​AKAD / KONTRAK DALAM SYARIAT ISLAM

Standar

Akad berasal dari bahasa Arab “aqd” yang diartikan perjanjian atau kontrak. Secara epsitemologi bermakna mengikat, menyambung atau menghubungkan (ar-rabt). Secara terminologi berarti perikatan antara ijab dan qabul dengan cara-cara yang disyariatkan dan menimbulkan implikasi hukum tertentu.

Tujuan diciptakannya teori akad ini dalam rangka mewujudkan kemaslahatan harta (hifz al-mal).

DALIL TENTANG AKAD

Sumber keabsahan akad didasarkan pada Al-Quran dan Hadits, disamping itu juga didukung oleh sumber hukum Islam lainnya, seperti ijma’ (kesepakatan ulama) dan juga qiyas (teori perbandingan hukum).
Al-Quran

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا أَوْفُوا بِالْعُقُودِ

Wahai orang-orang yang beriman! Penuhilah janji-janji. QS. Al-Mā`idah : 1.

Hadits.

الْمُسْلِمُوْنَ عَلَى شُُرُوْطِهِمْ إِلاَّ شَرْطًا حَرَّمَ حَلاَلاً أَوْ أَحَلَّ حَرَامًا

“Orang-orang muslim itu senantiasa terikat kepada syarat-syarat (janji-janji) mereka, kecuali Syarat Yang Mengharamkan Suatu Yang Halal Atau Menghalalkan Suatu Yang Haram. HR. Abu Dawud

Asas-Asas KONTRAK Dalam Islam

Di dalam tataran praktek, perjanjian harus mempertimbangkan Asas-Asas atau prinsip-prinsip perjanjian dan etika bisnis Islam yang harus dipegang teguh di antaranya :

  1. Asas mabda’ al-ibahah. Prinsipnya bisnis itu boleh, kecuali ada dalil yang secara jelas melarang nya. اَلأَصْلُ فِى اْلأَشْيَاءِ اْلإِ بَا حَة حَتَّى يَدُ لَّ اْلدَّلِيْلُ عَلَى التَّحْرِيْمِ “hukum asal dari sesuatu (muamalah) adalah mubah sampai ada dalil yang melarangnya”
  2. Asas mabda’ hurriyah at-ta’aqud. Prinsip kebebasan berkontrak. Setiap orang dapat membuat kontrak jenis apapun dan memasukkan klausul apa saja sesuai dengan kepentingannya sejauh tidak dengan cara batil dan zalim.
  3. Asas Konsensualisme (mabda’ ar-radha’iyah). Pada prinsipnya untuk terciptanya suatu perjanjian cukup dengan tercapainya kata sepakat antara para pihak tanpa perlu dipenuhinya formalitas-formalitas tertentu.
  4. Asas Janji itu mengikat, merujuk pada alquran dan hadits agar memenuhi janji.
  5. Asas Keseimbangan (mabda’ at-tawazun fi al-mu’awadhah). Prinsip keseimbangan di antara para pihak yang berkontrak, baik pada pada apa yang diterima dan apa yang diberikan maupun dalam memikul resiko.
  6. Asas Kemaslahatan (mabda’ al-maslahah). Prinsip nya setiap kontrak itu tidak boleh menimbulkan kerugian (mudharat) atau keadaan memberatkan (masyaqqah). Jika terjadi perubahan keadaan yang tidak dapat diketahui sebelumnya serta membawa kerugian yang fatal sehingga memberatkan, maka kewajibannya dapat dan disesuaikan kepada batas yang masuk akal.
  7. Asas Amanah (mabda’ al-ammah). Prinsip ini mengharuskan para pihak yang berkontrak untuk memiliki i’tikad baik dan tidak saling mengeksploitasi ketidaktahuan mitranya.
  8. Asas Keadilan (mabda’ al-‘adalah). Prinsip keadilan merupakan sendi setiap kontrak. Para pihak yang berkontrak diharuskan transparan dan memberikan kesempatan mengenai klausul kontrak.

