INVESTASI, RISK AND RETURN DALAM EKONOMI SYARIAH

Standar

Banyak teori yang menjelaskan tentang konsep Investasi namun pada intinya, investasi adalah suatu action (tindakan) untuk memelihara, mengembangkan atau meningkatkan nilai aset yang dimiliki di masa depan.

Dalam Islam investasi merupakan bentuk aktif dari ekonomi syariah. Investasi merupakan kegiatan muamalah yang sangat dianjurkan, karena dengan berinvestasi harta yang dimiliki menjadi produktif dan mendatangkan manfaat bagi pertumbuhan ekonomi dan masyarakat secara luas.

Investasi juga merupakan langkah awal kegiatan produksi untuk membangun kegiatan ekonomi. Ini bisa dilihat dari dinamika penanaman modal yang mempengaruhi tinggi rendahnya pertumbuhan ekonomi dan mencerminkan marak lesunya pembangunan.

Strategi investasi jauh lebih efektif ketimbang membiarkan harta menganggur. Sebab setiap harta ada zakatnya, jika harta tersebut didiamkan maka lambat laun akan termakan oleh zakatnya dan investasi juga menghindari efek negatif inflasi (fiat money) yang setiap tahunnya berdasarkan fakta emipiris sekitar 7%.

Dorongan Islam untuk kegiatan investasi dapat dipahami dari larangan Alquran terhadap aktivitas  penimbunan (iktinaz) uang dan  harta yang dimiliki QS. at-Taubah:35. “(Ingatlah) pada hari ketika emas dan perak dipanaskan dalam neraka Jahannam, lalu dengan itu diseterika dahi, lambung dan punggung mereka (seraya dikatakan) kepada mereka, “Inilah harta bendamu yang kamu simpan untuk dirimu sendiri, maka rasakanlah (akibat dari) apa yang kamu simpan itu”.

Rasulullah sendiri tidak setuju membiarkan sumber daya modal tidak produktif dengan mengatakan : ”Berikanlah kesempatan kepada mereka yang memiliki tanah untuk memanfaatkannya, dengan caranya sendiri dan jika tidak dilakukannya, hendaklah diberikan pula orang lain agar memanfaatkannya” (HR Muslim).

Selain itu khalifah Umar R.A menekankan agar umat Islam menggunakan modal mereka secara produktif dengan mengatakan :”Mereka yang mempunyai uang perlu mengivestasikannya, dan mereka yang mempunyai tanah perlu mengeluarkannya”.
—————
Kegiatan berinvestasi bukan seperti pelari sprinter. Jalan pintas cepat kaya, mencapai kesuksesan instan atau profit besar dalam waktu yang sesingkat-singkatnya.

Seorang investor harus memiliki mindset yang benar, serta ilmu dan skiil yang memadai untuk memperbesar peluang mendapatkan return yang positif. Ini dikarenakan hasil Investasi itu fluktuatif berbeda dengan mendepositokan uang dengan return bunga riba yang pasti.

Di ekonomi konvensional aktifitas investasi lekat dengan konsep bunga dimana setiap investasi yang terjadi diasumsikan selalu berakhir untung (positif). Investasi konvensional tidak mengakomodasi kemungkinan rugi.

Berbeda dengan ekonomi syariah, system ini menggunakan konsep bagi hasil dimana asumsi dasarnya adalah kefitrahan usaha yang dapat untung dan dapat pula rugi.

Dalam Ekonomi Syariah spekulasi dalam segala bentuknya atau menanamkan dana atas motif profit atau return dalam bentuk bunga (interest rate) bukanlah investasi!

Dalam ekonomi syariah, setiap investor diharuskan menghadapi resiko yang ada setelah memperhatikan profil investasi yang mereka pilih akibat action yang mereka lakukan. Maka dari itu investor yang sukses memiliki pemahaman yang tajam soal bagaimana mengelola resiko. Bukan menghilangkan resiko yang sudah menjadi sunnatullah.

Supaya investasi menghasilkan hasil yang halal maka bagi seorang investor muslim haruslah memperhatikan prinsip syariah dalam berinvestasi, yakni harus terhindar dari praktek riba, gharar, maysir (spekulasi) :

1.Transaksi dalam investasi yang dilakukan harus terbebas dari riba (bunga). Karena itu investasi dalam bentuk deposito maupun pembelian saham kepada perusahaan yang menjalankan sistem riba seperti perbankan, asuransi, pegadaian, dsb, adalah dilarang.

2. Setiap transaksi harus bebas dari gharar, yaitu penipuan dan ketidak-jelasan. Dengah demikian  transaksi bisnis harus  transparan, tidak menimbulkan kerugian atau unsur penipuan disalah satu pihak baik secara sengaja maupun tidak sengaja. Gharar dapat pula diartikan sebegai bentuk jual beli saham dimana penjual belum membeli (memiliki) sahamnya tetapi telah dijual kepada pihak lain.  Karena itu Islam melarang praktek margin trading, short selling, insider trading. Demikian pula najasy (rumor) untuk mengelabui investor.

3. Setiap transaksi harus terbebas dari kegiatan maysir (spekulasi). Maysir dalam konteks ini bukanlah hanya perjudian biasa, tetapi adalah segala bentuk spekulasi di pasar uang atau pasar modal. Islam melarang spekulasi uang, karena menurut Islam uang  bukan komoditas. Karena itu Islam melarang spekulasi valuta asing.

