ETIKA, AKAL, EKONOMI DAN POLIGAMI

Standar

Ilmu praksis dalam Islam meliputi tiga bidang utama: etika, ekonomi, dan politik. Etika adalah ilmu (seni) yang menunjukkan bagaimana seharusnya hidup.

Bahkan bukan sekadar hidup, melainkan hidup bahagia, ekonomi adalah manajemen rumah tangga, dan politik adalah pengaturan kemasyarakatan agar mencapai kehidupan bersama yang penuh kebahagiaan.

Semua ilmu praksis ini, oleh para filsuf muslim, dibicarakan dengan selalu merujuk pada basis teoritiknya (rasio teoritisnya) dan rujukan agama. Karena bagi para filsuf ini, ilmu praktis tidak bisa lain merupakan aplikasi dari ilmu-ilmu teoritik, termasuk ilmu metafisik.

Etika sebagai ilmu praktis dirujukkan pada basis filosofis bahwa manusia dengan akalnya merupakan makhluk yang khas, berbeda dengan makhluk lainnya.

Untuk itulah Nashirudin Thusi, menyatakan bahwa kesempurnaan manusia terletak pada AKAL nya, bukan pada fisik dan lainnya. Barangsiapa yang berhasil mengaktualkan potensi rasionalnya, ia lah yang akan menjadi manusia utama, manusia yang paling bahagia.

Lebih jauh lagi, Mulyadhi Kartanegara, menggambarkan : Keutamaan moral seseorang terletak dari seberapa jauh jiwa rasionalnya (al-nafs al-nuthgiyyah) dapat mengontrol atau mengendalikan nafsu-nafsu lainnya, seperti nafsu syahwat dan ghadabiyyah.

Hanya akallah (dalam arti akal praktis yang bertindak sebagai mudabbir) yang dapat mengendalikan nafsu-nafsu lainnya. Kalau hal itu berhasil ia lakukan, maka dari nafsu-nafsu ini justru akan muncul sifat-sifat yang baik, karena akal mampu membawa dorongan-dorongan jiwa itu pada posisi moderatnya, sebuah doktrin yang dikenal sebagai the golden means, atau jalan tengah emas.

Sedangkan karakter yang buruk muncul ketika akal seseorang gagal dalam mengendalikan dorongan dorongan ekstrim nafsunya. Akallah yang dapat dijadikan andalan untuk mengatasi sifat-sifat buruk atau penyakit mental sehingga manusia akan dapat mencapai kebahagiaan yang menjadi tujuan utama dibentuknya etika.

Ekonomi juga demikian. Akal menjadi prinsip utama atau kesempurnaan yang bisa membawa kebahagiaan. Sejumlah argument Thusi mengenai bagaimana mengelola rumah tangga didasarkan oleh kategori akal.

Sebut saja dua pemikiran Thusi dalam pengelolaan rumah tangga, yakni kriteria memilih istri dan alasan penolakan poligami. Bagi Thusi, kriteria istri yang utama bukanlah kecantikannya, melainkan akalnya, baru kemudian kehormatan, kesucian, kebaikan, kesederhanaan, kelembutan hati, akhlak dan ketaatan pada suami.

Terlihat bahwa akal menjadi kriteria utama, sementara yang lainnya sekedar turunan dari akal. Sementara pemikiran Thusi ihwal penolakan terhadap poligami disusun dengan argument yang menarik.

Thusi menyatakan bahwa suami diibaratkan dengan jiwa, sedangkan istri adalah badannya, maka jiwa yang memiliki hanya satu badan akan lebih dapat dikelola daripada satu jiwa dengan pelbagai macam badan.

Sumber.
Filsafat Ekonomi Islam.
By. Anton & Q-Anees.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s