RUKUN AKAD

Kaedah Fiqh:

ﺍﻷﺼﻞ ﻓﻲ ﺍﻠﻌﻗﺩ ﺮﺿﺎﺍﻠﻣﺘﻌﺎﻗﺩﻴﻥ ﻭﻧﺘﻴﺟﺗﻪ ﻣﺎﺍﻠﺘﺰﻣﺎﻩ ﺒﺎ ﻠﺗﻌﺎﻗﺩ

“Pada dasarnya akad itu adalah kesepakatan kedua belah pihak dan akibat hukumnya adalah apa yang mereka ikatkan melalui janji”

Agar akad sah menurut syariat Islam maka harus memenuhi rukun dan syarat. Rukun didefinisikan sebagai unsur-unsur yang membentuk akad. Rukun akad terdiri dari 4 unsur yaitu :

1. Para Pihak yang Berakad (al-‘aqidani), yakni orang yang atas keinginan pribadinya bersepakat membuat akad perjanjian. Syaratnya :

a. Dewasa (tamyiz) yang diukur dengan kecakapan hukum (al-ahliyah). Kecakapan hukum maksudnya kelayakan menerima hukum dan bertindak hukum atau sebagai kelayakan seseorang untuk menerima hak dan kewajiban serta diakui tindakan-tindakannya secara syariah.

b. Berbilang atau lebih dari satu pihak (ta’bud), akad tidak dibuat oleh diri sendiri karena itu harus melibatkan orang lain.

2. Ijab Qabul (shighat al-‘aqd). Sebuah pernyataan kehendak. Syaratnya :

a. Adanya kesesuaian kehendak sehingga terwujud kata sepakat.

b. Satu majelis.

3. Objek akad (ma’qud alaih/mahal al-‘aqd). Syarat :

a. Objek aqad dapat diserahkan.

b. Dapat ditentukan.

c. Dapat ditransaksikan (benda bernilai dan dimiliki).

4. Tujuan akad (maudhu’ al-aqd).

a. Tijari  تـجـاري : Profit Transaction Oriented.

Tujuan transaksi mencari keuntungan yg bersifat komersil. Dilihat dari sifat keuntungan yang diperoleh, akad tijarah dibagi menjadi dua yaitu: Natural Certainty Return & Natural Uncertainty Return.

b. Tabarru’ تـبـرع : Not Profit Transaction.

Tujuan transaksi tolong-menolong & bukan keuntungan komersil. Pihak yg berbuat kebaikan tsb boleh meminta kepada counter-part-nya utk sekadar menutupi biaya (cover the cost) yg dikeluarkannya utk dapat melakukan akad tabarru’. Tapi ia tdk boleh sedikitpun mengambil laba dari akad tabarru’.

SYARAT-SYARAT AKAD

Syarat akad secara umum dapat dibagi menjadi 2 macam, yaitu :

  1. Syarat terbentuknya akad. Syarat terbentuknya akad apabila tidak terpenuhi, maka akad dianggap tidak ada atau batal.
  2. Syarat Sahnya akad yaitu syarat dimana apabila tidak terpenuhi tidak berarti akad tidak ada. Bisa saja akad nya ada dan telah terbentuk karena syaratnya telah terpenuhi, hanya saja masih belum sempurna atau fasid.

Syarat-syarat terbentuknya akad (syurut al-in’qad) meliputi 7 macam, yaitu :

  1. Bertemunya ijab dan qabul.
  2. Bersatunya majelis akad.
  3. Berbilang nya para pihak.
  4. Berakal/tamyiz.
  5. Objek akad dapat diserahkan.
  6. Objek akad ditentukan dan
  7. Objek dapat ditransaksikan (mutaqawwim).

Akad sah dari segi kekuatan hukum dibedakan menjadi 2, yaitu :

  1. Akad Mauquf yaitu akad yang tergantung kepada izin pihak ketiga.
  2. Akad Nafiz yaitu akad yang didalamnya masih terdapat khiyar  (hak memilih).
  3. Akad Lazim yaitu akad yang paling sempurna wujudnya dan bisa melahirkan akibat hukum penuh.

HAL-HAL YANG MEMBATALKAN AKAD

Setiap pihak yang Berakad harus berada pada posisi merdeka dan atas kehendak sendiri. Akad tidak boleh dipengaruhi oleh unsur-unsur yang menyesatkan pertimbangan dan kehendak para pihak.

Dalam syariat Islam disebut dengan ‘ayub ar-ridha (hal-hal yang mencederai kerelaan) atau ‘uyub al-iradah (hal-hal mencederai kehendak), yakni diantaranya :

  1. Paksaan (al-ikrah / dwang). Tekanan atau ancaman dengan menggunakan cara-cara yang menakutkan, sehingga terdorong melakukan atau tidak melakukan sesuatu.
  2. Penipuan (at-tagrir/tadlis atau bedrog). Tindakan mengelabui dengan perkataan (tagrir al-qaul) atau perbuatan bohong (tagrir al-fi’il).
  3. Kekhilafan  (al-ghalat / dwaling). Keadaan dalam diri seseorang yang mendorongnya menggambarkan sesuatu tidak sebagaimana mestinya.

Barakallahufikum

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s