FENOMENA TUKAR MENUKAR UANG RECEH PLUS KEUNTUNGAN

Standar

Hidup manusia selalu terjebak kebiasaan, tanpa lebih dan kurang. Semua kebiasaan ini dianggap kebiasaan, dalam kerangka kebiasaan itu kita biasa menyebutnya sebagai benar.

Alfred Schulzt (filsuf fenomenologo sosial) menyebutnya sebagai We Wier Character (karakter kekitaan). Dalam karakter kekitaan ini, kita menyebut sesuatu sebagai benar bukan karena ia benar melainkan karena terlampau banyak orang yang melakukannya (di sini muncul asumsi: tak mungkin semua orang salah), dalam waktu yang lama (ada asumsi: kalau salah, pasti sudah lama diganti), dan dilakukan secara berulang-ulang (asumisnya: kalau tindakan ini salah, tidak mungkin diulang-ulang).

Semua orang ada dalam jebakan ini, melakukan kegiatan dalam tawanan karakter kekitaan. Begitu pun dalam kegiatan ekonomi.

Praktik ekonomi muncul dalam kegiatan yang terjebak dalam rutinitas yang tidak pernah mengkritik diri.

Kegiatan ekonomi, tidaklah dibiarkan begitu saja namun juga harus dikritisi, dipertanyakan, dan ditentukan batas-batas benar salahnya oleh Norma Agama.

Kegiatan Ekonomi bukan sekedar pemenuhan kebutuhan hidup manusia. Kegiatan Ekonomi terkait dengan yang baik, dengan nilai, juga etika. Praktek ekonomi haruslah ditujukan untuk mendukung kebaikan bersama.

Ekonomi dianggap baik karena terkait dengan tujuan kemanusiaan untuk hidup lebih baik, memproduksi barang maupun jasa lalu dipertukarkan.

Agar pertukaran menjadi baik, maka ia harus adil, agar pertukaran dapat menjadi adil, maka barang/jasa yang dipertukarkan dalam pertukaran tersebut harus bernilai setara.

Oleh karena itu kemudian diperlukan “sesuatu” yang dapat diterima secara umun sebagai media petukaran (medium of exchange) yang sekarang disebut uang.

Uang jelas tidak dibutuhkan untuk uang itu sendiri. Uang diciptakan untuk melancarkan pertukaran dan menetapkan nilai yang wajar dari pertukaran barang atau jasa.

Bagaimana mungkin ada orang yang menjual uang demi uang ?

Ada, bahkan sering terjadi terutama saat-saat menjelang hari raya idul fitri sekarang ini. Di berbagai ruas jalan dikota-kota besar kita jumpai para penjaja uang receh berjejer di tepi jalan. Mereka menawarkan uang receh dengan satuan Rp.1000, Rp.2000, Rp.5000, Rp.10.000, sampai Rp.20.000.

Dalam praktek nya 100 lembar uang dengan satuan Rp.1000 ditukarkan dengan uang Rp.110.000 atau bahkan Rp.120.000. Ada selisih 10-20% keuntungan bagi penjaja uang receh tersebut.

Bagaimana hukum transaksi menukar uang receh dengan kelebihan dalam Ekonomi Syariah ?

Dalam kajian ekonomi Syariah, Uang harus dianggap sebagai alat dagang bukan untuk diperdagangkan, sebagai alat tukar dan pengukur nilai barang dan jasa. Uang bukan komoditas yang layak untuk diperjual belikan.

Uang disamakan “illat”/alasannya dengan emas dan perak yang merupakan benda ribawi. “illat” emas dan perak menjadi benda Ribawi karena merupakan alat tukar. Begitu juga dengan uang di zaman sekarang.

Pada benda ribawi yang sejenis. Syarat sahnya adalah harus sama nilai dan kontan. Bila salah satu berlebih maka terhukum Riba Fadhl.

Kaidah fiqih terkait Riba Fadhl :

أن كل ربويين اتحدا في الجنس والعلة (علة ربا الفضل) ، فإنه يشترط عند مبادلة أحدهما بالآخر شرطان : التماثل ، والحلول والتقابض

“Setiap barang yang jenis dan ilatnya sama maka boleh ditukarkan dengan berdasar pada dua syarat; yaitu sama banyaknya dan tunai”.

Uang Rupiah termasuk barang Ribawi. Apabila Rupiah ditukar dengan Rupiah (keduanya sama jenis dan ilatnya) maka harus terpenuhi dua syarat: Sama banyak dan tunai.

Contoh. Rp 100.000 ditukar dengan Rp 100.000. 100 lembar uang dengan satuan Rp 1000 ditukarkan dengan uang Rp 100.000, dan harus tunai.

Allah ta’ala telah mengingatkan bahaya riba :

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَذَرُوا مَا بَقِيَ مِنَ الرِّبا إِنْ كُنْتُمْ مُؤْمِنِينَ فَإِنْ لَمْ تَفْعَلُوا فَأْذَنُوا بِحَرْبٍ مِنَ اللَّهِ وَرَسُولِهِ وَإِنْ تُبْتُمْ فَلَكُمْ رُؤُوسُ أَمْوَالِكُمْ لا تَظْلِمُونَ وَلا تُظْلَمُونَ

“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan tinggalkanlah riba yang tersisa jika kalian benar-benar beriman. Jika kalian tidak melakukannya maka umumkanlah perang terhadap mereka dari Allah dan Rasul-Nya. Jika kalian bertaubat maka bagi kalian pokok-pokok harta kalian. Kalian tidak menzhalimi dan tidak pula terzhalimi.” Al-Baqoroh: 278-279

Jabir bin Abdullah Radhiyallahu’anhuma berkata :

لَعَنَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم آكِلَ الرِّبَا وَمُوكِلَهُ وَكَاتِبَهُ وَشَاهِدَيْه وَقَالَ هُمْ سَوَاءٌ

“Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam melaknat pemakan riba, orang yang memberi makan, penulisnya dan dua orang saksinya. Beliau bersabda: Mereka sama.” HR. Muslim

Wallahua’lam

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s