​TIME is MONEY

Standar

A. السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

B. وعليكم السلام ورحمة الله وبركاته

A. Bro, menurut pemahaman ente, Time Value of Money itu bagaimana?

B. Time Value of Money? Ya nggak gimana-gimana. La wong itu bukan konsep ekonomi Syariah kok.

Ekonomi Syariah itu bro, nggak pake konsep Time Value of Money (nilai waktu dari uang) turunan dari konsep Time is Money, yang dipake dalam ekonomi Syariah ituuu Economic Value of Time artinyaaa waktulah yang memiliki nilai ekonomi, bukan uang memiliki nilai waktu.

Islam, sangat sangat dan sangat menghargai waktu. Contohnya, perkataan Sayyid Quthb, الوقت الحياة (waktu itu adalah hidup) dan Imam Syafi’i,  الوَقْتُ كَالسَّيْفِ إِذَا لَـمْ تَقْطَعْهُ قَطَعَكَ (Waktu laksana pedang. Jika engkau tidak menggunakannya, maka ia yang malah akan menebasmu). Lebih keren, lebih bijak, dan lebih berbobot kan ketimbang Time is Money?

A. Yo i, cocok.

B. Bahkan didalam alquran Allah banyak bersumpah menggunakan waktu, seperti (والعصر، والضحى، والفجر، والليل) dan lain-lain.

Tapiii … Penghargaan terhadap waktu ini tidak mempersamakan nilai waktu dengan nilai yang dimiliki barang atau jasa, yang biasa diwujudkan dalam Rp atau persentase bunga tertentu, dalam pinjaman uang.

Kenapa? Karena optimalisasi Waktu itu variabel dan waktu nggak bisa berdiri sendiri. Waktu itu harus berkaitan dengan amal, jasa dan barang tertentu agar memiliki kualitas dan nilai.

Begitu.

A. Okay okay… sekarang tolong kasih ane gambaran konsep Economic Value of Time, yang membedakan dengan konsep Time Value of Money biar mudah ane pahami.

B. Bisa. Contoh pertama “Jual Beli Kredit”.

Pada jual beli kredit, Ekonomi Syariah membolehkan Harga Kredit lebih tinggi dari pada harga tunai, baik dengan menyesuaikan lamanya pelunasan maupun tidak. Kenapa? Karena tidak dilarang. Dan ini sama sekali juga bukan disebabkan time value of money, namun semata-mata karena ditahannya aksi penjualan.

Logikanya begini.

Apabila suatu barang dijual dengan tunai untung sebesar Rp.1000, maka penjual dapat membeli barang lain dan menjual barang beliannya tersebut. Dengan demikian, keuntungan penjual tersebut (dimungkinkan) dapat berlipat. Namun apabila barang dijual dengan Kredit, maka hak penjual tertahan dan tidak dapat membeli barang lainnya.

Sebagai kompensasi atas tertahannya hak penjual dari pembeli, maka Islam membolehkan (mengesahkan) Harga Kredit lebih tinggi dari Harga Tunai.

Contoh kedua, “Investasi”.

Dalam penentuan Nisbah Bagi Hasil dalam investasi, investor dan pengusaha harus memperhitungkan Return on Capital. Return on capital ini tidak sama dengan return on money. Return on capital tergantung pada jenis bisnis dan berkaitan dengan sektor riil, sedangkan return on money berkaitan dengan interest rate (suku bunga).

Penentuan Nisbah bagi hasil harus dilakukan di awal, dan untuk itu di gunakan project return. Jika kemudian ternyata actual return dari bisnis yang dibiayai tidak sama dengan angka proyeksinya, maka yang digunakan adalah angka aktual, bukan angka proyeksi.

Hal ini menunjukkan bahwa Islam tidak mengenal time value of money. Time mempunyai economic value jika dan hanya jika waktu tersebut dimanfaatkan dengan menambah faktor produksi yang lain, sehingga menjadi capital dan mendapatkan return.

Gimana-gimana, paham ya?

A. انشاءالله Bisa dipahami. Thanks ya bro.

B. Yup. You’re welcome.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s