KIKIR DAN BOROS

Standar

Ada dua aliran pemikiran besar tentang standar hidup yang mengacu pada cara hidup dan tingkat kesenangan. Pertama menganut penolakan terhadap kenikmatan duniawi, dan yang kedua menganggap menikmati kesenangan duniawi sebagai tujuan hidup.

Islam mengambil jalan tengah antara kedua pandangan ekstrim tersebut, yang dianut oleh kaum puritan dan meterialis. Islam melarang paham asketisme sebagai suatu cara hidup yang tidak sesuai dengan fitrah manusia dan mencela paham materialisme sebagai pemborosan.

Asketisme akan membawa pada kemiskinan dan kekikiran, sementara paham materialisme membuat orang-orang menjadi pemboros serta mementingkan diri sendiri. Islam mencela kedua sifat tersebut KIKIR DAN BOROS, serta menganjurkan orang-orang agar bersikap sederhana dalam pengeluaran mereka.

KIKIR.

Kekikiran mengandung dua arti :
Pertama, jika seseorang tidak mengeluarkan hartanya untuk diri, dan keluarganya sesuai dengan kemampuannya.
Kedua, jika seseorang tidak membelanjakan suatu apapun untuk tujuan-tujuan yang baik dan amal.

Dalam Islam, sifat kikir ini secara umum dianggap sebagai pelaku kejahatan.

Pertama, dikarenakan mereka tidak bersyukur kepada Allah dengan tidak mau membelanjakan harta yang Allah anugerahkan pada mereka untuk diri sendiri, keluarga atau teman-teman mereka.
Kedua dikarenakan mereka menahan kekayaan dari masyarakat, guna manfaat yang sangat besar dalam proses produksi dan pengembangan harta, dan
Ketiga karena dengan menahan kekayaannya mereka bertanggung jawab turunnya tingkat konsumsi, dan karena itu menurunkan pula tingkat produksi dan lapangan kerja dalam masyarakat.

Melihat beratnya pengaruh penumpukan harta, lebih jauh al-quran memberi peringatan pada orang-orang kikir dalam surat al-Takatsur, ayat 1-2 : “Saling berlomba-lomba dalam menumpuk kekayaan di dunia ini telah melalaikan kamu, sampai kamu masuk ke dalam kubur”.

Kecintaan akan status sosial dan prestise, membuat sebagian orang begitu buta sehingga mereka mencari harta yang berlimpah dan menumpuknya tanpa mengetahui fungsi yang sebenarnya. Ini tentu saja akan mengakibatkan kekacauan ekonomi serta menyengsarakan bagi jutaan masyarakat.

Menabung sampai titik tertentu, mungkin baik dan bermanfaat, karena itu diperbolehkan. Tetapi menumpuk kekayaan yang tidak dipergunakan untuk melayani masyarakat yang membutuhkan merupakan suatu tindakan yang merusak dan sama sekali tidak dapat dimaafkan dan ditolerir.

Dalam al-Quran Surat. al- Humazah ayat 1-3 sekali lagi Allah mencela orang-orang yang menimbun harta kekayaannya dengan ungkapan : “Celakalah bagi setiap pengumpat dan pencela, yang mengumpulkan harta dan menghitung-hitungnya. Dia mengira bahwa hartanya itu dapat mengekalkannya”.

BOROS.

Pemborosan paling tidak mengandung 3 arti. Pertama, membelanjakan harta untuk hal-hal yang diharamkan. Kedua, pengeluaran yang berlebih-lebihan untuk barang-barang yang halal, baik di dalam batas maupun di luar batas kemampuan seseorang. Ketiga, pengeluaran untuk tujuan-tujuan amal saleh tetapi dilakukan semata-mata untuk pamer.

Jika Islam mencela orang yang bersifat kikir dalam menafkahkan hartanya, maka Islam juga mencela para pemboros. Kikir menahan masyarakat untuk mempergunakan sumberdaya dengan baik, sementara pemborosan menghambur-hamburkan harta pada hal-hal yang tidak perlu dan berlebih-lebihan.

Al-Quran dalam surat al-Isra’ ayat 26-27 mencela perbuatan ini dengan kalimat : “Dan Janganlah kamu menghambur-hamburkan hartamu secara boros. Sesungguhnya pemboros-pemboros itu a saudaranya syantan dan syaitan itu sangat ingkar kepada Tuhannya”.

Dengan tafsir, perkataan pemboros yang dipergunakan itu berarti membelanjakan harta untuk pemuasan kebutuhan-kebutuhan yang dihalalkan dan keinginan-keinginan yang haram dan amoral.

Dalam al-Quran surat al-A’raf ayat 31 dapat kita baca : “Makan dan minumlah dan janganlah berlebih-lebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebih-lebihan”.

Jelaslah, bahwa membuang-buang harta yang dapat bermanfaat untuk tujuan-tujuan produktif bagi masyarakat merupakan suatu dosa yang berat dihadapan Allah.

Menurut Abu Hurairah, Nabi pernah berkata “Bahwa satu hal yang sungguh tidak disenangi Allah adalah pemborosan, membelanjakan harta untuk hal-hal yang tidak perlu”.

Setiap individu hendaklah bersikap sederhana dalam mengeluarkan harta sehingga pengeluaran tersebut tidak menghambat sirkulasi kekayaan (sebagai akibat dari penimbunan harta) dan tidak pula melemahkan kekuatan ekonomi indivdu dan masyarakat (yang disebabkan oleh pemborosan).

Islam menganjurkan suatu jalan tengah yang baik antara dua jalan hidup yang ekstrim dengan memerintahkan pengeluaran belanja yang wajar tanpa ada mubadzir. Hemat, namun tidak kikir.

Jika kesederhanaan dalam membelanjakan harta tersebut dengan sangat baik dan bijak terlaksana maka tidak menutup kemungkinan akar kejahatan-kejahatan ekonomi yang bersumber dari pemborosan dan kekikiran akan sirna.

Al-Quran surat al-Furqan ayat 67 : “Dan (termasuk hamba-hamba Tuhan yang Maha Pengasih) orang-orang yang apabila membelanjakan (hartanya) tidak berlebih-lebihan, dan tidak pula kikir, dan jagalah kesimbangan di antara keduanya secara wajar”.

Wallahu’alam