​BANK SYARIAH DI KRITIK TERUS

Standar

Jika tak memiliki SKILL MEMUJI, milikilah ETIKA dalam MENGKRITIK.
Melempar kritik tanpa ILMU, mencurigai tanpa BUKTI, dan berbicara sekehendak hati dan mungkin hanya ISU. Bukanlah akhlak seorang muslim.

Lanjutkan membaca

​BANK SYARIAH DI DEBATIN TERUS

Standar

Jangan terbelit terlilit dari urusan lebih urgen kepada urusan urgen. Dengan dalih mensyariahkan bank syariah, bank-bank syariah dibelit dan terlilit sehingga terlihat kerdil lalu ditinggalkan.

Target yang jauh lebih hebat dan dahsyat kita sekarang adalah mensyariahkan bank konvensioal.

Dengan terus menerus berdebat artinya kita terus bersusah payah untuk mengkerdilkan Bank Syariah, agar Bank Syariah tidak berkembang, atau malah agar Bank Syariah ditinggalkan, lalu kapan kita akan memangkas pilar-pilar satanic finance ?

Lanjutkan membaca

“RIBA LOVERS” (Have Something Out Of Nothing)

Standar

Dalam setiap investasi atau bisnis, kita dihadapkan pada dua hasil, kalau tidak UNTUNG, berarti RUGI ..!

Bagi setiap individu yang waras, pastinya tidak akan menerima prilaku yang tidak berani ambil resiko, ingin cari aman saja, berani untung tak berani rugi”, yang ada pada prilaku rentenir dalam mu’malahnya.

A`isyah Radiallahu’anha meriwayatkan bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam telah bersabda : al-kharaj bi adh-dhomaan. “Hak memperoleh keuntungan (pendapatan/manfaat) adalah imbangan dari liabilitas [kesediaan menanggung kerugian].” (HR Abu Dawud no 3044, At-Tirmidy no 1206, An-Nasa`i no 4414, Ibnu Majah no 2234, Ahmad no 24806). Hadis sahih (Lihat Nashiruddin Al-Albani, Mukhtashar Irwa`ul Ghalil, hadis no 1446).

Dalam kaidah fiqh khusus di bidang mu’amalah atau transaksi (al-qawaid al fiqhiyyah, Islamic legal maxim) yang berbunyi : Al-Ghurmu bi al-ghunmi. “Kesediaan menanggung kerugian diimbangi dengan hak mendapatkan keuntungan.” (Lihat Taqiyuddin An-Nabhani, An-Nizham al-Iqtisahdi fi al-Islam, hal. 190; lihat juga kaidah ini dalam kitab-kitab ushul fiqih seperti : Kasyful Asrar, Juz III hal. 155, Syarah At-Talwih ‘Ala Al-Taudhih, Juz II hal. 391, Al-Mantsur fi Al-Qawaid, Juz II hal. 111, At-Taqrir wa At-Tahbir, Juz III hal. 497, Al-Asybah wa An-Nazha`ir, Juz I hal. 244).

Sikap seseorang yang hanya mau untung tapi tak mau menanggung kerugian atau melemparkan tanggung jawab kerugian kepada pihak lain—amat bertentangan dengan prinsip umum al-kharaj bi al-dhaman di atas. Sebab prinsip ini menegaskan bahwa pihak yang
berhak mendapatkan keuntungan hanyalah pihak yang siap menanggung kerugian. Inilah prinsip umum muamalah yang adil. Maka dari itu, transaksi yang memastikan keuntungan, diharamkan menurut ajaran Islam.
Lanjutkan membaca

Quo Vadis Fatwa DSN No 77 tahun 2010

Standar

Saya membutuhkan waktu yang cukup lama dalam mempertimbangkan apa yang saya harus lakukan untuk merespon kecenderungan terkini dari praktek ekonomi Islam khususnya keuangan dan perbankan syariah yang semakin jauh dari jati dirinya. Kecenderungan itu meliputi apa-apa yang tengah berlangsung di industri dan infrastruktur pendukungnya. Bahwa isu semakin kaburnya batas pemisah antara praktek keuangan syariah dan konvensional sudah menjadi wacana yang ramai didiskusikan pada tingkat global. Namun dengan penetrasi bisnis menuju integrasi pasar keuangan syariah yang semakin kencang, dimana Indonesia juga tidak dapat mengelak dari globalisasi pasar itu, maka mau tidak mau isu tadi juga kini menjadi perhatian stakeholder industri keuangan syariah tanah air. Mencermati ini tentu ada kegundahan dalam hati saya. Lanjutkan membaca

Tentang Dewan Syariah Nasional

Standar

Dengan semakin berkembangnya lembaga-lembaga keuangan syariah di tanah air akhir-akhir ini dan adanya Dewan Pengawas Syariah pada setiap lembaga keuangan, dipandang perlu didirikan Dewan Syariah Nasional yang akan menampung berbagai masalah/kasus yang memerlukan fatwa agar diperoleh kesamaan dalam penanganannya dari masing-masing Dewan Pengawas Syariah yang ada di lembaga keuangan syariah.

Pembentukan Dewan Syariah Nasional merupakan langkah efisiensi dan koordinasi para ulama dalam menanggapi isu-isu yang berhubungan dengan masalah ekonomi/keuangan. Dewan Syariah Nasional diharapkan dapat berfungsi untuk mendorong penerapan ajaran Islam dalam kehidupan ekonomi.
Dewan Syariah Nasional berperan secara pro-aktif dalam menanggapi perkembangan masyarakat Indonesia yang dinamis dalam bidangn ekonomi dan keuangan.

Lanjutkan membaca