

LINTAH DARAT, begitu biasa kita sapa mereka yang gemar membungakan uang. Lintah Darat tak lain hanyalah pengusaha produk khayalan, seorang Imajiner, pengharap imbalan semata-mata karena menunggu, yang hanya mementingkan diri sendiri dalam semangat khas mereka untuk menciptakan uang dengan cepat tanpa tetesan keringat dengan mengabaikan kebajikan sosial.

Mereka juga tak ubahnya seperti parasit, memberikan banyak dampak buruk bagi masyarakat. Sebagai profesi, maka profesi lintah darat adalah profesi yang sangat memalukan dan terkutuk.

Menurut Abul A’la Maududi, pembunga uang adalah seorang yang tidak berakal sehat karena melakukan sesuatu yang tidak sesuai dengan akal sehat.
—————
Dalam Islam uang dipandang sebagai ALAT TUKAR (medium of exchange), tolak ukur nilai, sarana perlindungan kekayaan dan alat pembayaran hutang dan pembayaran tunai, bukan suatu barang dagangan (komoditas) yang diperjualbelikan.

Oleh karena itu motif permintaan akan uang adalah untuk memenuhi kebutuhan transaksi (money demand for transaction), bukan untuk spekulasi. Diterimanya peranan uang ini dengan maksud melenyapkan ketidakadilan dalam ekonomi tukar menukar.

Ketentuan ini telah banyak dibahas ulama seperi Ibnu Taymiyah, Al-Ghazali, Al-Maqrizi, Ibnu Khaldun dan lain-lain.  Hal ini dipertegas lagi oleh Choudhury dalam bukunya “Money in Islam: a Study in Islamic Political Economy”, bahwa konsep uang tidak diperkenankan untuk diaplikasikan pada komoditi, sebab dapat merusak kestabilan moneter sebuah negara.

Sementara itu, menurut Dr. Rif at al-‘Audi, dalam bukunya Min al-Turats al-Iqtishad li al-Muslimin, bahwa uang merupakan konsep aliran (flow concept) yaitu yang tidak bisa dijadikan komoditas, sedangkan capital bersifat konsep persediaan (stock concept). Karena itu dalam Islam uang tidak menghasilkan apapun, dengan demikian bunga (riba) pada uang yang dipinjam dan dipinjamkan DILARANG.

Secara konsep tidak ada perbedaan antara bunga dan riba. Islam dengan tegas melarang semua bentuk bunga. Islam mendorong bisnis untuk meningkatkan kekayaan lewat perdagangan, bukan dari meminjamkan dan meminjam uang lalu membungakannya.

Jumlah bunga yang dibebankan adalah immaterial karena sudah ada konsensus umum bahwa segala jumlah bunga (riba), tak peduli seberapapun kecilnya, diharamkan.

Ibnul Qayyim : Melarang menjadikan uang sebagai perdagangan, karena itu memasukkan manusia kepada suatu kerusakan yang tidak diketahui melainkan oleh Allah Ta’ala. Bahkan yang wajib adalah jika uang sebagai modal yang dijadikan alat perdagangan, dan bukan diperdagangkan.
—————
Tak dapat dipungkiri, bahwa praktek membungakan uang banyak dimaklumi oleh masyarakat dan begitu pula bagi mereka yang mengaku terdidik, mereka beranggapan bahwa bunga adalah komponen yang sangat penting pada masyarakat modern.

Akan tetapi, tidak dengan para pakar ekonomi dan filsuf yang mempelajari masalah-masalah bunga dengan pikiran terbuka, mereka dengan jelas melihat keburukan-keburukannya dan merasakan bahwa harus dilakukan sesuatu terhadapnya.

Sepanjang sejarah manusia dimasa lampau, para filsuf dengan gencar mencela institusi dan praktek riba (membungakan uang) dengan argumentasi bahwa praktek bunga uang adalah tidak adil dan zhalim. Mereka percaya pada doktrin uang yang tidak di produktifkan pada sektor riil adalah tidak adil.

