AKAD (PERJANJIAN)

Standar

Akad berasal dari bahasa Arab “AQD” yang diartikan PERJANJIAN atau KONTRAK. Secara epsitemologi bermakna MENGIKAT, MENYAMBUNG atau MENGHUBUNGKAN (ar-rabt). Secara terminologi berarti PERIKATAN antara IJAB dan QABUL dengan CARA-CARA yang DISYARIATKAN dan MENIMBULKAN IMPLIKASI HUKUM tertentu.

Kaidah Fiqh.

الأَصْلُ فِى الْعَقْدِ رِضَى المُتَعَاقِدَيْنِ وَنَتِيْجَتُهُ مَا إلْتَزَمَاهُ بِالتَّعَاقُدِ.

“Pada dasarnya akad itu adalah kesepakatan kedua belah pihak dan akibat hukumnya adalah apa yang mereka ikatkan melalui janji”

الْمُسْلِمُوْنَ عَلَى شُُرُوْطِهِمْ إِلاَّ شَرْطًا حَرَّمَ حَلاَلاً أَوْ أَحَلَّ حَرَامًا

“Orang-orang muslim itu senantiasa terikat kepada syarat-syarat (janji-janji) mereka, kecuali Syarat Yang Mengharamkan Suatu Yang Halal Atau Menghalalkan Suatu Yang Haram.”

az-Zarkasyi megatakan :

العقود الجارية بين المسلمين محمولة على الصحة ظاهرا الى أن يتبين خلافه ولهذا اذا اختلفا فى الصحة والفساد صدق مدعى الصحة.

“Akad yang terjadi diantara kaum muslimin secara dzahir dihukumi sah, sampai ada bukti bahwa akad itu tidak sah. Karena itu, jika ada dua penilaian yang berbeda, antara sah dan tidak sah, maka lebih dimenangkan yang menilai sah.” (al-Mantsur fil Qawaid, 2/413)

TUJUAN diciptakannya teori akad ini dalam rangka MEWUJUDKAN KEMASLAHATAN HARTA (HIFZ AL-MAL).

RUKUN & SYARAT AKAD
Agar akad sah menurut syariat Islam maka harus memenuhi RUKUN dan SYARAT. Rukun didefinisikan sebagai UNSUR-UNSUR yang MEMBENTUK AKAD. Rukun akad terdiri dari 4 unsur yaitu :

1. Para PIHAK yang BERAKAD (al-‘aqidani), yakni orang yang atas keinginan pribadinya bersepakat membuat akad. Syaratnya :
a. Dewasa (TAMYIZ) yang diukur dengan kecakapan hukum (AL-AHLIYAH). Kecakapan hukum maksudnya kelayakan menerima hukum dan bertindak hukum atau sebagai KELAYAKAN seseorang untuk menerima HAK dan KEWAJIBAN serta diakui tindakan-tindakannya secara syariah.
b. BERBILANG atau lebih dari satu pihak (ta’bud), akad tidak dibuat oleh diri sendiri karena itu harus melibatkan orang lain.

2. IJAB QABUL (SHIGHAT al-‘AQD). Sebuah pernyataan kehendak. Syaratnya :
a. Adanya kesesuaian kehendak sehingga terwujud kata sepakat.

3. OBJEK AKAD (ma’qud alaih/mahal al-‘aqd). Syarat :
a. Objek aqad dapat diserahkan.
b. Dapat ditentukan.
c. Dapat ditransaksikan (benda bernilai dan dimiliki).

TUJUAN AKAD (Maudhu’ al-Aqd).
a. TIJARI تـجـاري : Profit Transction Oriented.
Tujuan transaksi mencari keuntungan yg bersifat komersil. Dilihat dari sifat keuntungan yang diperoleh, akad tijarah dibagi menjadi dua yaitu: Natural Certainty Return & Natural Uncertainty Return.
Contoh.
NCC. Jual beli & Sewa Menyewa
NUC. Mudharabah & Musyarakah.

b. TABARRU’ تـبـرع : Not Profit Transaction.
Tujuan transaksi tolong-menolong & bukan keuntungan komersil.
Contoh. Hibah, ‘Aariyyah, Qardh, Infaq dll

KARAKTERISTIK AKAD
Kaidah.

