TAWAKKAL ATAU TAWAAKAL

Standar

“Barangsiapa yang tawakkal kepada Allah, maka Dia akan mencukupinya”. QS. Ath-Thalaq ayat 3.

Pemahaman yang salah terhadap makna “tawakkal” merupakan hal yang riskan terhadap umat Islam. Sehingga berdampak pada munculnya sebagian orang yang mendekatkan diri kepada Allah dengan meninggalkan dunia, mengabaikan pemakmurannya, dan menjauhi kegiatan ekonomi, sehingga di dalam kalangan umat Islam tersebar “pengangguran yang berdalih ibadah”.

Allah Subhanahu wata’ala menjadikan usaha dan ragam kegiatan ekonomi sebagai sebab bagi keberhasilan manusia terhadap rezeki yang diperoleh.


Ketika seseorang bertanya kepada Rasulullah “Ya Rasulullah, aku membawa unta, apakah aku mengikatnya, ataukah aku melepaskannya dan tawakkal? Maka beliau menjawab, Ikatlah Unta itu, lalu tawakkalah”.

Dan ketika Umar Radhiyallahu Anhu melintasi sekelompok orang, beliau berkata kepada mereka, Siapakah kamu? “Kami adalah orang-orang yang paling tawakkal (mutawakkilun)! Jawab mereka. Maka Umar berkata, Tidak! Bahkan kamu adalah orang-orang yang mengandalkan pemberian manusia (muttakilun)! Maukah kamu jika aku beritahukan tentang orang yang tawakkal? Dia adalah seseorang yang menabur benih ditanah, kemudian berserah diri kepada Tuhannya”.

Hakikat tawakkal memiliki beberapa substansi penting :

1. Perbedaan antara “tawakkal” dan “tawaakal”. Tawakkal artinya berserah diri kepada Allah Ta’ala, yaitu bila seseorang yang menampakkan kelemahannya dengan mengandalkan dan percaya diri sepenuhnya kepada Allah Ta’ala disertai mengambil sebab-sebab yang Lazim. Sedangkan tawaakal adalah meninggalkan sebab dengan menyia-nyiakan urusan, namun mengandalkan orang lain dalam mendapatkan apa yang diinginkannya.

2. Tawakkal tidak menafikan pengambilan sebab atau usaha bahkan mengharuskannya, karena meninggalkan sebab atau usaha secara total tertolak oleh akal sehat, syariat, dan panca indera.

3. Tawakkal merupakan pekerjaan hati, bukan ucapan lisan dan bukan pula perkerjaan anggota badan.

4. Tawakkal merupakan energi spiritual yang mendukung kekuatan material dan melindunginya dari kelemahan, kesombongan dan keterpedayaan.

5. Tawakkal kepada Allah menuntut keyakinan bahwa rizki berada di tangan-Nya, dan apa yang ditakdirkan-Nya kepada manusia tentang rizki pasti sampai kepadanya. Ini bukan berarti mengajarkan seseorang duduk dalam mencari rezeki, bahkan mengharuskannya berusaha.

Umar Radhiyallahu Anhu mengatakan “Tidak seorang pun melainkan memiliki rezeki yang menjadi haknya. Walaupun seseorang lari dari rezekinya, maka akan diikutinya hingga didapatkannya. Maka bertaqwalah kepada Allah, dan perbaguslah dalam usaha mencari”.

Wallahua’lam

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s