KEKAYAAN ADALAH KUALITAS KEDUA

Standar

Ya. Kekayaan adalah kualitas kedua setelah Agama. Kekayaan tidak dijauhi melainkan diikat dengan nilai agama.

Imam al-Ghazali mengatakan Manusia harus berusaha, karena memiliki pendapatan dan kekayaan adalah hak asali manusia.

Doktrin ini mendorong umat Islam menciptakan pekerjaan untuk kebahagiaan dunia dan akhirat, yang menghasilkan wacana pengelolaan ekonomi yang lebih kaya.

Secara praktis, Islam tidak hanya membicarakan soal pengurusan rumah tangga (oikonomia : ekonomi) namun juga membicarakan banyak masalah seperti pekerjaan, pentingnya peran Negara dalam menjaga stabilitas pasar, dan tema-tema lain yang kemudian baru berkembang pada beberapa abad kemudian pada literatur Ekonomi Konvensional.

Islam mendorong umatnya untuk menguasai harta dan tidak menjauhinya. Misalnya ada ayat yang menegaskan, “Harta dan anak adalah perhiasan dunia” (QS 18:46) yang telah ditafsirkan secara positif bahwa kekayaan merupakan unsur yang cukup penting.

Ibn Habbariyyah (w. 509/1115) dalam kitab Falak al-Ma‟ani mengatakan :

“Kekayaan menaikkan derajat pemiliknya, bahkan walau dia berasal dari keturunan yang rendah dan kurang terpelajar. Kekayaan mengubahnya menjadi cerdik walaupun ia pengecut. Kekayaan melancarkan lidahnya walaupun ketika dia dalam keadaan bingung. Kekayaan dapat mencurahkannya pada karakteristik yang baik. (Dengan kekayaan) hubungan dapat terbina, reputasi baik terlindungi, kejantanan semakin tampan, kepemimpinan naik, dunia menerima karunia, tujuan tercapai, dan keinginan terpenuhi. Kekayaan dapat menciptakan hubungan dengan orang lain setelah yang lainnya terputus, memberikan satu kemenangan ketika yang satunya dihinakan. Kekayaan juga dapat memperbudak orang yang bebas tunduk pada hal yang menguntungkan dirinya. Kalau bukan karena kekayaan, kemuliaan orang-orang mulia tidak akan tampak demikian pula keserakahan. Orang dermawan juga tidak akan mendapat ucapan terima kasih, orang pelit tidak akan dijelek-jelekkan. Kaum wanita tidak akan mendapat perlindungan dan karunia pun tidak akan diperoleh”.

Penghormatan atas kekayaan ini kerap disandingkan dengan agama. Misalnya dalam kriteria istri yang baik ditentukan secara hierarchies dari agama, kekayaan, kesopanan, karakter yang baik, dan kedermawanan. Bahkan dikemukakan barang siapa memiliki kelima kualitas tersebut maka ia suci, takwa, dekat dengan Tuhan, dan jauh dari setan.

Al-Fadhl ibn Yahya (al-Barmaki, w.193/808) berkata :

“Manusia terdiri dari empat strata: Pertama. Pemerintah, yang keutamannya berasal dari haknya untuk memerintah (istishaq). Kedua. Wazir yang statusnya bergantung pada kecerdikan dan keputusannya; Ketiga. Orang kaya yang diangkat oleh kekayaannya; dan Keempat. Orang kelas menangah yang dihubungkan dengan mereka oleh pendidikannya (ta‘addub). Sedang selebihnya hanyalah buih yang akan menghilang, sampah yang mengambang, serta pria dan wanita yang hina. Yang menjadi perhatian mereka ini hanyalah makan dan tidur”.

Suatu ketika Muawiyah bertanya kepada Al-Ahnaf, terangkan tentang masyarakat kepadaku. Al-Ahnaf menjawab, Masyarakat terdiri atas para kepala, yang terangkat karena keberuntungannya; para hulubalang raja yang diagungkan karena kemampuannya dalam administrasi (tadbir); orang kaya yang kedudukannya bergantung pada kekayaannya, dan budayawan yang kedudukannya bergantung pada pendidikannya. Sedang selebihnya adalah bagaimana binatang, jika lapar mereka minta, jika sudah kenyang, mereka tidur.

Menurut Ibnu Sina, kekayaan dapat diperoleh dalam dua cara: warisan (al-Warātsah) dan usaha produktif (al-Kasb).

Mereka yang memperoleh dari warisan tidak perlu berusaha untuk mendapatkan kekayaan. Warisan ini diperoleh dari ayah atau nenek moyang tanpa perlu bekerja. Bagi mereka yang tidak memiliki warisan, mereka harus bekerja untuk mendapatkan rezeki tersebut.

Setelah mendapatkan kekayaan, orang itu harus mengalokasikan atau menghabiskan (sisi pengeluaran) kekayaannya dalam tiga cara, yaitu :
1. Pengeluaran Pribadi.
2. Pengeluaran Agama. dan
3. Tabungan.

Ini berarti kegiatan ekonomi harus terikat dengan syariat dalam rangka mencapai keadilan, yang merupakan tujuan dari syari’ah.

Ibnu Sina menegaskan bahwa hidup manusia harus diperoleh dengan cara yang tepat dan penuh kebaikan, serta jauh dari sifat tamak dan pelit, juga jauh dari keinginan tidak pantas.

Menumpuk harta kekayaan tidaklah baik dan yang baik adalah berbagi kekayaan secara merata dan menciptakan masyarakat yang adil di mana orang miskin dan lemah diperlakukan secara hormat.

Wallahua’lam

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s