Berikut penjelasan beberapa filsuf dan pakar ekonomi tentang bunga terhadap pinjaman uang :

Plato (427-345 SM), dalam bukunya “LAWS” mengutuk bunga dan memandangnya sebagai praktek yang zholim. Menurut Plato, uang hanya berfungsi sebagai alat tukar, pengukuran nilai dan penimbunan kekayaan. Uang sendiri menurutnya bersifat mandul (tidak bisa beranak dengan sendirinya). Uang baru bisa bertambah kalau ada aktivitas bisnis riel.

Gonzalles Tellez : Uang tidak bisa melahirkan uang, maka adalah sangat bertentangan dengan alam jika mengambil sesuatu di luar jumlah uang yang dipinjamkan, dan mungkin lebih tepat dikatakan bahwa ini di ambil dari industri daripada uang.

Aristoteles (384 – 322 SM) dalam karyanya “POLITICS” telah mengecam sistem bunga yang berkembang pada masa Yunani kuno. Secara rasional filosofis, ia menilai bahwa sistem bunga merupakan sistem yang tidak adil. Menurutnya uang bukan seperti ayam yang bisa bertelur. Sekeping mata uang tidak bisa beranak kepingan uang yang lain. Selanjutnya ia mengatakan bahwa meminjamkan uang dengan bunga adalah sesuatu yang rendah derajatnya.

Covarruvies : Uang tidak akan menghasilkan buah dari dirinya sendiri, dan tidak pula melahirkan apa-apa. Maka tidak dapat diakui dan tidak adil mengambil sesuatu melebihi dan di atas sejumlah uang yang dipinjamkan untuk kegunaan uang tersebut, sebab ia tidak menghasilkan sesuatu, seperti pada industri yang memakai tenaga kerja.

Thomas Aquinas (1225-1274) dalam “Summa Theologia” dengan tegas menyebut orang-orang yang memperanakkan uang sebagai pendosa. Bagi Aquinas memungut bunga dari uang yang dipinjamkan adalah tidak adil dan sama artinya dengan menjual sesuatu yang tidak ada.

Ada hal-hal tertentu yang kegunaannya terkandung dalam konsumsi barang-barang itu sendiri, dan jika kegunaannya itu ditransfer, maka barang-barang itu harus ditransfer bersamanya. Karena itu, ketika barang dipinjamkan, maka hak atas barang tersebut akan selalu ditransfer pula.

Jadi, betapa tidak adilnya jika seseorang menjual suatu barang dan dengan cara terpisah ia menjual manfaatnya. Dalam pengertian yang lain berarti penjual, menjual barang yang sama dua kali atau ia menjual sesuatu yang tidak ada. Tepatnya, tidak adil bagi seseorang meminjamkan sesuatu dengan berdasarkan bunga.

Selanjutnya Thomas Aquinas berpendapat bahwa “Bunga harus dianggap sebagai harga yang MUNAFIK dan CURANG, yang diminta dari sesuatu yang dimiliki oleh semua orang, yaitu Waktu.

Locke : Bunga akan menghancurkan perdagangan. Keuntungan bunga, bisa saja lebih besar daripada keuntungan perdagangan, yang membuat para saudagar kaya menyisihkan simpanannya untuk dibungakan, dan saudagar lainnya yang lebih miskin menjadi bangkrut.

Misabeau : Tidak ada pembenaran yang memungkinkan untuk meminjamkan uang dengan memakai bunga. Dikarenakan, tidak ada manfaat yang alamiah sifatnya bagi uang, ia hanyalah sekedar symbol dan tidak ada keawetan dan kerusakan dalam masalah uang (biaya tambahan menurut istilah Keynes), seperti yang terjadi pada sewa rumah, mobil dan sebagainya. Maka pembayaran untuk penggunaan dan biaya kerusakan tidaklah adil.

Lord Keynes : Suku Bunga dapat menghalangi tingkat investasi dan menghambat laju perkembangan industrialisasi yang dapat meningkatkan kekayaan nasional suatu Negara.

Keynes sangat percaya akan doktrin kelompok “kanonis” yang menyatakan bahwa keberadaan bunga tidak akan menunjang kemajuan ekonomi dan ini hendaknya dicegah dengan aturan hukum, bahkan dengan memberlakukan sangsi hukum moral. Rintangan yang menghancurkan semangat untuk melakukan investasi adalah suatu kejahatan sosial dan harus dihilangkan.

