​KETIKA KELAK ANAKKU BERTANYA 

Standar

“Apakah tahun 2016 Ayah masih muda?” tanya anakku.
“Iya, Ayah masih muda. Masih gagah,” jawabku.

“Apa benar tahun 2004 di FATWAKAN BUNGA BANK ITU HARAM?” tanyanya menggugah ingatanku.
“Iya, benar. Telah lahir FATWA MAJELIS ULAMA INDONESIA Tentang BUNGA (INTEREST/FA’IDAH)
,” jelasku.

“Ayah, saya baca di beberapa tulisan, TIDAK ada REAKSI, TIDAK ada TUNTUTAN, TIDAK ada DEMO, TIDAK ada FOKUS untuk MEMBASMI Pelegalan Riba dalam lembaga perbankan. Bahkan, hingga tahun 2016, 12 tahun setelah difatwakan, saat dimana ayah masih gagah, market share Bank Syariah jauh lebih kecil ketimbang Bank yang melegalkan RIBA. Ayah ada di mana waktu itu?”

***

Aku membayangkan jika kelak anak-anakku bertanya tentang hal ini. Ya, kira-kira 20 atau 25 tahun yang akan datang, mereka membaca atau mendengar telah ada FATWA MAJELIS ULAMA INDONESIA Nomor 1 Tahun 2004 Tentang BUNGA (INTEREST/FA’IDAH) namun SEPI akan perhatian.

“Waktu itu Ayah masih muda, masih gagah. Dimana Ayah waktu itu?”

“Ayah, apa yang Ayah lakukan ketika  MAJELIS ULAMA INDONESIA telah MEMFATWAKAN BUNGA (INTEREST/FA’IDAH) HARAM?”

Kira-kira jawaban apa yang aku berikan kepadanya?

Apakah aku akan menjawab, “Nak, waktu itu Ayah belum membaca FATWA tentang BUNGA tersebut.” Atau, “Nak, Ayah sibuk kerja, tidak sempat mikir masalah HALAL HARAM BUNGA BANK.”

Jangan-jangan aku menjawab, “Nak, itu bukan urusan Ayah. Ngapain Ayah ikut mengusik sesuatu yang sudah dianggap LUMRAH oleh masyarakat bahkan pemerintahan kita, apa untungnya coba?.”

***

Dan, anakku berkata, “Melecehkan al Qur’an adalah ketika Allah SWT di dalamnya MEMERINTAHKAN kita MENINGGALKAN RIBA, bahkan MEMERANGINYA, tapi justru kita MENYUBURKANNYA, dan membiarkan pelaku utama sistem RIBA ini bercokol dan memaksakan riba sebagai WAY OF LIFE kita. Ayah, al Qur’an dilecehkan Ayah diam saja. Menganggap itu bukan urusan Ayah.

Pelegalan RIBA dalam lembaga perbankan, adalah PENISTAAN AGAMA dan PENISTAAN ALQURAN yang SUDAH secara terang benderang terjadi pada level ACTION KONKRET bahkan LEGAL FORMAL. Tidak hanya LISAN. Penistaan yang jauh luar biasa dan jauh lebih urgent. Lalu urusan Ayah apa?

Bahkan, FATWA keharaman bunga bank, nyata-nyata sudah ada sejak 2004 dan tak kurang sudah ada 108 Fatwa pendukung di Lembaga Keuangan Syariah nan selaras dengan gerakan anti penistaan Alquran yang penghinaannya sudah nyata-nyata dilakukan secara legal formal tersebut. Ayah ngapain aja?

***

Lamunanku buyar seketika.

Tidak! Aku akan berkata kepada anakku kelak. “Nak, Ayah salah satu dari sekian ratus juta ISLAMIC ECONOMIC WARRIOR.” Karena ayah mengerti, Islam itu kaffah yang juga mengurusi masalah ekonomi dan ekonomi itu THE PRINCE OF SOCIAL SCIENCE, yang tentu menjadi urusan banyak kalangan.

“Ayah ikut mengkampanyekan untuk BER-BANK SYARIAH, yang absolutely by design telah menggerogoti dan merubuhkan pilar BUNGA (INTEREST)”.

Ayah ikut mengkampanyekan “SHARIA BANKING IS THE LOGIC BANKING”, melalui Facebook.com/groups/BankSyariahNusantara, Nak. Kelak Ayah akan cerita kepadamu bagaimana masa muda Ayah.”

#AyoKeBankSyariah
#iLoveiB

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s