4. Resiko yang mungkin timbul harus dikelola sehingga tidak menimbulkan risiko yang besar atau melebihi kemampuan menanggung risiko (maysir). Untuk itu diperlukan ilmu manajemen resiko.
—————
Menurut kamus ekonomi, resiko adalah kemungkinan mengalami kerugian atau kegagalan karena tindakan atau peristiwa tertentu.

Seorang Investor pada umumnya merupakan pihak yang sangat tidak menyukai resiko loss tetapi menginginkan return yang maksimal, untuk itulah dewasa ini, investasi di sektor financial melalui instrument bunga (interest) menjadi primadona di kalangan investor, karena menjanjikan tingkat return yang lebih tinggi dan likuid dibandingkan dengan investasi di sektor real.

Padahal dalam berinvestasi, seorang investor dihadapkan pada kondisi ketidakpastian terhadap apa yang terjadi. Bahwa ada sunatullah tidak ada hasil tanpa usaha serta tanpa resiko rugi. Bahwa masa depan merupakan sesuatu yang sangat sulit diprediksi. Bahwa selalu ada elemen ketidakpastian yang menimbulkan resiko. Bahwa perjalanan hidup manusia selalu berkaitan dengan angka-angka, perhitungan, dan untung rugi.

Tegasnya. Seorang Investor boleh saja merencanakan sebuah action investasi, namun investor tidak bisa memastikan apa yang akan didapatkan dari hasil investasi tersebut. Karena setiap usaha atau investasi selalu menyangkut ketidakpastian tentang risk-and-return. Memperkirakan semuanya berjalan lancar dan pasti tentu melawan sunnatullah.

Hal ini merupakan ketentuan Allah seperti yang disampaikan kepada Rasulullah dalam Q.S. Luqman ayat 34 : ”…dan tidak seorangpun yang dapat mengetahui dengan pasti apa-apa yang diusahakannya esok..”
—————
Dalam Islam setiap transaksi atau investasi yang mengharapkan hasil harus bersedia menanggung risiko.

A`isyah Radiallahu’anha meriwayatkan bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam telah bersabda : al-kharaj bi adh-dhomaan. “Hak memperoleh keuntungan (pendapatan/manfaat) adalah imbangan dari liabilitas (kesediaan menanggung kerugian).” HR. Abu Dawud.

Dalam al-qawaid al fiqhiyyah berbunyi : Al-Ghurmu bi al-ghunmi. “Kesediaan menanggung kerugian di imbangi dengan hak mendapatkan keuntungan”.

Dalam hal ini jika seorang investor hanya mau untung tapi tak mau menanggung kerugian atau melemparkan tanggung jawab kerugian kepada pihak lain maka amat bertentangan dengan prinsip umum al-kharaj bi al-dhaman di atas.

Sebab prinsip ini menegaskan bahwa pihak yang berhak mendapatkan keuntungan hanyalah pihak yang siap menanggung kerugian. Inilah prinsip umum Ekonomi Syariah yang adil.

Maka dari itu, INVESTASI maupun transaksi yang memastikan keuntungan, diharamkan menurut ajaran Islam.

قال الشافعي رحمه الله : (إِنَّمَا تُمْلَكَ الْغُلَّةُ بِالضَّمَانِ فِي الْمِلْكِ الصَّحِيحِ) الأم 4/4

Imam Syafii berkata : “Sesungguhnya keuntungan suatu harta hanya dapat dimiliki seseorang bila ia siap bertanggung jawab atas kerugian yang terjadi, sebagai konsekwensi dari kepemilikannya yang sah terhadap harta tersebut. (Al Umm 4/4)

Al Ghazali berkata : Keuntungan merupakan kompensasi dari kepayahan perjalanan, risiko bisnis dan ancaman keselamatan diri pengusaha. Sehingga wajar seseorang memperoleh keuntungan yang merupakan kompensasi dari resiko yang ditanggungnya.
—————
Dalam Islam, setiap transaksi khususnya berinvestasi, paling tidak harus memastikan terhindar atau bebas dari dua hal: (1) haram secara dzat, dan (2) haram secara proses (lighoiri dzatihi).

Penerapan bunga dalam bentuk apa saja pada pinjaman dan investasi, adalah suatu pengingkaran pada prinsip keadilan dan tidak rasional, serta haram secara proses.

Segala bentuk tawaran investasi yang mengaku menggunakan sistem bagi hasil, namun tidak mengikuti kaidah-kaidah seperti di atas, yakinlah bahwa tawaran tersebut menyesatkan dan sebaiknya dijauhi karenanya hasil tersebut haram untuk dinikmati, ciri-ciri investasi tersebut diantaranya : Menjanjikan tingkat return yang pasti dan menggiurkan (ighra’). Tetap menjanjikan keuntungan walau usahanya merugi. Jaminan modal kembali, tanpa memperhitungkan hasil investasi. Dan lain-lain diluar akal sehat. Investasi dengan ciri-ciri tersebut diatas, wajib ditolak.

Mulailah untuk memastikan invetasi dengan bijaksana agar keputusan berinvestasi yang dilakukan tidak hanya didorong oleh pertimbangan materi. Karena tujuan yang baik, tidak kemudian menghalalkan segala cara dalam rangka mencapainya (al ghoyatu la tubarriru al washilah), tapi juga memastikan aman secara syariah (halalan thayiban).

By. Arie Syantoso
Wallahu A’lam