Dalam bukunya yang termasyhur, The General Theory of Employment, Interest and Money, Keynes mengakui konsep Islam tentang perbankan, dan ia menganjurkan agar masyarakat memperoleh uang dengan usaha produktif bukan dengan cara membungakannya. Keynes sadar akan kekurangan kapitalisme yang dapat dihilangkan bila bunga dihapus.

Untuk mengetahui keburukan terbesar dari bunga (riba) renungkan kata-kata mantan presiden Nigeria Olusegon Obasanjo saat dia berbicara pada tahun 2000 di depan para kreditor internasional tentang beban utang Nigeria yang menggunung :

“Semua yang kami telah pinjam hingga 1985 adalah sekitar US$ 5 Miliar dan kami telah membayar sekitar US$ 16 Miliar. Akan tetapi, kami diberitahu bahwa kami masih berutang sekitar US$ 28 Miliar. Uang US$ 28 Miliar itu muncul karena ketidakadilan dalam tingkat suku bunga para kreditor asing. Jika anda bertanya kepada saya apakah hal terburuk di dunia, saya akan menjawab tingkat suku bunga berbunga atau bunga majemuk”.

Kejahatan Utama Bunga Uang

Pertama, Keberadaan suku bunga dapat menghancurkan dorongan untuk melakukan investasi. Karena itu tingkat investasi akan menurun dan pada gilirannya tingkat lapangan perkerjaan dan pendapatan juga akan menurun. Akibat menurunnya jumlah pendapatan maka akan berpengaruh pada jumlah konsumsi. Dan kita tahu bahwa Konsumsi merupakan satu-satunya tujuan dari semua kegiatan ekonomi.

Kedua, Bunga berkerja dengan suatu cara yang lebih kompleks untuk mengacaukan perekonomian. Bagi orang-orang yang memiliki uang untuk ditabung dan di investasikan, maka hal itu memberikan suatu bentuk investasi yang likuid. Uang milik mereka disimpan dibank-bank, dimana mereka mendapat jaminan persentase bunga yang telah ditetapkan tanpa ambil bagian di dalam proses produksi. Dikarenakan, Institusi-institusi bank mempunyai kecenderungan untuk menghambat orang-orang di dalam menginvestasikan uangnya secara langsung pada industri dan perdagangan. Dari sudut pandang sosial, perbankan modern itu lebih buruk dibanding penumpukan harta secara primitif.

Tidak diragukan lagi bahwa bunga adalah beban berlebihan yang tidak diperlukan bagi kelas pekerja, penghambat produksi dan pertumbuhan modal pelaku usaha, serta lambat laun akan menurunkan kekayaan individu masyarakat pelaku usaha produktif, dengan membatasi mengalirnya modal kepelaku usaha produktif.

Bunga menjadikan pemodal menolak berinvestasi, tanpa memperdulikan kemanfaatannya bagi masyarakat. Para pemilik modal tidak bersedia menginvestasikan modal mereka ke dalam usaha-usaha yang bermanfaat bagi masyarakat, semata-mata karena mereka ditawari suku bunga yang lebih tinggi.

Banyak perusahaan yang bermanfaat dan menguntungkan, yang jika dijalankan akan meningkatkan kekayaan masyarakat bahkan nasional diabaikan. Sebab mereka tidak menawarkan laba yang lebih besar pada pemilik modal. Sebagian besar modal yang sesungguhnya dapat diinvestasikan ke dalam usaha-usaha produktif, ditarik masuk ke dalam institusi bunga (Bank).

Padahal, metode yang paling efektif untuk menyelesaikan persoalan kurangnya lapangan kerja adalah dengan mendorong investasi sektor riil agar lebih banyak perusahaan baru didirikan sehingga bisa menyediakan pekerjaan yang cukup bagi masyarakat yang menganggur.

Karena itu, demi kepentingan keadilan sosial dan 7pembangunan ekonomi, seharusnya bunga dihapuskan dan ketahuilah dosa riba hanya kalah dari dosa syirik.

Mari bersama kita meninggalkan instrumen bunga diberbagai produk perbankan dan keuangan konvensional dan beralih ke Perbankan Syariah dan Lembaga Keuangan Syariah lainnya yang lebih adil dan menentramkan.

By. Arie Syantoso
Wallahu’alam