AL GHABN FAHISY

Standar

AL GHABN FAHISY

AL GHABN menurut bahasa bermakna AL-KHADA’ (trik). Secara istilah GHABN adalah menjual/membeli sesuatu dengan harga yang lebih tinggi dari harga rata-rata.

AL GHABN FAHISY (trik yang keji) secara syar’i terhukum HARAM. Rasulullah ﷺ bersabda :

إِذَا بَايَعْتَ فَقُلْ لاَ خِلاَبَةَ

Jika engkau berjual-beli maka katakanlah, “Lâ khilâbah” (tidak ada penipuan). HR. al-Bukhari.

AlKhilâbah adalah alkhadî’ah (penipuan). Hadis tersebut telah menuntut agar alkhilâbah (penipuan) ditinggalkan, hukumnya adalah HARAM.

Hanya saja, GHABN (penipuan) yang haram itu harus memenuhi dua hal.

Pertama : harus berupa GHABN FAHISY (penipuan yang keji/zhalim). Tidak akan disebut penipuan jika hanya sedikit, yaitu masih masuk dalam rentang harga yang biasa terjadi di pasar. Sebab, selisih harga yang sedikit itu merupakan kemahiran dalam tawar-menawar.

GHABN itu disebut penipuan hanya jika FAHISY (zalim/keji), yaitu jika sudah melebihi kebiasaan, atau harganya berada di luar rentang harga yang biasa di pasar.

Kedua: orang yang ditipu itu pada saat akad tidak tahu harga yang biasa berlaku di pasar. Sebab, jika ia tahu dan tetap menerima transaksi itu, maka artinya ia tidak tertipu atau dicurangi dan ia menerima harga yang lebih tinggi atau lebih rendah itu disertai dengan pengetahuannya; dengan itu artinya ia ridha dengan harga itu disertai pengetahuan dia.

Penentuan kadar GHABN yang termasuk GHABN FAHISY itu mengikuti apa yang berlaku di pasar, yakni mengikuti penentuan para pelaku pasar atau para pedagang.

Kelebihan atau kekurangan harga GHABN FÂHISY dari harga pasar itu tidak ditentukan dengan kadar sepertiga, seperlima atau lainnya, melainkan tetap dikembalikan menurut istilah para pelaku pasar.

Jika terjadi perselisihan tentang apakah terjadi GHABN FAHISY atau tidak, maka hal itu dikembalikan pada penentuan nilai oleh para ahli pengestimasi (ahlu al-hibrah). Hal itu seperti penentuan harga yang sepadan (tsaman mitsli) atau upah yang sepadan (ajru al-mitsli).

Jika memenuhi dua ketentuan tersebut, yaitu terjadi GHABN FAHISY dan pihak yang ditipu tidak mengetahui hal itu pada saat transaksi, maka pihak yang tertipu itu memiliki khiyar (opsi).

Rasulullah ﷺ bersabda :

إِذَا أَنْتَ بَايَعْتَ فَقُلْ لاَ خِلاَبَةَ. ثُمَّ أَنْتَ فِى كُلِّ سِلْعَةٍ ابْتَعْتَهَا بِالْخِيَارِ ثَلاَثَ لَيَالٍ فَإِنْ رَضِيْتَ فَأَمْسِكْ وَإِنْ سَخِطْتَ فَارْدُدْهَا عَلَى صَاحِبِهَا

Jika engkau berjual-beli maka katakanlah, “Tidak ada penipuan.” Kemudian dalam setiap barang yang engkau beli, engkau memiliki khiyar tiga malam. Jika engkau ridha, pertahankan, jika engkau tidak ridha maka kembalikanlah kepada pemiliknya. HR Ibn Majah.

Wallahua’lam.

Ekonomi Syariah
https://t.me/ekonomisyariah

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s