الأصل في العقود اللزوم

“Hukum asal akad itu mengikat”

Akad berdasarkan karakteristiknya dibagi menjadi 3, yaitu :

1. AKAD LAZIM adalah AKAD yang MENGIKAT KEDUA BELAH PIHAK pelaku akad. Akad ini TIDAK BISA DIBATALKAN, kecuali atas KERELAAN keDuanya. Misalnya, JUAL BELI, atau SEWA MENYEWA.
Contoh :
Akad Jual Beli. Pada akad JUAL BELI, penjual maupun pembeli tidak boleh membatalkan transaksi jual beli yang telah terlaksana secara sepihak.

2. AKAD JAIZ adalah AKAD yang TIDAK MENGIKAT KEDUA BELAH PIHAK pelaku akad. Sehingga BISA DIBATALKAN oleh SALAH SATUNYA secara SEPIHAK, TANPA harus menunggu IZIN pasangan akadnya. Misalnya, akad WADI’AH, ‘AARIYYAH, atau SYIRKAH.
Contoh :
Akad WADI’AH. Orang yang titip barang, boleh saja membatalkan akadnya dengan mengambil barangnya. Begitu pula orang yang dititipi barang, dia berhak untuk mengembalikan barang itu ke pemilik, dan membatalkan akad.

3. AKAD LAZIM SATU PIHAK dan JAIZ bagi PIHAK LAIN. Misal. Rahn (Gadai). Barang gadai tidak boleh diambil oleh orang yang berutang, kecuali atas izin yang menghutangi. Sehingga akad gadai, lazim baginya. Sementara orang yang memberi utang, bisa saja mengembalikan barang itu kapanpun, tanpa harus menuggu restu dari yang menghutangi.

KONSEKWENSI AKAD
Akad Berdasarkan Konsekwensi :
1. MEMINDAHKAN KEPEMILIKAN. Misalnya, JUAL BELI, atau PINJAMAN UANG (Qardh).
Contoh:
JUAL BELI (Bay’). Pada Akad Jual Beli saat barang sudah dibeli oleh si pembeli maka kepemilikannya sudah berpindah dari si penjual kepada si pembeli.

2. TIDAK MEMINDAHKAN KEPEMILIKAN. Misalnya, ‘AARIYYAH, MUDHARABAH atau IJARAH.
Contoh:
Sewa (Ijarah). Pada Akad Sewa dilakukan, maka ada penyerahan objek sewa yang memungkinkan manfaat barang sewa tersebut di manfaatkan, namun kepemilikan barang sewa tersebut tetap menjadi si pemilik sewa.

HAL² YANG MEMBATALKAN AKAD
Setiap pihak yang Berakad harus berada pada posisi merdeka dan atas kehendak sendiri. Akad tidak boleh dipengaruhi oleh unsur-unsur yang menyesatkan pertimbangan dan kehendak para pihak, yang dalam syariat Islam disebut dengan ‘AYUB AR-RIDHA (hal-hal yang mencederai kerelaan) atau ‘AYUB AL-IRADAH (hal-hal mencederai kehendak), yakni :

1. PAKSAAN (al-ikrah/dwang). Tekanan atau ancaman dengan menggunakan cara-cara yang menakutkan, sehingga terdorong melakukan atau tidak melakukan sesuatu.
2. PENIPUAN (at-tagrir/tadlisatau bedrog). Tindakan mengelabui dengan perkataan (tagrir al-qaul) atau perbuatan bohong (tagrir al-fi’il).
3. KEKHILAFAN (al-ghalat/dwaling). Keadaan dalam diri seseorang yang mendorongnya menggambarkan sesuatu tidak sebagaimana mestinya.

Wallahu’alam

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s